Meninggalkan Dunia
01 March 2020

Meninggalkan dunia berarti langkah seseorang memindahkan kesenangan hidupnya dari materi dunia fana ini dengan segala hiburannya kepada Tuhan dan pengharapan penyataan Kerajaan-Nya yang akan datang. Dalam langkah meninggalkan dunia, seseorang berani membunuh semua hasrat di dalam dagingnya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” sebenarnya di dalamnya terdapat panggilan untuk mengenakan hidup-Nya. Sebagaimana Yesus menolak segala sesuatu yang bersifat duniawi, kita juga harus melakukan hal yang sama. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus dalam suratnya mengatakan agar orang percaya mematikan segala sesuatu yang duniawi (Kol. 3:5). Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk ambisi menjadi orang terhormat, terpandang di mata manusia, menyandang gelar demi prestise, memegang jabatan yang bergengsi, serta dianggap penting dan utama. Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk juga menyukai barang-barang “branded” agar dikagumi orang lain. Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk hasrat untuk memiliki rumah, mobil, dan lain sebagainya untuk sebuah martabat dan harga diri.

Orang yang meninggalkan dunia harus mulai melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia ini. Adapun cara untuk melepaskan diri dari keterikatan dunia adalah dengan membunuh semua keinginan terhadap sesuatu yang tidak berguna untuk kemuliaan Allah. Ini berarti hidup hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Semua yang kita ingini haruslah sesuatu yang memang berguna untuk mendatangkan berkat bagi orang lain. Dalam hal ini, kita harus dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Biasanya orang menganggap bahwa semua yang diingini adalah kebutuhan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Tentu saja inilah kehidupan yang tidak pernah bisa memuliakan Allah, tetapi memuliakan diri sendiri. Secara prinsip, orang-orang seperti ini sebenarnya tidak pernah layak menyembah Allah. Walaupun bibirnya memuji, memuja, dan menyembah Allah, tetapi sebenarnya semua itu kosong belaka. Hatinya tidak bisa menyembah, sebab ia menghargai atau lebih memuliakan sesuatu yang lain; bukan Allah.

Meninggalkan dunia adalah proses yang sangat berat, sebab kita telah terbiasa hidup dalam keterikatan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Bisa dimengerti kalau orang kaya yang dikisahkan dalam Matius 19 tidak bersedia mengikuti Yesus karena harus menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Orang kaya tersebut tidak sanggup lagi hidup tanpa kekayaan. Hatinya telah terpasung oleh kekayaan dalam stadium yang sangat kuat. Pada titik ini, seseorang tidak akan bisa lagi mengikut Yesus, namun ia masih bisa beragama dan memiliki moral yang baik di mata manusia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seseorang bisa beragama dengan baik, tetapi masih bersifat duniawi. Umat Perjanjian Lama pada umumnya berkeadaan seperti ini. Itulah sebabnya, orang percaya tidak boleh melandaskan cara berpikirnya pada pola pemikiran dan gaya hidup umat Perjanjian Lama.

Banyak pembicara Firman dan orang Kristen yang merasa bahwa semua yang tertulis dalam Alkitab dapat dikenakan secara harfiah dalam kehidupan. Padahal, orang percaya—sebagai umat Perjanjian Baru—seharusnya berpikir dengan alam pikiran umat Perjanjian Baru yang berpusat pada diri Yesus. Ini artinya, orang percaya harus mengenakan kehidupan Yesus. Jika tidak demikian, berarti belum bisa dikatakan sebagai pengikut Kristus. Jadi, sebenarnya orang seperti ini belum bisa disebut Kristen. Mereka beragama Kristen, tetapi bukan orang Kristen sejati. Inilah faktanya, banyak orang Kristen yang belum Kristen, mereka belum meninggalkan dunia. Kehidupan mereka masih wajar seperti orang-orang di luar Kristen. Ironis, ada orang di luar Kristen yang memiliki moral, kesalehan beragama, dan kesetiaan kepada keyakinannya lebih dari orang-orang Kristen tersebut. Bahkan, ada pula yang berani berusaha meninggalkan dunia, sesuai dengan versinya.

Meninggalkan dunia adalah kemutlakan yang tidak boleh dihindari oleh orang percaya, karena inilah harga yang harus dibayar oleh mereka yang mau memperoleh Kristus di dalam hidupnya. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus menyaksikan kehidupan imannya demikian: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Inilah langkah barter yang harus dilakukan setiap orang percaya, sebab seseorang tidak akan dapat memiliki Kristus—artinya memiliki berkat keselamatan—tanpa “melepaskan segala sesuatu” atau meninggalkan dunia. Sesungguhnya, inilah kekristenan yang sejati, yang diajarkan oleh Yesus bagi umat pilihan Perjanjian Baru.