Mesin Anugerah
10 February 2020

Dalam 1 Petrus 4:12, Petrus menulis, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Pada waktu itu, kekristenan baru muncul di abad satu dalam kehidupan orang percaya kepada Yesus. Kekristenan belum memiliki sejarah panjang. Mereka hanya melihat kehidupan Yesus dan rasul-rasul-Nya sebagai pelajaran rohani bagi mereka. Hal ini berbeda dengan gereja-gereja abad 21 yang dapat memperoleh banyak pelajaran rohani dari sejarah kehidupan orang Kristen. Jadi, orang Kristen abad pertama masih harus belajar sendiri dari sejarah hidup mereka dalam mengiring Yesus. Belum pernah dalam sejarah ada model kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus, sebagaimana gaya hidup yang mereka harus jalani.

Pada waktu Petrus menulis suratnya kepada jemaat, gereja sedang mengalami aniaya yang hebat sekali. Penerima surat Petrus adalah generasi kedua setelah murid-murid Yesus. Petrus masih berhadapan langsung dengan Yesus, tetapi generasi berikutnya setelah murid-murid pertama belum tentu sempat berhadapan langsung dengan Yesus. Namun demikian, mereka berani percaya dan menghadapi aniaya yang hebat. Allah mengizinkan hal itu terjadi. Walau mereka belum pernah melihat sejarah kehidupan manusia seperti yang mereka jalani, mereka tetap percaya kepada Tuhan dan kepada para pemimpin rohani mereka yang gigih dalam mempertahankan iman.

Allah mengizinkan gereja mengalami penganiayaan yang hebat dengan maksud agar situasi itu mendongkrak mereka untuk mencapai standar atau level kehidupan rohani yang dikendaki oleh Allah. Seperti gereja mula-mula mengalami aniaya untuk “mendongkrak” mereka mencapai level sebagai orang percaya yang benar, demikian pula di dunia kita hari ini yang sangat fasik. Bagi mereka yang mengasihi Allah, Allah memberikan fasilitas dimana orang percaya bisa mengalami kenaikan level kehidupan rohani yang baik guna memenuhi standar sebagai orang percaya yang benar di hadapan Allah. Untuk ini, Allah mengizinkan berbagai peristiwa hidup dialami orang percaya agar mencapai standar atau level kehidupan rohani yang benar di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi segala keadaan yang kita jalani, kita harus menemukan maksud Allah mengizinkan keadaan tersebut terjadi di dalam hidup kita. Kalau kita merasa tidak nyaman dalam satu situasi kehidupan, kita harus tetap percaya bahwa ada maksud besar Allah di balik semua peristiwa hidup yang kita alami. Inilah anugerah Allah bagi orang percaya yang mengasihi Dia. Jadi, anugerah Allah tidak hanya berhenti sampai di Golgota, tetapi anugerah Allah juga berlangsung terus dalam kehidupan semua umat pilihan yang mengasihi Dia di sepanjang zaman dan di segala tempat. Tindakan Allah dalam membentuk orang percaya menjadi manusia yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus dapat digambarkan seperti mesin anugerah dalam kehidupan orang percaya.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala perkara mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Maksud pernyataan itu adalah bahwa Allah memproses orang percaya yang mengasihi Dia menjadi serupa dengan Yesus. Jadi, kata “kebaikan” memuat anugerah, yaitu “serupa dengan Yesus.” Inilah yang disebut dalam tulisan ini (istilah yang digunakan penulis) sebagai “mesin anugerah.” Jadi, mesin anugerah Allah itu berjalan terus dalam hidup kita sepanjang umur hidup kita sampai kita menutup mata, selama kita meresponi anugerah Allah, yaitu pembentukan-Nya dalam hidup kita.

Mesin anugerah yang bekerja di dalam hidup kita guna mengubah kita menjadi serupa dengan Kristus adalah pemberian yang tidak ternilai harganya. Kalau di dunia ini, orangtua yang menyekolahkan anaknya di universitas terkemuka dunia harus membayar mahal. Sehingga hanya orangtua yang mampu secaya finansial yang dapat mengirimkan anak-anak mereka ke universitas-universitas ternama tersebut. Tentu tidak semua orangtua dapat melakukannya. Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memiliki anugerah sebagai umat pilihan yang diberi kesempatan untuk menjalani “sekolah kehidupan” yang dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus.

Kita tidak dapat membayar harga “sekolah kehidupan” itu, hanya Allah Bapa melalui Yesus Kristus yang dapat membayar harganya. Oleh sebab itu, kita harus menghargai dan memanfaatkan anugerah Allah yang begitu besar, yaitu mesin anugerah yang mengubah hidup kita. Jadi, Allah memberikan mesin anugerah bagi kita melalui pengorbanan Putra Tunggal-Nya. Ibarat sebuah universitas, Allah memasukkan kita ke sebuah universitas terbaik karena Dia sendiri yang menjadi dosennya. Menjadi persoalan kita sekarang adalah apakah kita memberi diri untuk digarap oleh Allah atau tidak. Jadi, mesin anugerah dan penggarapan Allah itu memiliki maksud kekal bagi kita.