Meninggalkan Dunia Ini
28 November 2019

Semua orang yang mengikut Yesus harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia ini bukan berarti tidak lagi ada di dunia. Ia masih tetap di dunia, tetapi dengan cara hidup yang baru. Dengan kata lain, meninggalkan dunia berarti melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri, “biarlah orang mati menguburkan orang mati,” “tidak menoleh ke belakang,” “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” dan banyak lagi. Salah satu ciri dari orang yang sudah meninggalkan dunia adalah: Pertama, ia tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dunia ini. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya tidak terikat lagi dengan dunia ini. Untuk hal ini, yang dilawan ada dua hal, yaitu: pengaruh dunia yang sudah mengikat jiwa dan keinginan dosa dalam daging. Kalau seseorang masih terikat dengan dosa-dosa dalam daging, itu berarti ia masih memiliki diri sendiri. Hal ini sama dengan tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Kalau orang masih terikat dengan barang-barang dunia, ia berarti masih dimiliki dunia ini. Bisa dipahami mengapa mengingini dunia sama dengan menyembah Iblis.

Mungkin ada pertanyaan, “Apa salahnya kalau seseorang memiliki barang ini dan itu?” Tentu, tidak salah! Pertanyaannya adalah “Apakah orang percaya memiliki sesuatu untuk kepuasan diri dan prestise?” Banyak orang telah terikat oleh dunia dengan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Anak-anak meneruskan bisnis orangtua dan segala cara hidupnya. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti hal ini. Mereka merasa nyaman berada di tempat-tempat di mana diajarkan mereka tidak perlu meninggalkan dunia ini. Mereka diajar untuk hidup dalam kewajaran seperti manusia lain. Itulah sebabnya mereka tetap melestarikan cara hidup yang mereka warisi dari nenek moyang.

Keterikatan dengan materi membuat seseorang tidak dapat memenuhi firman yang mengatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Harus diingat, kalau orang percaya menjadi anak tebusan Tuhan Yesus berarti segenap hidupnya diambil alih oleh Tuhan. Kalau seseorang tidak bersedia, ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Tidak apa-apa bagi yang lain, tetapi menjadi masalah besar bagi hidupnya sendiri. Kalau dalam Perjanjian Lama, berhala mereka adalah dewa-dewa yang mereka sembah. Namun dalam Perjanjian Baru, berhala kita adalah materi. Terkait dalam hal ini, Yohanes mengingatkan bahwa keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup bukan berasal dari Bapa (Yoh. 2:15-17). Yakobus lebih tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).

Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang terbelenggu oleh Tuhan. Namun sebenarnya, inilah justru kemerdekaan itu. Banyak orang merasa dirinya merdeka ketika ia boleh berbuat apa saja yang diingininya. Padahal, justru itulah perhambaan. Ketika seseorang diperhamba atau dibelenggu oleh Tuhan, ia memperoleh kemerdekaan. Namun semakin seseorang mau bebas sendiri, hidup dalam kesenangan dirinya sendiri, ia justru ada dalam perhambaan. Dalam hal tersebut, seseorang harus mengalami perubahan jiwa. Perubahan itu bisa terjadi hanya dengan Firman. Dalam level tertentu, seseorang yang tekun belajar Firman dan mengenakannya akan merasakan selera baru dalam jiwanya. Keterikatan dengan Tuhan bukanlah suatu belenggu, tetapi kesukaan. Kapan itu terjadi? Itu akan terjadi kalau seseorang dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.

Kalau seseorang jatuh cinta, ia rela diperhamba oleh orang yang dicintai. Keadaannya sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan orang yang dicintainya tersebut. Demikian pula hubungan orang percaya dengan Tuhan. Jadi, kalau orang percaya membeli barang atau memakai barang dunia ini, hal tersebut dilakukan dengan maksud agar dapat dipakai untuk kepentingan hidup yang sedang dijalani dalam pelayanannya kepada Tuhan. Uang yang dicari pun semata-mata dipergunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Hal ini tidak berarti semuanya harus diberikan ke gereja, tetapi juga untuk kehidupan keluarga, yang semuanya juga untuk kemuliaan Tuhan.

Kedua, orang percaya menjadi saksi di tengah-tengah masyarakat dan mengawal pekerjaan Tuhan di gereja yang benar. Ketiga, orang percaya harus menyadari bahwa dunia ini bukan rumahnya. Tuhan Yesus mengatakan berulang- ulang mengenai hal ini (Yoh. 17:16), bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, yang juga berarti tidak dimiliki dunia ini. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus menerima hal ini dan mengenakannya dalam hidup. Dalam Filipi 3:20-21 tertulis, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Hal ini harus terus ditanamkan di dalam diri masing-masing orang percaya agar tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, kemudian berjuang untuk menjadi seperti Yesus. Orang percaya harus hidup dengan cara hidup Tuhan Yesus. Sebelum menutup mata, seharusnya orang percaya sudah selesai dengan sempurna melepaskan diri dari ikatan dunia ini.