Menjadi Tidak Cerdas
29 June 2017

Mengisi neshamah manusia dengan kebenaran Firman Tuhan adalah pergumulan yang tidak mudah. Sangat besar kemungkinan inilah pergumulan manusia pertama Adam, yang disimbolkan dengan adanya dua pohon di tengah taman. Di sini Adam diperhadapkan kepada pilihan: apakah Adam mengkonsumsi buah pohon kehidupan atau buah pengetahuan yang baik dan jahat. Pada dasarnya pergumulan tersebut adalah pergumulan untuk mengisi neshamah-nya dengan kebenaran yang dilambangkan dengan pohon kehidupan sehingga bisa mendengar suara Tuhan sebab neshamah-nya menjadi pelita Tuhan, atau mengisinya dengan isian yang lain yang dilambangkan dengan pohon pengetahuan yang baik dan jahat sehingga neshamah-nya gelap. Ternyata manusia memilih mengkonsumsi buah yang dilarang untuk dikonsumsi, maka sebagai akibatnya manusia jatuh dalam dosa atau “meleset”. Dengan neshamah yang diisi dengan isian yang salah, maka cara memandang sesuatu menjadi kacau atau rusak.

Adam dan Hawa yang tadinya tidak malu dalam keadaan telanjang, tetapi karena kejatuhannya ke dalam dosa membuat mereka merasa malu. Dalam hal ini yang berubah bukan aspek eksternalnya, tetapi internalnya. Dari masukan yang salah ke dalam neshamah, maka terbangunlah dalam diri seseorang pola atau cara berpikir yang rusak. Cara berpikir adalah kecerdasan hati nurani. Karena masukan yang salah, maka hati nurani menjadi tidak cerdas. Tidak cerdas sama dengan berselera rendah, tidak seperti selera Allah. Dengan hal ini manusia tidak memiliki perasaan seperti Tuhan. Tidak cerdas juga berarti tidak memiliki perspektif berpikir seperti Allah. Manusia tidak memiliki pikiran Tuhan. Dalam hal ini manusia gagal menempatkan segala sesuatu pada tempat yang benar. Awalnya keberadaan telanjang tidak membuat mereka merasa malu, kemudian menjadi malu. Hal ini menunjukkan adanya perspektif baru dalam cara memandang sesuatu.

Kesalahan manusia mengakibatkan manusia tidak mampu melakukan apa yang tepat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bahkan manusia melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sebagai makhluk yang segambar dengan Allah. Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain merupakan gambaran yang jelas bahwa manusia mengikuti suara yang salah dalam dirinya (Kej. 3:7). Kata dosa dalam teks aslinya adalah khattah (האָטָּחַ), yang lebih dekat diterjemahkan sinful nature atau dosa dalam arti kodrat. Kata mengintip dalam teks aslinya adalah rabats (ץבַרָ), juga berarti berbaring (Ing. lie down). Hal ini menunjukkan bahwa kodrat dosa sudah berbaring di dalam kehidupan manusia. Mestinya suara Tuhan yang berbaring (di dalam nuraninya), tetapi ternyata ada suara lain yang sudah berbaring atau sengaja dibaringkan. Pembunuhan terhadap Habel terjadi oleh karena Esau tidak menolak dosa yang “mengintip” atau berbaring di dalam dirinya. Esau tidak sanggup menuruti apa yang baik, sehingga ia melakukan apa yang jahat atau salah.

Dalam Alkitab dikisahkan bahwa keturunan Set yang masih dipimpin oleh Roh Allah walaupun nenek moyangnya telah gagal hidup dalam pimpinan Roh Allah, tetapi oleh karena memiliki sinful nature, maka mengakibatkan mereka juga tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Kejadian 6:3, Tuhan sendiri mengakui manusia daging semata-mata (Ibr. basar; בָּשָׂר); kecenderungannya melakukan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka memilih jodoh sesuka hati mereka tanpa mau mengerti kehendak Allah. Manusia yang mestinya mendengar suara Allah dalam neshamah-nya ternyata lebih mengikuti kehendak dagingnya. Maka Roh Allah undur sampai nanti di zaman anugerah di mana Roh Allah akan menuntun manusia kembali untuk bisa menemukan suara-Nya.

Perlu kita perhatikan kata berbaring (rabats) di atas, sebab pada saat-saat tertentu sinful nature seperti tertidur, tidak memunculkan ekspresi atau perwujudannya. Tetapi di saat lain dapat bangun dan mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan tertentu, yang tentu saja bertentangan dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya kadang-kadang ada orang yang bisa berbuat kebaikan tetapi tiba-tiba bisa melakukan perbuatan yang keji dan memalukan. Hal ini menunjukkan, kalau seseorang mengisi dirinya dengan banyak filosofi yang salah, yang mana hal tersebut menjadi potensi untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Potensi seperti ini dapat dimatikan melalui proses keselamatan yang dikerjakan dengan sunguh-sungguh. Proses keselamatan mengubah sinful nature menjadi divine nature (kodrat Ilahi). Kalau seseorang memiliki divine nature, yang sama dengan hati nurani Ilahi, maka bagaimanapun ia tidak dapat berbuat dosa lagi.