Menjadi Full Timer Tuhan
28 March 2019

Bagi sebagian orang Kristen, mereka merasa telah memiliki penyerahan kepada Tuhan lebih sempurna -dalam pengertian yang utuh dan lengkap (menurut konsep umum)- kalau mereka berani menyerahkan diri sebagai full timer gereja atau pejabat gereja yang disahkan oleh sinode. Menurut mereka, ukuran full timer adalah tidak memiliki kesibukan di luar lingkungan gereja. Seakan-akan dengan berbuat demikian mereka sudah melayani Tuhan sepenuh waktu. Dalam hal ini sepenuh waktu (full time) diukur dengan kesibukan dalam lingkungan gereja. Padahal pelayanan sepenuh waktu bukan hanya menyangkut waktu dan kesibukan dalam lingkungan gereja, tapi juga sikap batin atau hati.

Bisa dibayangkan kalau seorang anak merasa telah bersekolah dengan baik hanya karena tidak pernah absen di kelas. Betapa bodohnya hal ini. Mereka sudah merasa memenuhi tugas belajar dengan baik hanya karena ada di ruangan kelas. Tentu memang sekolah tidak boleh absen. Namun sekolah itu sendiri harus dipahami sebagai belajar, sehingga ada peningkatan. Sekolah untuk belajar, supaya dari bodoh menjadi pandai, dari tidak cakap menjadi cakap. Pada intinya sekolah adalah tempat untuk belajar. Kalau tidak belajar, percuma sekolah. Hal ini sama dengan seorang pegawai yang masuk ke kantor atau tempat kerja, merasa sudah bekerja dan merasa pantas menerima gaji karena ada di ruangan kerja. Padahal yang penting bukan masuk kantor atau tempat kerja atau ada di ruangan kerja, tetapi bekerja dengan hasil yang baik sehingga benar-benar produktif.

Hal di atas sama dengan kalau seseorang mengaku sebagai full timer, tetapi tidak memiliki sikap hati yang benar sebagai pelayan, yaitu hidup tidak berkepentingan atas apa pun selain melakukan kehendak Bapa bagi jemaat-Nya. Orang-orang full timer seperti itu pasti tidak berdaya guna untuk pekerjaan Tuhan. Mereka bisa masuk kerja ke gereja setiap hari, datang ke setiap kebaktian, dan sibuk dengan berbagai pekerjaan gerejani, tetapi hidupnya tidak berdampak bagi orang lain. Apa artinya hari-hari hidup kita ini kalau tidak berdampak bagi orang lain? Banyak para full timer yang secara teknis melakukan pekerjaan gereja, seperti melawat orang sakit, memberi konseling kepada orang bermasalah, dan mendoakan orang yang membutuhkan doa, tetapi hidupnya tidak berdaya guna mengubah orang lain untuk layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Tidak sedikit full timer dan gereja yang berkeadaan seperti hal tersebut. Pada hakikatnya kegiatan pelayanan seperti itu hanya membuang waktu sia-sia.

Terkait dengan hal ini, kita sebagai full timer dan pendeta harus berhati-hati. Kuasa kegelapan tidak menginginkan kita efektif bagi Kerajaan Surga. Iblis tidak terlalu menghalangi seseorang menjadi full timer, tetapi Iblis sangat menghalangi dan selalu berusaha menjatuhkan kalau seorang full timer menjadi efektif dalam menggiring orang ke dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya terdapat fakta di mana ada orang-orang yang pertobatannya luar biasa, kesaksian panggilannya sebagai pendeta juga luar biasa, tetapi setelah sekian lama menjadi pendeta ternyata ia membangun kerajaannya sendiri. Mereka sudah merasa menyerahkan hidupnya untuk pelayanan, tetapi sebenarnya mereka mencari hidup dan kelangsungannya untuk dirinya sendiri dan keluarga. Mereka tidak sungguh-sungguh menunjukkan adanya “dunia lain” (Yerusalem Baru) yang menjadi tujuan kehidupan ini.

Seperti Esau yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperoleh warisan sebagai Anak Perjanjian, sebab ia telah menjual hak kesulungannya demi semangkuk makanan, di sini jelas terlihat bahwa Esau benar-benar kehilangan haknya sebagai Anak Perjanjian. Kesempatan bukan hanya menunjuk waktu, tetapi juga kapasitas diri dimana seseorang berpotensi untuk bisa berubah atau tidak. Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον), yang artinya tempat berpijak atau pangkalan atau landasan. Hal ini menjadi peringatan bagi kita yang sudah lama tidak mengalami pertumbuhan secara normal di dalam Tuhan. Hendaknya kita tidak kehilangan kesempatan untuk berubah.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi atau mencela siapa pun. Tetapi kiranya menjadi cermin bagi para pelayan Tuhan agar kita kembali kepada panggilan pelayanan yang murni, jika sekiranya telah menyimpang. Selain itu, hal ini harus menjadi keprihatinan kita semua, yaitu kalau para pelayan Tuhan tidak berjalan dalam kebenaran, bagaimana bisa mereka menuntun umat agar siap menghadap Bapa? Bagi jemaat Tuhan, melalui kebenaran ini, agar dicelikkan bahwa ternyata banyak musang berbulu domba. Oleh sebab itu hendaklah kita berhati-hatilah terhadap siapa yang harus didengar dan dipercayai.