Menjadi Anak-Anak Allah
14 January 2020

Membawa kematian Yesus adalah proses perjalanan hidup kekristenan yang harus benar-benar terjadi atau berlangsung dalam hidup orang percaya. Kita harus berani mendefinisi ulang hal-hal yang selama ini mungkin dipandang sudah final. Definisi ulang tersebut tentu harus berimplikasi dalam hidup ini; bertalian langsung dalam hidup, dan berdampak pada karakter kita. Dalam hal ini, kita dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang selama ini pengertiannya tidak jelas atau kabur. Beberapa pengertian itu misalnya, klausa “membawa kematian Yesus di dalam hidup atau tubuh kita;” “bahwa kita telah mati, hidup kita tersembunyi dalam Yesus Kristus;” dan frasa, “kelahiran baru;” “hidup baru dalam Allah;” dan “menjadi anak-anak Allah.” Klausa dan frasa seperti ini sebenarnya memiliki arti yang sulit dipahami. Kita akan memerhatikan apa yang dimaksud frasa “menjadi anak-anak Allah” dalam perspektif tertentu.

Menjadi “anak-anak Allah” dan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah, serta dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, bukanlah hal yang sederhana. Itu adalah hal yang luar biasa. Setelah menjadi Kristen, secara fisik dan lahiriah, kita memang tidak berubah. Namun, secara kodrat di dalam manusia batiniah, kita harus berubah. Manusia lama kita harus benar-benar dimatikan atau ditiadakan. Masa hidup manusia yang berkisar 70-90 tahun merupakan masa proses yang sudah definitif atau tertentu, tidak bisa ditambah, tetapi bisa dikurangi. Oleh sebab itu, kita harus menghargai kesempatan berharga yang Allah berikan ini. Kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah itu hanya terjadi satu kali, singkat, dan tidak pernah terulang lagi dalam kekekalan.

Masa hidup kita merupakan proses bagaimana kita betul-betul menjadi manusia baru, sehingga sisa-sisa manusia lama kita benar-benar harus lenyap atau hilang. Manusia baru inilah yang disebut menjadi anak-anak Allah. Ini terjadi harus melalui perjalanan waktu yang sangat ketat. Kalau diikuti per harinya mungkin tidak kelihatan, bahkan dalam kurun waktu satu tahun atau dua tahun pun, proses perubahan ini pun belum akan kelihatan. Ini sama seperti perkembangan jasmani manusia. Fisik anak-anak tidak bisa diukur perkembangan hariannya. Namun kalau sudah 5-10 tahun, perkembangan dan perubahannya barulah kelihatan. Untuk tumbuh dan berkembang ini, yang dituntut adalah ketekunan. Ketekunan yang berkesinambungan akan menghasilkan perubahan yang signifikan.

Fokus pekerjaan pelayanan gereja adalah mengubah manusia lama ini. Ini harus merupakan agenda utama dan satu-satunya dalam hidup ini. Ini berarti bahwa kita harus benar-benar berubah menjadi anak-anak Allah dengan kualitas yang baru, kualitas yang tinggi, dan berbeda dengan manusia pada umumnya. Di situ, kita bisa belajar untuk melihat gejala-gejala perubahan jiwa yang kita miliki. Waktu kita mengemudikan kendaraan lalu disalip, bagaimana reaksi kita? Apakah masih sama seperti dahulu? Waktu kita melihat barang yang dahulu menjadi kesukaan kita, bagaimana sekarang? Pada waktu kita dipuji, dilukai, dihina, bagaimana reaksi kita? Itu semua bisa kita rasakan. Kita bisa merasakan perbedaan antara kita yang dahulu dengan diri kita yang sekarang.

Melalui pelayanan gereja, cara berpikir, fokus, dan orientasi hidup jemaat diubah dari cara berpikir, fokus, dan orientasi dunia ini, menjadi langit baru dan bumi baru. Sebagai dampaknya, kita akan memiliki kerinduan untuk benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela dalam segala hal. Selanjutnya, kita juga akan bersemangat dan sangat bersedia untuk mematikan manusia lama seperti yang Firman Allah katakan, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Untuk hal ini, orang percaya diharapkan bukan hanya menjadi baik, melainkan benar-benar menjadi manusia baru yang standar moralnya adalah Yesus.

Perjuangan pelayanan gereja haruslah tertuju kepada cara mengubah seseorang menjadi ciptaan baru. Ini dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hidup orang percaya setiap hari. Dalam hal ini, idealnya, ada pendeta atau gembala yang memberikan mentoring dan teladan hidup seperti Paulus mengatakan, “Ikutilah teladanku” (Flp. 3:17). Mentor tidak cukup hanya bisa berkhotbah, tetapi ia harus menjadi “peraga Tuhan.” Keteladan hidup adalah pilar utama dalam pelayanan. Tanpa adanya keteladanan hidup, sebaiknya seorang pembicara berhenti menyampaikan pemberitaan Firman.

Seorang hamba Allah yang ditampar pipi kanannya tetapi juga memberi pipi kirinya, baru bisa menjadi contoh. Ketulusan doa dari seorang worship leader atau hamba Allah kadang-kadang bisa juga menjadi contoh. Melalui khotbah, kesaksian hidupnya pasti muncul dan dapat dirasakan; perasaannya pasti mengalir dan itulah yang harus diambil dan yang bisa ditularkan, yaitu kecintaannya kepada Allah, kerinduannya untuk berubah walaupun belum sempurna, dan kerinduannya untuk mencapai langit baru dan bumi baru. Itu semua bisa ditularkan.