Menjual Nama Yesus Dengan Persepuluhan
22 December 2017

Di kalangan gereja-gereja Kharismatik dan Pentakosta, persembahan persepuluhan merupakan pilar penting untuk menopang pelayanan. Oleh sebab itu, dengan segala cara gereja dan para pembicaranya (hamba Tuhan atau pendeta) memodifikasi khotbah dan pengajaran mengenai persepuluhan agar jemaat menyerahkan persepuluhan sebagai kewajiban yang tidak boleh tidak dilakukan setiap bulan. Pernyataan ini bukan bermaksud menentang persepuluhan. Tetapi, kita harus menempatkan persepuluhan secara proporsional dalam kehidupan umat pilihan Perjanjian Baru. Untuk ini secara sekilas kita memahami apa sebenarnya persepuluhan itu.

Persepuluhan yang dipraktikkan di Israel adalah praktik yang diselenggarakan pada masyarakat “theokrasi”, di mana hukum Taurat yang ketat diselenggarakan dalam hidup umat Israel. Hukum Taurat mengatur hidup bukan hanya umat, tetapi juga para imam. Penyelenggaraan atau pengelolaan persembahan persepuluhan dilaksanakan dengan aturan yang jelas, tentu juga transparan berdasarkan Taurat Yahudi yang sangat kompleks. Persepuluhan yang mereka bawa kepada Tuhan adalah hasil bumi mereka untuk berbagai objek yang menerima persepuluhan itu antara lain: persepuluhan untuk Bait Suci, untuk orang Lewi, untuk pesta pondok Daud, untuk anak yatim piatu, dan orang asing yang tidak mampu.

Ketika bangsa Israel menaklukkan Kanaan, Tuhan membagi tanah-tanah taklukan itu untuk semua suku Israel, kecuali suku Lewi (Ul. 14:27-29; Bil. 18:24; Ibr. 7:5). Suku ini diberi perlakuan berbeda oleh Tuhan. Mereka dijadikan pelayan-pelayan di Bait Allah dan menyelenggarakan ritual dalam rumah Tuhan. Sehingga, mereka tidak bekerja seperti suku-suku lainnya. Kehidupan mereka ditopang oleh persepuluhan yang diberikan suku-suku Israel lainnya yang bekerja dalam sektor agraria dan peternakan. Ini sebuah “keadilan sosial” bagi seluruh bangsa Israel. Tuhan sangat bijaksana mengatur keadilan sosial tersebut.

Dalam kehidupan gereja Tuhan yang tidak theokrasi, yaitu ketika seorang rohaniwan terjerat oleh percintaan dunia, persepuluhan menjadi senjata Iblis membunuh kehidupan iman, yaitu kehidupan iman rohaniwan tersebut. Hal ini harus disadari oleh para rohaniwan yang merasa memiliki hak mutlak mengelola persepuluhan tanpa kontrol siapapun. Oleh karena tidak ada peraturan yang jelas dalam pengelolaan persembahan persepuluhan ini di gereja, maka beberapa pemimpin jemaat dengan semena-mena menggunakan berdasarkan “manajemen pribadi”. Akibatnya, tujuan persembahan jemaat menjadi meleset. Hal ini sangat merugikan perkembangan pekerjaan Tuhan dan kehidupan rohani. Tentu, untuk pengumpulannya mereka menggunakan nama Tuhan agar jemaat “gentar” kalau tidak membayarnya.

Di pihak lain, bisa terjadi kemungkinan keluarga pendeta tergoda untuk menggunakan persepuluhan sembarangan. Seakan-akan gereja adalah sebuah kerajaan dan gembala sidang sebagai rajanya serta keluarga pendeta adalah keluarga kerajaan. Seolah-olah semua kekayaan kerajaan berhak mereka nikmati secara mutlak. Padahal, seharusnya penggunaan persepuluhan harus dalam kontrol beberapa atau banyak hamba Tuhan yang dapat dipercayai Tuhan dengan sistem audit yang tertib dan jujur.

Ini yang membuat keluarga pendeta menjadi jutawan atau milyarder, sementara kepentingan pekerjaan Tuhan dapat terabaikan. Kepentingan pekerjaan Tuhan antara lain pelebaran penginjilan, bantuan kepada kaum miskin, dan lain sebagainya. Sangat tidak adil kalau seorang pendeta mengklaim bahwa persepuluhan adalah haknya. Atas dasar apakah tuntutan tersebut kalau bukan atas dasar keserakahan dan naluriah “dilayani”, bukan melayani. Kalau mereka beralasan bahwa seorang rohaniwan adalah seorang imam atau semacam golongan Lewi yang berhak menerima persepuluhan, benarkah hal ini? Bukankah semua orang percaya adalah imamat-imamat yang rajani (1Ptr. 2:9). Dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi sistem jabatan imam seperti dalam Perjanjian Lama. Jadi, persepuluhan yang menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan yang dihubungkan dengan jabatan keimaman juga sudah berubah sama sekali pada zaman Perjanjian Baru.

Demikian pula dalam hal memberi persepuluhan, jemaat harus menyadari bahwa mereka mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan untuk kepentingan-Nya semata-mata. Hendaknya jemaat tidak memberi sepersepuluh yang diakui sebagai milik Tuhan, sedangkan yang lain (90%) diakui sebagai milik pribadi bukan milik Tuhan. Kalau ada pertanyaan: apakah perlu memberi persepuluhan? Maka jawabnya adalah mutlak “ya”. Tetapi harus dengan pengertian bahwa persepuluhan adalah milik Tuhan, demikian juga yang sembilan puluh persen. Kalau ada angka sepersepuluh dalam Alkitab, baiklah kita menggunakan itu untuk belajar mengembalikan sebagian kecil milik Tuhan.