Menjual Diri
20 February 2017

Sebenarnya banyak orang yang telah tercengkeram oleh kuku-kuku kuat kuasa kegelapan sehingga kehidupannya dikuasai oleh kuasa jahat. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam kekuasaan kuasa kegelapan. Apalagi kalau mereka rajin ke gereja, ikut mengambil bagian dalam pelayanan bahkan diangkat sebagai aktivis gereja, maka mereka mudah sekali tertipu oleh dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang telah yakin dan merasa sebagai hamba Tuhan yang benar, padahal belum tentu telah diakui sebagai hamba-Nya. Pengakuan sebagai hamba Tuhan harus berangkat dari Allah, bukan dari manusia yang dalam hal ini diwakili oleh sinode. Seseorang bisa disahkan sebagai pendeta, atau pejabat sinode dan dengan lantang mengakui dirinya sebagai hamba Allah, tetapi bagaimana pengakuan dari Allah? Dalam hal ini setiap pendeta harus sungguh-sungguh memperkarakannya.

Banyak pendeta yang sudah bisa mengusir setan dan mengadakan mukjizat, merasa dirinya sudah dapat bebas dari cengkeraman kuasa kegelapan. Mereka bisa mengusir setan yang secara fisik atau secara kasat mata menguasai seseorang, tetapi mereka tidak menyadari adanya belenggu dalam jiwanya sendiri. Biasanya belenggu itu menyangkut masalah uang, nafsu libido dan kehormatan dalam gereja. Tidak heran jika ada pendeta-pendeta yang hebat di mata manusia ternyata masih dalam ikatan dosa yang memalukan. Barangkali secara moral umum mereka tidak terlibat dalam perzinaan, penggelapan uang dan pertikaian fisik dengan pendeta lain, tetapi sebenarnya mereka mengingini perkara-perkara tersebut (harta dan takhta). Dengan sangat halus, cerdik dan terselubung mereka mengingininya sebagai sesuatu yang dirasakan sebagai dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang nantinya akan ditolak oleh Tuhan Yesus.

Banyak hamba Tuhan dan orang Kristen tidak sadar bahwa ia telah menjual dirinya kepada kuasa kegelapan. Bilamana hal ini bisa terjadi? Hal ini terjadi ketika seseorang mengingini segala sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki untuk diingini. Barangkali yang diingini bukan sesuatu yang salah di mata manusia dan tidak melanggar moral umum. Tetapi kalau hal itu tidak dikehendaki oleh Tuhan untuk diingini, berarti sebuah pelanggaran. Harus diingat ketika kita menerima penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti segenap hidup kita termasuk pikiran, perasaan dan kehendak telah dimiliki oleh Tuhan. Kita tidak berhak mengingini sesuatu yang tidak dikehendaki atau tidak diingini oleh Tuhan.

Dengan mengingini sesuatu, maka jiwa hati seseorang terarah kepada apa yang diinginkan tersebut. Bila yang diinginkan tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan, maka berarti ia menolak melayani Tuhan. Menolak melayani Tuhan artinya tidak melayani keinginan-Nya atau selera Tuhan. Ini adalah sikap pemberontakan kepada Tuhan. Orang yang memberontak kepada Tuhan berarti menghamba kepada Iblis. Jadi, apa yang diingini seseorang itulah yang memberi arah kepada siapa seseorang memberi diri dikuasai atau dibelenggu.

Manusia diciptakan harus sepenuhnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan dimulai dari pemurnian hasrat atau keinginan. Kegiatan gereja seharusnya merupakan pembinaan atau arahan agar jemaat tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan sebagai Pencipta dan pemilik kehidupan ini. Dengan cara bagaimanakah seseorang tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan? Yaitu bila seseorang berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Jemaat Tuhan harus belajar untuk tidak mengingini apa yang Tuhan kehendaki untuk tidak diingini umat-Nya. Perjalanan hidup ini adalah perjalanan mengingini apa yang Tuhan ingini dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan seorang yang telah mati bagi diri sendiri tetapi hidup untuk kemuliaan-Nya (2Kor. 5:14-15).

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita suatu filosofi hidup yang berbunyi: makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Melakukan kehendak Bapa berawal dari usaha kita untuk mengerti pikiran dan perasaan-Nya, selera dan rencana-Nya. Bila kita berusaha memperolehnya, pasti kita akan dapat memperoleh-Nya, sebab Ia telah menjanjikannya. Orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan (Mat. 5:6). Dalam hal ini pembaharuan pikiran untuk mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna merupakan hal paling utama (Rm. 12:2). Pembaharuan pikiran harus dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan masing-masing pribadi. Dalam pembaharuan pikiran tersebut Roh Kudus menuntun setiap individu untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yaitu bagaimana Tuhan Yesus menjalani hidup-Nya di bumi, sehingga segala keinginan yang muncul di hati adalah keinginan Roh Kudus.