Menolak Kebaikan Tuhan
20 February 2019

Satu hal yang harus selalu disadari orang percaya dan mencengkeram jiwanya adalah tanggung jawab untuk menjalani hidup Kekristenannya dengan tujuan yang jelas. Tujuan tersebut adalah bagaimana menjadi anak-anak Allah yang dilayakkan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Hal ini menjadi isi dan panggilan hidup orang percaya yang tidak boleh digantikan dengan yang lain. Untuk menjadi hal ini seseorang harus berjuang dengan mengerahkan seluruh potensi di dalam dirinya. Keadaan kekekalan seseorang ditentukan bagaimana ia mengisi hari hidupnya.

Ada sekelompok orang Kristen yang meyakini bahwa kalau Allah memilih seseorang untuk diselamatkan, maka orang tersebut tidak bisa menolak pemilihan atau anugerah yang Tuhan berikan (irresistible grace). Apakah benar kalau Allah memilih seseorang, maka orang itu tidak bisa menolak? Seakan-akan manusia itu terkunci oleh suatu dekrit atau ketetapan Tuhan. Menemukan jawaban dari pertanyaan ini, marilah kita memeriksa dengan teliti dan jujur isi Alkitab. Dalam menggali isi Alkitab berkenaan dengan pokok ini hendaknya pikiran bersikap netral, tidak terwarnai oleh warna teologi yang sudah ada. Jika pikiran sudah terwarnai sampai tersandera oleh suatu pandangan teologi -sehingga sampai tidak bisa berpikir obyektif- maka dalam hal ini Roh Kudus tidak akan bisa menuntun dan memperbaharui pikiran seseorang tersebut secara proporsional.

Kalau Tuhan membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka berarti pula Tuhan menentukan orang-orang tertentu yang tidak bisa menerima anugerah-Nya, yaitu mereka yang ditentukan pasti binasa. Sebab berbicara mengenai kedaulatan Alah yang membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka pasti ada orang yang berkeadaan sebaliknya. Pandangan ini menciderai Pribadi Allah, sebab Allah dituduh bersikap diskriminatif, tidak adil dan menginginkan kebinasaan sebagian manusia. Dan kalau diperhatikan keadaan manusia hari ini, bagian manusia yang akan binasa adalah bagian terbesar. Bagian terbanyak manusia yang hidup adalah orang-orang yang terkunci dalam dekrit atau ketetapan untuk binasa masuk neraka. Betapa jahatnya allah seperti itu. Tentu sebenarnya tidak demikian. Itu pandangan yang sangat keliru.

Dalam kedaulatan manusia yang memiliki independensi, manusia memiliki hak dan kemampuan untuk menolak kasih karunia. Diawali tindakan Adam menolak nasihat atau tuntunan Tuhan untuk tidak makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat di taman Eden (Kej. 3). Tentu Adam tidak dirancang untuk makan buah yang terlarang tersebut. Adam dalam independensinya bertindak sesuai dengan kehendak bebasnya, ia makan buah yang sebenarnya bisa dihindari untuk dimakan. Akibat kesalahan Adam dan Hawa mereka membuat bumi terkutuk, mereka menjadi orang terhukum sampai pada kematian dan diusir dari taman Eden. Mereka tidak lagi menikmati keindahan ciptaan Tuhan secara proporsional. Tentu semua ini bukan dalam skenario Allah.

Demikian pula dengan kisah Kain. Kain menolak untuk tidak membunuh adiknya Habel, walaupun Allah sudah memberi peringatan kepadanya (Kej. 4). Sebenarnya Kain bisa menolak dosa yang menguasainya, tetapi ia lebih memilih dikuasai dosa dan menuruti hasratnya. Kain tidak dirancang untuk melakukan pembunuhan tersebut. Dengan kehendak bebasnya, Kain membiarkan hatinya menjadi panas sehingga pembunuhan tersebut terjadi. Akibat perbuatannya tersebut Kain menjadi seorang yang terhukum. Tuhan Berfirman: “…terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi” (Kej. 4:11-12). Tragis sekali. Tuhan tidak merancang keadaan tragis tersebut atas hidup Kain. Kain menolak apa yang baik yang disediakan baginya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia bisa menolak kebaikan Tuhan.

Allah tidak menghendaki kejatuhan manusia ke dalam dosa. Itulah sebabnya Allah memberi peringatan kepada manusia agar tidak mengkonsumsi buah pengetahun tentang yang baik dan jahat, agar manusia tidak mati. Kehidupan di taman Eden adalah berkat kebaikan Tuhan yang sama dengan kasih karunia, namun Adam memilih keluar dari taman itu. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dapat menolak kebaikan Tuhan. Fakta ini bukan bermaksud membuat orang percaya menjadi gusar dan tidak memiliki kepastian keselamatan, tetapi membuat orang percaya untuk bertanggung jawab atas keselamatan yang disediakan atau diberikan oleh Tuhan. Lagi pula, kepastian keselematan tidak boleh hanya dibangun oleh keyakinan, tetapi dibangun dari pergaulan pribadi dengan Tuhan setiap hari, sehingga benar-benar menjadi seorang yang layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.