Menolak Anugerah
28 February 2019

Fakta yang tidak bisa dibantah dalam kehidupan ini, bahwa Tuhan bisa mengerat atau memotong orang-orang atau bangsa yang telah dipilih oleh Tuhan. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa orang yang terpilih sebagai “umat pilihan” belum tentu pasti masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau sebagai pemenang. Ada umat yang terpilih sebagai umat pilihan -seperti bangsa Israel- tetapi tidak semua terberkati dan menikmati berkat sebagai umat pilihan, seperti misalnya tidak semua orang yang keluar dari Mesir sampai di tanah Kanaan. Demikian pula tidak semua orang yang terpilih sebagai orang Kristen, mendengar Injil, pergi ke gereja dan melakukan kegiatan pelayanan, pasti masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga atau menjadi anak-anak Allah seperti Tuhan Yesus.

Dalam hal tersebut di atas bukan Allah yang menolak bangsa Israel, tetapi bangsa Israellah yang menolak Allah. Dalam Roma 11: 1, tertulis: “Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.” Perhatikan dalam teks ini bahwa Allah tidak mungkin menolak umat-Nya. Firman Tuhan tegas berkata “sekali-kali tidak.” Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Allah menolak umat-Nya dengan menutup kemungkinan seseorang dapat menerima anugerah-Nya? Bagaimana bisa kita menerima pandangan bahwa Allah menentukan orang yang selamat dan yang lain binasa? Oleh sebab itu kita harus kembali kepada pandangan Alkitab, bukan pandangan atau teologi manusia yang diakui sebagai pandangan Alkitab.

Paulus sebagai salah satu dari bangsa Israel menyatakan bahwa dirinya tidak menolak kasih karunia Allah: “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal. 2:21). Hal itu dimaksudkan Paulus untuk menyatakan bahwa ia tidak menolak kasih karunia, bukan karena Tuhan yang membuat dirinya tidak bisa menolak kasih karunia, tetapi karena ia menerima kebenaran dan iman bukan karena melakukan hukum Taurat. Paulus menerima anugerah atau kasih karunia karena tahu dan meyakini bahwa tidak ada kebenaran dengan melakukan hukum Taurat. Kebenaran hanya oleh darah Tuhan Yesus. Penerimaan Paulus atas anugerah Tuhan juga didasarkan pada pengertian dari pertimbangan-pertimbangannya. Dalam hal ini betapa pentingnya pemberitaan Injil, sebab iman datang dari pendengaran oleh Firman Tuhan.

Bangsa Israel adalah umat pilihan darah daging berdasarkan nenek moyang mereka. Pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan tidak bertalian langsung dengan keselamatan masing-masing individu. Tetapi penolakan mereka terhadap Mesias mengakibatkan mereka tidak menjadi umat pilihan dalam keselamatan kekal. Ini berarti mereka menghadapi ancaman kematian kekal atau neraka. Selanjutnya, kalau orang percaya tidak dengar-dengaran, maka Tuhan pun akan menolaknya, sebab orang yang menolak hidup tidak bercacat dan tidak bercela berarti menolak Allah (1Tes. 4:7-8).

Kebenaran di atas ini diteguhkan oleh Firman Tuhan dalam Roma 11:17-24. Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa kalau cabang asli -yaitu bangsa Israel- bisa dipotong, demikian pula dengan batang cangkokan, yaitu orang Kristen dari berbagai suku bangsa. Di ayat 22 tertulis: Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga. Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa kehidupan bangsa Israel paralel (atau gambaran secara tipologis) dengan kehidupan orang percaya di zaman anugerah atau bangsa Israel menjadi gambaran kehidupan orang percaya. Sebagaimana Tuhan mengerat bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran, maka Tuhan juga mengerat orang Kristen yang tidak dengar-dengaran. Dalam tulisan Paulus itu ia juga menyatakan: “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu” (Rm. 11:21). Kamu di sini adalah penerima surat Roma, tak lain dan tak bukan adalah orang Kristen di Roma (Rm. 1:7)

Dalam tulisannya ini Paulus mengatakan: Kamu pun akan dipotong juga. Hal ini menunjukkan kebenaran yang tidak dapat dibantah bahwa orang yang sudah dipilih menjadi umat pilihan belum tentu terpilih menjadi umat pilihan yang benar-benar selamat diperkenan masuk anggota keluarga Kerajaan Surga. Allah menyediakan keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, tetapi kalau seseorang menolak keselamatan itu yang dikalimatkan “menganggap najis darah perjanjian yang menguduskan dan menghina Roh Kudus,” maka mereka akan binasa. Tuhan pasti menghukum mereka. Itulah sebabnya penulis surat Ibrani menasihati orang percaya: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari surga?” (Ibr. 12:25).