Mewarisi Langit Baru Dan Bumi Baru
31 March 2019

Untuk menjadi seorang yang mewarisi langit baru dan bumi yang baru, orang percaya harus belajar melepaskan diri dari segala ikatan. Ikatan yang paling dominan dan bisa menjadi dosa permanen yang tidak bisa dilepaskan sampai selamanya adalah percintaan dunia. Inilah yang dikatakan sebagai “beban” yang merintangi perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya (Ibr. 12:1). Ikatan dengan dunia adalah ikatan yang sudah mendarah daging, yaitu terbangun sejak kecil di lingkungan tradisi orang tua yang menekankan “sukses hidup dalam dunia” atau paling tidak hidup dalam kewajaran seperti manusia lain.

Orang percaya hendaknya tidak menganggap remeh belenggu ini. Kalau tidak ditanggulangi dengan serius, seseorang akan tetap dalam belenggu tersebut. Banyak orang merasa bahwa hal ini bukan bahaya besar. Mereka tidak pernah berjuang dengan sungguh-sungguh melepaskan diri dari ikatan percintaan dunia, maka mereka tidak pernah menjadi pemenang. Sampai tua kebanggaannya adalah harta. Memang hal itu tidak terucap di mulutnya, tetapi terpatri dalam jiwa. Kalau seseorang mengganggap hal melepaskan diri dari ikatan dunia sebagai hal yang mudah ditanggulangi, itu berarti ia tidak pernah berjuang. Mereka pasti sedang dalam tawanan. Banyak rohaniwan yang merasa telah terbebas dari belenggu ini, padahal jabatan sebagai rohaniwannya tidak membuat ia bebas dari belenggu ini. Karena merasa sudah terbebas dari ikatan dunia, maka ia merasa diri sudah rohani padahal masih duniawi. Rohani yang dimaksud di sini adalah tidak lagi menilai materi atau kekayaan sebagai nilai tertinggi kehidupan.

Sejatinya, orang percaya harus memiliki kehidupan yang memiliki perbedaan mencolok dengan mereka yang tidak dipanggil sebagai umat pilihan warga Kerajaan Surga. Orang percaya yang benar akan menjadikan langit baru dan bumi yang baru sebagai tujuan utama kehidupan dan kerinduan yang terbesar. Yang mana hal ini tidak dimiliki oleh anak-anak dunia. Kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Persiapan ini menyangkut kehidupan pribadi kita agar kita diperkenan bertemu dengan Tuhan di awan-awan permai (Kis. 1:11). Ini berarti kita harus mengutamakan perkara-perkara rohani atau yang memiliki nilai kekal. Hal ini dapat dilakukan dengan kesetiaan terus menerus belajar mengenal Allah dan kebenaran-Nya serta melakukan kehendak-Nya.

Betapa bahagianya hidup seseorang yang benar-benar ditujukan kepada Tuhan, sebab hanya dengan berbuat demikian ia mengisi hidup ini secara benar. Inilah keberuntungan di atas segala keberuntungan. Dengan demikian seseorang memiliki arah hidup yang jelas. Memiliki fokus hidup yang benar atau orientasi hidup yang benar (Luk. 4:8). Bila kita memiliki warna atau keadaan hidup seperti ini, maka hidup kita jauh lebih berarti dari seorang tokoh politik, bintang film terkenal manapun. Sebenarnya inilah kehidupan yang didamba oleh semua makhluk hidup. Oleh karena ini hendaknya kita tidak menunda untuk melangkah dan bergerak bersama dengan Tuhan. Ini adalah suatu pola kehidupan yang tidak terlalu sukar dilakukan. Dengan kesungguhan kita dapat memiliki hidup seperti ini. Semua kita dipanggil untuk memiliki jenis kehidupan seperti ini. Bila warna hidup kita tidak seperti ini, berarti kita telah gagal dalam hidup ini. Dan Tuhan tidak menghendaki kegagalan seperti ini.

Dalam kecerdasannya yang melampaui pikiran manusia, Iblis menawarkan segala “kesenangan-kesenangan sesaat.” Dunia ini dipenuhi dengan berbagai kesenangan-kesenangan yang sangat memikat. Kesenangan-kesenangan sesaat tersebut bisa berupa hobi, hasrat memiliki sesuatu benda (jam tangan, mobil, rumah, dan lain sebagainya), fasilitas hiburan, dan lain sebagainya. Kalau hal tersebut benar-benar hanya sesaat dan tidak mengikat, dampaknya akan kecil (tetapi tetap berdampak). Kalau kesenangan-kesenangan sesaat menjadi ikatan, artinya selalu ingin mengulangi terus menerus sehingga menyita waktu, pikiran, perasaan, dan waktu, maka kesenangan sesaat tidak lagi menjadi “kesenangan sesaat,” tetapi kesenangan permanen. Suatu kesenangan yang menjadi permanen dan mengikat adalah berhala.

Pada umumnya orang-orang tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang berbahaya atau mengganggu keselamatan serta hubungannya dengan Tuhan. Tetapi sejatinya, hal itu merupakan cara Iblis memperlemah gairah untuk mencari Tuhan secara proporsional. Memang pada mulanya orang-orang yang terbujuk menikmati kesenangan sesaat tersebut tidak bermaksud hendak mengkhianati Tuhan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ia akan terbelenggu oleh kesenangan-kesenangan tersebut sampai tidak bisa lepas dari jeratnya. Oleh sebab itu, dengan hati yang tulus dan jujur kita memeriksa diri, “Apakah ada kesenangan-kesenangan dalam hidup kita yang mulai menjadi kesenangan permanen sehingga menggeser fokus kita kepada perkara-perkara surgawi?” Jika ternyata memang ada gejala tersebut, kita harus segera melarikan diri dari padanya. Karena bila kita jujur, maka hal inilah yang merusak jiwa kemusafiran kita.