Meremehkan Bapa Dan Tuhan Yesus
29 January 2019

Tanpa disadari, ternyata banyak orang -termasuk di dalamnya orang Kristen- memiliki sikap meremehkan Bapa dan Tuhan Yesus, atau tidak menghormati Elohim Yahweh secara patut. Mereka tidak menyadari sama sekali karena kebodohan pikiran mereka, berhubung tidak mengenal kebenaran atau mata hati mereka telah tumpul sehingga tidak memahami keadaan sebenarnya hidup mereka di hadapan Tuhan. Dunia telah membuat mereka tidak memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana menghormati Tuhan secara patut. Bila keadaan ini berlarut-larut atau berkepanjangan, maka mereka akan sampai pada tahap menghujat Roh Kudus, dimana mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbalik kepada Tuhan. Hal ini bukan karena tidak adanya kesempatan -dalam arti Tuhan mencabut kesempatan tersebut- tetapi mereka tidak lagi memiliki kesanggupan untuk bertobat atau berbalik kepada Tuhan.

Ruangan atau wilayah hati mereka telah diduduki banyak hal sehingga tidak lagi memiliki tempat berpijak bagi kebenaran. Keadaan orang Kristen seperti itu tidak memberi tempat bagi Tuhan untuk menguasai hidupnya. Tidak memberi tempat bagi Bapa dan Tuhan Yesus di dalam kehidupan ini, sudah merupakan tindakan yang meremehkan Bapa dan Tuhan Yesus. Sudah tentu ruangan dan wilayah hidup mereka diisi oleh banyak hal yang tidak memberi peluang Tuhan menguasai hidup orang tersebut. Mereka merasa berbuat demikian, sebab mereka belum menyadari, tidak mengerti atau tidak bersedia menerima bahwa sebenarnya segenap hidup mereka adalah milik Tuhan.

Orang-orang Kristen seperti di atas ini bukan berarti menjadi bejat tidak bermoral, tidak beradab, dan tidak memiliki kesantunan hidup. Mereka masih hidup sebagai anggota masyarakat dan anggota gereja yang baik. Di mata manusia mereka masih bisa berlaku sebagai orang yang bermoral baik, beretika uhur, santun, bahkan bisa dipandang rohani, karena mereka ke gereja sebagai anggota gereja yang setia, menjadi aktivis, bahkan bukan tidak mungkin menjadi pejabat sinode. Di mata manusia mereka orang-orang yang dianggap pantas masuk ke dalam Kerajaan Surga. Tetapi sejatinya, mereka adalah orang-orang yang masih meremehkan Tuhan, yaitu ketika mereka tidak sungguh-sungguh untuk menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.

Orang-orang Kristen seperti itu -walau rajin ke gereja, mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan bahkan menjadi pejabat sinode- selain tidak sungguh-sungguh berusaha untuk mencapai kesucian Tuhan atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela, mereka juga masih mengharapkan bisa dibahagiakan oleh dunia ini. Sebenarnya hati mereka masih mendua. Tidak sedikit mereka ke gereja hanya untuk memperoleh jalan kemudahan hidup di bumi dan memperoleh berkat, perlindungan, serta segala kebaikan untuk kehidupan di bumi sekarang ini. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, tidak jarang yang masih memanfaatkan kesempatan melayani pekerjaan Tuhan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tentu saja hal ini tidak mudah dikenali atau dilihat oleh sesamanya. Apalagi kalau mereka sudah lama dalam ladang pelayanan gerejani, mereka sangat cakap memanfaatkan segala kesempatan untuk kepentingan diri sendiri, bukan sepenuhnya untuk kepentingan Tuhan.

Bisa dipastikan orang-orang Kristen seperti ini masih menolerir kehidupan yang belum tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah. Mereka masih membangun sebagian Firdaus di bumi, atau sepenuhnya membangun Firdaus di bumi. Mereka tidak memiliki kerinduan yang bulat untuk bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Sebenarnya hati mereka masih tertambat di dunia ini. Kekayaan Kerajaan Surga tidak dipandang sebagai lebih mulia dari segala kekayaan di bumi ini. Bisa dipastikan sebenarnya mereka tidak pernah bisa menghayati bahwa rumah orang percaya bukan di bumi ini, tetapi di langit baru dan bumi yang baru. Tentu saja mereka tidak siap sepenuhnya kalau dipanggil pulang oleh Tuhan. Tidak mungkin orang-orang seperti ini bisa “all out” bagi Tuhan.

Biasanya orang-orang Kristen seperti yang dikemukakan di atas ini belum berkeadaan sebagai anggota keluarga Kerajaan. Sangat mungkin mereka belum berkeadaan sebagai anak-anak Allah yang sah. Jadi, masih berkeadaan sebagai anak Allah yang belum atau tidak sah (nothos). Tidak heran kalau mereka menghadapi persoalan-persoalan atau masalah-masalah hidup, mereka tidak berusaha untuk menemukan bagian mana dalam hidup mereka yang sedang digarap Tuhan guna mengalami pertumbuhan iman menuju kesempurnaan, tetapi mereka masih sibuk mencari jalan keluarnya. Bila mereka bertemu pendeta atau orang yang mengaku hamba Tuhan, maka pendeta itu akan mendoakan dan menjanjikan atau paling tidak memberi kesan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar segera. Seakan-akan Tuhan tidak menyukai mereka mengalami masalah tersebut. Padahal justru Tuhan yang menghendaki keadaan tersebut, sebab mereka hendak dijadikan anak Alah yang sah (huios) agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:7-10).