Menjadi Contoh
29 May 2019

Dikatakan bahwa Allah tidak pernah gagal, yang artinya bahwa Allah bukan penyebab kegagalan bangsa Israel menjadi umat pilihan abadi (umat pilihan Perjanjian Baru). Israel menjadi umat pilihan secara darah daging hanya sebagai sarana dilahirkannya Mesias dari bangsa tersebut. Sebenarnya umat pilihan yang dimaksudkan oleh Tuhan, yang juga menjadi umat pilihan abadi, adalah mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Untuk menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, seseorang harus memberi respon yang memadai terhadap karya keselamatan Kristus di kayu salib. Jika tidak, walaupun ia adalah seorang yang berdarah Israel dengan segala hak istimewa, tidak akan pernah menjadi umat pilihan tanpa menerima Yesus sebagai Mesias. Dalam hal ini nyata sekali, bahwa kehendak bebas yang dimiliki manusia untuk merespon anugerah Allah menentukan keselamatannya.

Selanjutnya Firman Tuhan mengatakan: “…dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu. Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.” Mengapa Firman Tuhan ditulis demikian? Hal ini harus ditulis atau dinyatakan, sebab selain Ishak, ada anak Abraham lainnya dari budaknya, Hagar, yang melahirkan Ismael. Keturunan Ismael tentu juga diberkati dan menjadi bangsa yang besar, tetapi keselamatan atau Mesias hanya datang dari bangsa Yahudi, keturunan Abraham dari Ishak (Yoh. 4:22).

Memasuki zaman Perjanjian Baru, bukan keturunan secara darah daging dari Abraham yang menjadi umat pilihan, tetapi anak-anak perjanjian, yaitu mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa sesungguhnya yang disebut sebagai umat pilihan adalah mereka yang menjadi anak-anak Abraham karena iman, yang bukan hanya berasal dari bangsa Yahudi, tetapi juga mereka yang berasal dari bangsa-bangsa lain non-Yahudi (Rm. 9:25-30). Penjelasan ini sejajar atau paralel dengan tulisan Paulus di Galatia 4:22-25, bahwa Abraham memiliki dua anak, yang satu adalah anak perjanjian dan yang lain anak perhambaan.

Dalam Roma 9:9 tertulis, “Sebab firman ini mengandung janji: Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dalam tulisannya ini Paulus menunjukkan bahwa umat pilihan hanya berasal dari satu orang wanita, yaitu Sarah, istri Abraham. Allah tidak pernah menjanjikan Ismael sebagai anak perjanjian. Tetapi kepada Sarah Allah menjanjikan anak perjanjian itu, bukan kepada Hagar. Hal ini menekankan bahwa pada akhirnya umat pilihan hanya berasal dari keturunan Sarah, dengan demikian hal ini juga menegaskan bahwa tidak ada keselamatan yang datang dari luar bangsa Israel. Pernyataan ini sekaligus meneguhkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus (Kis. 4:12; Yoh 4:6).

Roma 9:9 menjadi penegasan bahwa bangsa Israel walaupun keturunan Abraham secara darah daging akan ditolak, sementara bangsa-bangsa lain yang bukan keturunan Abraham secara darah daging akan menjadi umat pilihan oleh karena iman. Mereka yang dibenarkan karena iman akan terhisap sebagai anak Abraham atau berasal dari satu perempuan, yaitu Sarah. Semua ini menggenapi janji Allah kepada Abraham bahwa dari keturunannya (dengan Sara) semua bangsa di muka bumi ini akan diberkati (Kej. 12:1-3). Dalam hal ini Tuhan tidak diskriminatif. Sasaran atau obyek penerima berkat adalah semua manusia, bukan hanya bangsa Israel secara lahiriah atau secara daging.

Dalam suratnya Paulus mengatakan bahwa semua peristiwa mengenai bangsa Israel menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:11-12). Menjadi contoh artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Perhatikan kata “peringatan bagi kita”. “Kita” di sini menunjuk orang yang mengaku Kristen. Tentu saja kita di sini termasuk Paulus sendiri sebagai penulis kitab Korintus. Kalau Paulus yakin bahwa dirinya tidak tertolak, maka ia tidak akan menggunakan kata “kita” dalam tulisannya ini. Dalam ayat sebelumnya (1Kor. 9:27) Paulus menyatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Tentu pengertian ditolak di sini bukan ditolak oleh manusia atau siapa pun (sebab Paulus juga tidak peduli mengenai hal ini, Gal. 1:9-10), tetapi Paulus gentar kalau sampai ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya pula dalam tulisannya yang lain Paulus menyatakan: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:9-10).