Mengoreksi Diri
12 February 2020

Untuk menjadi anak-anak Allah yang baik, Allah mendidik kita. Ibrani 12 menulis, “sama seperti orangtua mendidik anak-anaknya, demikian pula Allah sebagai ‘Bapa’ mendidik kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.” Orangtua mendidik kita dalam waktu yang singkat dan pendek, sesuai dengan apa yang mereka pandang baik. Sebagai anak-anak Allah, kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh supaya kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Semua kejadian yang Allah izinkan kita alami bisa menjadi berkat abadi. Kalau nanti kita menutup mata, kita yang sudah mengambil bagian dalam kekudusan Allah, baru lebih dapat menghayati betapa berharganya didikan Allah dalam hidup ini.

Mengambil bagian dalam kekudusan Allah artinya orang percaya dapat memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah sendiri. Dan inilah standar yang ditetapkan oleh Allah, yang oleh karenanya Allah berfirman, “Kuduslah kamu karena Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa orang percaya harus memiliki kekudusan seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Dan masih banyak ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang memuat panggilan atau perintah Allah agar umat pilihan memiliki kesucian seperti Allah, Bapanya.

Kita harus percaya dan menerima bahwa standar kesucian yang Allah kehendaki tidak pernah boleh ditawar atau dikurangi. Bagaimana pun keadaan hidup kita, harus tetap bertumbuh untuk mencapai kesucian sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kalau sering kita hidup sembarangan atau tidak hidup di dalam kesucian sesuai dengan standar-Nya, dan kita merasa seakan-akan Allah tidak terganggu, semua keadaan berjalan dengan baik, sebenarnya ini suatu keadaan yang sangat berbahaya. Allah seakan-akan diam bukan berarti Dia benar-benar diam. Allah adalah pribadi yang responsif dan reaktif, tetapi oleh karena Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia, Allah membiarkan keadaan itu. Hal ini seperti kasus Adam dan Hawa di Taman Eden, dimana Allah tidak mencegah ketika Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang oleh Allah untuk dikonsumsi.

Ketika seseorang dipandang Tuhan belum dewasa karena umur rohaninya masih baru, maka ketika melakukan suatu kesalahan serta-merta Allah menegurnya dengan segala cara. Tetapi kalau seseorang sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun, Allah menghendaki agar orang tersebut sadar sendiri atas kesalahannya tanpa harus ditegur. Dalam hal ini, mengapa Allah seakan-akan diam ketika seseorang yang mestinya sudah dewasa melakukan suatu pelanggaran. Dalam hal ini pula, kita bisa mengerti mengapa ketika seorang pendeta senior melakukan pelanggaran atau hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah tidak mendapat pukulan atau teguran. Seakan-akan Tuhan membenarkan tindakan dan keadaan orang-orang seperti itu.

Kebenaran di atas ini bisa menjadi peringatan bagi mereka yang tidak hidup di dalam kekudusan Allah dan merasa semuanya berjalan dengan baik. Sesungguhnya ini adalah keadaan yang sangat membahayakan bagi mereka sendiri. Allah memandang mereka sudah harus bisa mengoreksi dan menyadari keadaan hidup mereka yang tidak mencapai standar kekudusan Allah. Sejatinya, Allah bukan diam sama sekali. Pasti ada peringatan-peringatan atau teguran-teguran yang Allah telah berikan, tetapi mereka menutup pintu hati atau mata jiwa sehingga tidak memedulikan peringatan-peringatan atau teguran-teguran tersebut. Kalau hal ini berlangsung terus-menerus atau berlarut-larut, mereka tidak akan memiliki kepekaan menangkap suara Tuhan. Sampai pada level ini, seseorang berkategori menghujat Roh Kudus.

Menghujat Roh Kudus bukan hanya terjadi atau dilakukan oleh mereka yang ada di luar gereja, melainkan juga berpotensi terjadi atau dilakukan oleh mereka yang ada di dalam gereja. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, seorang aktivis gereja dan rohaniwan (pendeta) yang mengaku hamba Tuhan bisa berkeadaan menghujat Roh Kudus. Hal ini dikemukakan oleh Yesus yang ditulis oleh Matius dalam Injilnya (Mat. 7:21-23). Yesus menyatakan bahwa nanti di akhir zaman, banyak orang mengaku—bukan saja telah percaya kepada Yesus, tetapi juga menyatakan bahwa mereka telah bernubuat, mengadakan mukjizat, dan mengusir roh-roh jahat—namun Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tidak mengenal mereka. Memang di dalam konteks ayat tersebut ditujukan kepada nabi palsu. Tetapi harus dipahami bahwa nabi palsu bukan hanya mereka yang dinyatakan secara terbuka sebagai bidat, tetapi juga mereka yang secara sah diakui sebagai pengerja gereja, majelis, dan pendeta dalam jemaat dan sinode.

Melalui tulisan ini, kiranya kita diperingatkan untuk mengoreksi diri agar menyadari bagaimana keadaan kita yang sebenarnya menurut penilaian Tuhan. Kita harus benar-benar mengetahui bagaimana keadaan kita dalam pandangan Tuhan: apakah kita telah memiliki kesucian sesuai dengan standar-Nya sehingga kita layak bersekutu dengan Dia atau hidup di hadirat-Nya. Adalah sangat baik kalau kita memiliki perasaan krisis: jangan-jangan kita dalam keadaan tidak berkenan di hadapan-Nya.