Menyenangkan Hati Allah
13 October 2019

Kehidupan seseorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan yang dalam segala hal menyenangkan hati Allah Bapa. Dengan demikian, ciri dari seorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah menyenangkan hati Allah Bapa. Untuk menyenangkan hati Allah Bapa, seseorang harus selalu memperkarakan segala sesuatu yang yang dilakukan dengan mempertimbangkan apakah sesuatu yang dilakukan itu benar-benar menyenangkan hati Bapa atau sebaliknya, mendukakan hati-Nya. Kalau orang percaya memberi diri untuk diselidiki oleh Allah, berarti ia bersedia introspeksi diri atau mengoreksi diri dengan sungguh-sungguh dalam pimpinan Roh Kudus; apakah ada sesuatu dalam hidupnya yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Mengenali keadaan diri sendiri sesungguhnya tidak mudah. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh berusaha mengenali diri dengan mohon pimpinan Roh Kudus, maka ia gagal mengenali dirinya dengan benar. Allah yang sangat baik, berkenan menunjukkan kepada orang percaya hal-hal dalam hidupnya yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ibarat anak sekolah, Tuhan berkenan menunjukkan “rapor bayangan” agar sebelum diperhadapkan di pengadilan, orang percaya mengenali dirinya dengan benar.

Menyenangkan hati Allah Bapa sebenarnya merupakan pelayanan yang sesungguhnya kepada Allah. Dengan demikian, seseorang barulah dapat memuliakan Allah dalam segala hal (1Kor. 10:31). Memuliakan Allah artinya menghormati Allah dimana dengan dan melalui segala tindakan yang dilakukan menunjukkan bahwa Allah terhormat. Jadi, penghormatan tersebut tidak hanya dalam nyanyian dan pujian dalam liturgi, tetapi dalam bentuk tindakan dimana segala sesuatu yang dilakukan selalu menyenangkan atau memuaskan hati Allah Bapa. Inilah kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kehidupan seperti ini adalah persembahan yang berkenan di hadapan Allah dan yang bernilai kekal. Sejatinya, persembahan hidup kepada Allah bukan sekadar pergi ke gereja pada hari Minggu, memberi persepuluhan, atau melakukan kegiatan pelayanan. Bahkan tidak cukup menjadi full-timer gereja atau menjadi pendeta, tetapi segala sesuatu yang dilakukan yang dapat menyenangkan hati Allah Bapa adalah persembahan yang berbau harum lebih dari persembahan apa pun. Kalau seseorang hendak membuat hidupnya penuh keharuman di hadapan Allah Bapa, maka segala tindakannya tidak boleh melukai hati Bapa. Dengan cara inilah seseorang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.

Di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus nanti, tidak boleh ada tindakan yang melukai hati Bapa sama sekali. Sebab Kerajaan tersebut milik Allah Bapa. Seharusnya, warna kehidupan seperti ini sudah diselenggarakan sejak masih di bumi hari ini. Dunia hari ini juga bagian dari Kerajaan Allah, artinya permulaan dari kehidupan panjang yang tidak berakhir di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, sejatinya tidak ada daerah “netral” di mana orang percaya boleh berbuat sesuka hatinya sendiri. Oleh karenanya dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan pola hidup, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Doa Bapa Kami bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dilakukan. Kehidupan di langit baru dan bumi yang baru nanti adalah kehidupan yang menerjemahkan Doa Bapa Kami dalam kehidupan setiap hari secara sempurna. Itulah sebabnya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus dimulai dari sekarang. Dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan secara konkret, maka seseorang belajar untuk bukan saja memiliki “keyakinan dalam pikiran” bahwa suatu hari diterima di kemah abadi, tetapi juga “menghayati dari pengalaman” dalam kepastian bahwa suatu hari dirinya akan di kemah abadi.

Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah paralel dengan kesaksian Paulus, bahwa baik sementara diam di dalam tubuh di bumi ini maupun di luarnya ia berusaha berkenan (2Kor. 5:9). Berkenan artinya dalam segala hal yang dilakukan dan di mana pun selalu menyenangkan hati Allah Bapa. Kalau hidup berkenan kepada Allah sungguh-sungguh menjadi tujuan satu-satunya dalam hidup ini, maka seseorang barulah menemukan perhentian (Rm. 11:28-29). Perhentian bukan bukan berarti semua masalah selesai atau berhenti. Perhentian di sini berarti hati yang sudah tidak lagi tertarik terhadap keindahan dunia ini dengan segala hiburannya. Dengan demikian goal atau tujuan hidupnya hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya. Selama masih memiliki banyak goal atau tujuan dalam kehidupan, maka seseorang akan selalu bergerak mencari kepuasan dunia dan ujungnya adalah api kekal. Inilah yang diupayakan oleh Iblis agar manusia menghargai sesuatu lebih dari Tuhan. Goal atau tujuan hidup orang percaya satu-satunya haruslah hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dengan tindakan ini, berarti seseorang menyelenggarakan pemerintahan Allah yang sama dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.