Menjadi Efektif Dalam Pelayanan
24 February 2019

Dalam tulisan Paulus kepada jemaat Korintus ia menyatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:27). Ayat ini telah menimbulkan dan menjadi perdebatan yang hebat para teolog. Satu pihak menyatakan bahwa kata “ditolak” artinya ditolak oleh manusia, sedangkan pihak yang lain mengatakan bahwa ditolak tersebut artinya ditolak oleh Allah. Mana yang benar, Paulus takut ditolak oleh manusia atau Allah? Untuk menjawab ini kita harus melihat seluruh perikop ayat tersebut dan hubungannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ini berarti kita harus memperhatikan seluruh ayat dalam 1 Korintus 9 dan 1 Korintus 10.

Banyak kesalahan tafsir yang membangun pandangan doktrin yang salah disebabkan karena seseorang mengambil ayat dan melepaskan dari konteksnya. Seringkali hal ini terjadi dikarenakan hanya untuk membela suatu pandangan yang sudah ada dari seorang teolog masa lalu atau suatu premis dasar yang terlanjur diterima. Banyak teolog yang mempertahankan pandangannya mati-matian bahwa Paulus bukan bermaksud menulis ditolak oleh Allah, tetapi ditolak manusia. Pandangan mereka jadi tidak obyektif dan mereka membela pandangan tersebut secara membabi buta, mengapa? Sebab kalau yang dimaksudkan oleh Paulus ditolak berkenaan dengan penolakan Allah, maka doktrin keselamatan ditentukan oleh pemilihan dan keputusan Allah menjadi gugur. Itulah sebabnya dimunculkan pandangan yang dipaksakan. Mereka mengatakan bahwa Paulus berjuang melatih tubuhnya dan menguasai seluruhnya agar tidak ditolak oleh rasul-rasul atau pemberita Injil lainnya. Oleh sebab itu betapa pentingnya memahami ayat tersebut dengan benar, jujur dan obyektif.

Pandangan yang mengatakan bahwa yang dimaksud Paulus “ditolak” adalah ditolak oleh manusia, adalah pandangan yang benar-benar salah. Ini sangat tidak mungkin sebab Paulus dalam memberitakan Injil tidak memedulikan apakah ia menyenangkan manusia atau tidak (Gal. 1:10). Paulus seorang yang mencari kesukaan Allah, bahkan demi memenangkan jiwa, Paulus tidak mengikuti jejak para rasul lain, ia bekerja mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan pelayanannya. Di sini kita menemukan kecintaan Paulus kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya, sehingga apa pun dia lakukan demi Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Paulus bekerja keras agar ia dapat memberitakan Injil dengan efektif. Kerinduannya adalah mendapat bagian dalam pemberitaan Injil (1Kor. 9:23). Kalimat mendapat bagian dalam teks aslinya adalah sugkoinonos (συγκοινωνός), yang artinya bersama-sama dengan para rasul dan pemberitakan Injil lainnya memberitakan kebenaran Firman Tuhan. Pernyataan Paulus ini bukan berarti demi kebersamaan dengan para pemberita Injil lainnya. Dalam hal ini seakan-akan Paulus berjuang melatih tubuhnya dan menguasai seluruhnya supaya diterima oleh rasul-rasul. Hal ini bertentangan dengan karakter Paulus. Paulus mengatakan kalau ada orang yang memberitakan Injil tidak seperti yang diberitakannya -siapa pun dia- agar terkutuk (Gal. 1:8-9). Jangankan rasul atau siapa pun, malaikat pun terkutuk. Hal ini menunjukkan integritas Paulus yang tidak “menjilat,” mengorbankan integritas demi apa pun.

Jika kita membaca dari ayat 1 Korintus 9:1, Paulus menjelaskan mengenai keadaan dirinya dan Barnabas yang tidak memiliki hak sama seperti para rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul lain dapat memberitakan Injil dengan istri dan mendapatkan nafkah dari pelayanan. Hal ini sudah menjadi kewajaran bahwa seorang pemberita Injil patut hidup dalam pelayanannya (1Kor. 9:4-14). Tetapi Paulus tidak demikian. Ia bekerja keras dengan tangannya untuk memenuhi biaya pelayanannya (Paulus membuat kemah). Paulus menyatakan bahwa ia bersedia melayani tanpa upah bahkan harus bekerja keras dengan tangannya sendiri, seakan-akan tidak memiliki hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan (1Kor. 9:6). Paulus tidak mempersoalkan keadaan dirinya tersebut, baginya yang penting dirinya turut bersama-sama dengan mereka memberitakan Injil. Paulus bertindak demikian supaya pelayanan pemberitaan Injil tidak terhalangi atau ada rintangan (1Kor. 9:12). Masalah uang atau biaya pelayanan memang bisa menjadi rintangan pelayanan. Itulah sebabnya Paulus berusaha dengan pengorbanan yang luar biasa menanggulangi tantangan tersebut. Semua yang dilakukan Paulus dimaksudkan agar dirinya efektif dalam pelayanan pemberitaan Injil. Sejarah gereja mencatat karya Paulus memang sangat luar biasa, ia berhasil menjungkirbalikkan dunia kekafiran Eropa.