Menyangkal Diri
21 April 2017

Manusia sedang mengalami krisis gambar diri. Konsep gambar diri setiap orang dibangun dari apa yang dilihat, didengar dan dialami sejak masa kanak-kanak. Padahal yang dilihat, didengar dan dialami seseorang belum tentu membawanya kepada gambar diri yang dikehendaki Tuhan. Ternyata bukan hanya pengalaman yang menyakitkan atau yang dianggap negatif yang dapat merusak gambar diri, tetapi pengalaman hidup yang serba nikmat dan nyaman pun (yang dianggap positif) dapat menjadi pemicu rusaknya gambar diri seseorang.

Justru kadang-kadang keadaan nyaman, terhormat dan kaya mengkondisikan seseorang lebih sukar masuk Kerajaan Surga. Ini sama dengan kondisi di mana seseorang tidak mudah untuk diubahkan. Ceramah mengenai gambar diri sering mengkambinghitamkan keadaan negatif sebagai kausalitas prima (penyebab utama) rusaknya gambar diri, tetapi mereka tidak melihat potensi keadaan positifpun bisa menjadi kausalitas rusaknya gambar diri.

Kesalahan beberapa gereja selama ini adalah tidak membongkar konsep-konsep mengenai kehidupan yang telah dipahami oleh jemaat, yaitu mengenai gambar diri yang salah. Malah sebaliknya, gereja berusaha untuk membantu mewujudkan apa yang dipahami sebagai keberhasilan, kemenangan, hidup yang berkelimpahan dan diberkati dan lain sebagainya dalam kehidupan jemaat. Tentu untuk ini Tuhan dijadikan alat untuk mencapainya. Jemaat dilatih untuk mengembangkan self esteem yang bertentangan dengan rencana pemulihan gambar diri. Akibatnya jemaat bukan semakin menemukan gambar dirinya, tetapi semakin sesat dan jauh dari peta gambar diri yang Tuhan kehendaki. Seperti misalnya, keadaan hidup yang tidak bermasalah dianggap sebagai berkemenangan.

Kegagalan mengenal diri bersumber kepada satu hal saja yaitu tidak mengenal kebenaran Tuhan. Pengalaman hidup dan lain sebagainya tidak menjadi pemicu yang berarti untuk itu (walaupun memiliki pengaruh juga). Banyak pembicaraan mengenai gambar diri yang sering mengkambinghitamkan pengalaman masa lalu sebagai kausalitas rusaknya gambar diri, tetapi sebenarnya pengalaman apa pun dapat merusak gambar diri seseorang. Dalam hal ini, bukan pengalaman hidup yang harus dipersalahkan, tetapi bagaimana seseorang menyikapi pengalaman hidup tersebut. Dunia yang fasik tanpa disadari telah membangun gambar diri yang salah dalam kehidupan setiap individu.

Untuk mengembalikan gambar diri, seseorang harus bersedia menyangkal diri (Mat. 16:24). Menyangkal diri adalah kesediaan untuk membuang konsep dan segala asumsinya mengenai kehidupan ini; asumsi mengenai keberhasilan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Seperti yang telah dijelaskan bahwa konsep mengenai kehidupan sangat memengaruhi seseorang membangun gambar dirinya. Hanya dengan penyangkalan diri maka gambar diri yang salah bisa diganti. Penyangkalan diri artinya bersedia menanggalkan gambar diri yang salah yang tertanam dalam benaknya. Gambar diri ini diperoleh dari apa yang didengar dan dilihat pada orang tua dan lingkungannya. Semua itu membangun konsep gambar diri seseorang.

Selama ini yang dipahami sebagai penyangkalan diri adalah sikap yang menolak perbuatan salah yang dikategorikan sebagai pelanggaran moral, dan kesediaan melakukan hukum yang dianggap sebagai standar moral. Ini sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai penyangkalan diri, tetapi hanya sebuah pertarakan. Penyangkalan diri adalah sikap yang menolak semua filosofi hidup yang dipahami oleh orang tua dan lingkungan, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan terhadap filosofi yang kelihatannya baik, santun, beradab dan tidak menyalahi hukum secara umum. Kita harus memiliki prinsip bahwa kehidupan tidak seperti Yesus bukanlah gambar diri yang benar.

Filosofi hidup yang diwariskan kepada kita pada umumnya adalah perjuangan untuk meraih keberhasilan melalui sekolah, kuliah, berkarir, berdagang, mencari nafkah dengan berbagai profesi, menikah, mempunyai anak, membesarkan anak, mencari menantu, ikut membesarkan cucu dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan untuk meraih apa yang disebut sebagai keberhasilan atau paling tidak sebuah kelayakan atau kewajaran hidup. Sesungguhnya, anak-anak Allah dipanggil untuk mengabdi kepada Tuhan. Baik makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31). Anak Anak Allah memang harus sekolah, kuliah, berkarir, bisnis, menikah dan lain sebagainya, tetapi semua itu harus dilakukan bagi Tuhan yang telah menebus kita dan membeli kita dengan darah-Nya.