Menjadi Bagian Dari Pasukan Tuhan
27 April 2018

Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti menjadi bagian dari pasukan atau laskar Tuhan Yesus. Hari-hari ini, kita harus makin menyadari bahwa peperangan dan ketegangan antara kerajaan kegelapan dan Kerajaan Terang semakin dahsyat. Kita dipanggil untuk berdiri di pihak siapa kita berdiri. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak menunjukkan sikap yang jelas berada di pihak siapa. Ini sangat berbahaya. Kalau kita tidak memiliki sikap yang jelas di pihak siapa kita berdiri, itu berarti kita tergiring menjadi tawanan Iblis. Dalam Lukas 11:23 ditulis “barang siapa yang tiada masuk pihak Aku, ia melawan Aku; dan barang siapa yang tiada mengumpulkan beserta dengan Aku, ialah mencerai-beraikan”. Dalam ayat ini kita temukan ketegasan Tuhan agar kita dapat mengetahui bagaimana posisi kita hari ini di hadapan Allah.

Pemberontakan Iblis di hadapan Allah menyeret malaikat-malaikat, berlanjut atau dilanjutkan di muka bumi (Why. 12:1-4, 7-9). Bahkan pemberontakan beralih dari surga ke bumi ini. Iblis mencoba menyeret sebanyak mungkin manusia untuk mengikuti jejaknya melawan Tuhan. Ini merupakan gerakan Iblis yang terus berlangsung sampai hari ini. Manusia harus menyadari hal ini (1Ptr. 5:9). Ketika Kerajaan Surga datang, Ia menantang kita ada di pihak mana. Kerajaan Surga datang dibawa oleh Tuhan Yesus, yang merupakan isyarat dimulainya sebuah peperangan besar. Yaitu peperangan untuk membinasakan pekerjaan Iblis dan mengembalikan manusia kepada pemiliknya. Sebagaimana Iblis mendayagunakan segala kekuatan dan pengikutnya untuk melawan Allah, demikian pula Tuhan Yesus mendayagunakan kekuatan-Nya dan pengikut-Nya untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Di surga malaikat-malaikat yang berperang, tetapi di bumi “kita” -orang percaya- yang mengawal pekerjaan-Nya. Yang penting harus kita ketahui sekarang adalah kita di pihak siapa? Apakah kita turut serta mengawal pekerjaan-Nya atau sibuk dengan urusan kita sendiri?

Kalau kita disebut sebagai “laskar Kristus maju masuklah perang” itu maksudnya kita berperang melawan penghulu yang jahat dunia ini. Setiap orang dipanggil untuk itu. Peperangan yang pertama dimulai dalam diri kita. Kita harus menghentikan pemilikan kuasa kegelapan atas diri kita. Kemudian Tuhan mau memakai kita untuk melepaskan manusia lain dari cengkeraman kuasa kegelapan. Harus diperhatikan bahwa seseorang tidak bisa melepaskan orang lain sementara dirinya sendiri masih terikat kuasa kegelapan. Hamba Tuhan yang masih terikat materialisme, tidak akan dapat melayani orang lain dengan benar.

Kita tidak boleh lupa bahwa setelah kita menjadi anak Tuhan ada perjuangan berat yang kita alami. Perjuangan berat tersebut adalah perjuangan menghadapi musuh, yaitu penghulu roh-roh di udara. Kalau dahulu kita di pihak musuh, yaitu bersikap melawan Tuhan, tetapi sekarang kita di pihak Tuhan harus hidup dalam kebenaran Tuhan. Ini berarti kita menjadikan diri kita musuh penghulu roh-roh di udara. Dalam Efesus 6:12 Alkitab menyatakan: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”.

Perhatikan kata “perjuangan” dalam teks ini. Perjuangan di sini dalam teks aslinya adalah pale (πάλη), yang dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan wrestling, yaitu pergulatan. Seperti seorang adu gulat, ia harus berjuang dan terus bergerak untuk merebut kemenangan, sebab kepasifan berarti kekalahan. Seorang pegulat tidak boleh berhenti berjuang, ia ada dalam situasi dimana lawan terus berusaha untuk menaklukkannya. Kekristenan tidak boleh dijalani dengan santai dan pasif, tetapi berjaga dan selalu kuat, karenanya di Efesus 6:10 Paulus menasihati kita: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”.

Petrus menasihati kita bertalian dengan hal ini sebagai berikut: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1Ptr. 5:8-9). Jadi kalau kita tidak merasa ada pergumulan berat dalam menghadapi tekanan kuasa musuh, pasti ada sesuatu yang salah dalam hidup ini. Dalam menghadapi kenyataan pergumulan melawan musuh ini, Tuhan Yesus menasihati kita agar berjaga-jaga.

Sikap berjaga-jaga ini harus dimiliki sepanjang waktu. Bukan hanya sesaat. Setiap hari adalah hari perjuangan dan pergumulan. Tidak ada waktu atau tempat di mana anak Tuhan bisa gencatan senjata dengan Iblis. Kekalahan atau kejatuhan banyak anak Tuhan dikarenakan tidak waspada terhadap serangan kuasa kegelapan yang tidak pernah berhenti. Iblis adalah musuh abadi setiap saat dan di sepanjang tempat. Kita harus berjuang dan menang, seperti Yesus telah menang.