Mengisi Keselamatan
26 January 2019

Satu hal yang harus ditegaskan, sebab merupakan kemutlakan: Pertama, keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, jadi tidak ada keselamatan di luar Kristus, apa pun bentuk dan caranya. Kedua, keselamatan terjadi dan dimiliki seseorang bukan karena perbuatan baik. Dua hal yang mutlak tersebut harus dipahami dengan tepat, sebab jika tidak dipahami dengan tepat maka keselamatan yang sejati meleset untuk dialami seseorang. Orang percaya harus selalu menggali Alkitab untuk menemukan kebenaran mengenai keselamatan yang semakin akurat seiring dengan keadaan zaman yang semakin jahat ini.

Keselamatan diperoleh seseorang bukan karena perbuatan baik, bukan berarti orang Kristen bisa tanpa perjuangan mengalami dan memiliki keselamatan. Orang percaya harus bertanggung jawab mengisi keselamatan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus. Maksud mengisi keselamatan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus adalah ia berjuang untuk mengusahakan maksud keselamatan itu diberikan oleh Tuhan Yesus. Sama seperti para pahlawan bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa dan negara. Adapun sebagai anak bangsa yang telah menerima kemerdekaan tersebut, ia harus mengisi kemerdekaan dengan bekerja keras untuk memenuhi maksud kemerdekaan itu dicapai.

Fakta yang terlihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun bangsa ini secara hukum (de jure) sudah merdeka, tetapi kenyataannya banyak anggota masyarakat masih hidup di bawah garis kemiskinan, penindasan, dan berbagai keadaan yang tidak nyaman. Ini berarti, kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan belum dinikmati oleh semua anggota masyarakat. Memang secara politis negara dan bangsa ini tidak lagi di bawah penjajahan atau kekuasaan bangsa asing. Tetapi faktanya (de facto) sebagian anggota masyarakat masih hidup di bawah penjajahan dan kekuasaan bangsanya sendiri. Sehingga mereka hidup di dalam tekanan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai penderitaan lainnya. Menjadi tugas dan tanggung jawab semua komponen bangsa ini untuk menghilangkan segala bentuk penjajahan tersebut. Itulah sebabnya, bangsa ini tidak boleh puas dengan kemerdekaan secara politis yang telah dicapai, tetapi harus berjuang mengisi kemerdekaan secara proporsional.

Analogi atau sejajar dengan pergumulan bangsa ini, orang percaya juga harus berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebagai anugerah kepada orang percaya. Ironinya, banyak orang Kristen yang merasa bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus dan disediakan untuk orang percaya, secara otomatis sudah memerdekakan orang percaya dalam segala aspek kehidupan. Dengan asumsi ini mereka tidak memiliki usaha yang proporsional untuk mengisi kemerdekaan yang Tuhan telah berikan. Hal ini terjadi oleh karena adanya pengajaran yang mengatakan: untuk menerima keselamatan tidak perlu ada usaha apa pun dari orang percaya, sebab keselamatan diberikan cuma-cuma tanpa perlu adanya usaha sama sekali. Usaha untuk berbuat baik mengisi keselamatan dari kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan, sering dipandang sebagai penyangkalan terhadap prisip sola gratia (Ingg. only by grace).

Usaha berbuat baik mengisi keselamatan tidak cukup hanya menjadi orang yang bermoral, beretika, dan santun hidup di tengah-tengah masyarakat, tetapi usaha untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jika tidak memiliki target seperti ini, berarti belum berjuang untuk mengisi kemerdekaan di dalam Tuhan secara benar. Faktanya, banyak orang Kristen tidak melakukan hal ini karena konsep percaya dan konsep keselamatan yang salah -yaitu asal dengan nalar percaya karya salib berarti sudah selamat-, maka mereka tidak memiliki perjuangan untuk mengisi keselamatan dengan target yang benar. Mereka merasa sudah selamat dan memiliki hak untuk masuk Kerajaan Surga. Untuk itu yang mereka lakukan adalah mengembangkan dan memantapkan keyakinan di dalam nalar bahwa mereka sudah selamat dan pasti masuk surga. Mereka berpikir, semakin yakin sudah selamat maka semakin pasti akan selamat dan semakin yakin bisa masuk surga, maka semakin pasti masuk surga.

Kuasa kegelapan memperoleh celah yang besar dan pijakan dalam kehidupan orang-orang Kristen seperti ini, sehingga mereka mudah sekali dikuasai oleh kuasa kegelapan. Tidak mengherankan kalau orang-orang Kristen seperti itu terjerat oleh percintaan dunia. Padahal, orang yang mengasihi dunia menjadikan dirinya musuh Allah. Mereka merasa menjadi umat Allah yang disayang oleh Dia, padahal mereka telah memposisikan diri sebagai musuh Allah. Semakin hari, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, hati nurani mereka semakin gelap, sehingga mereka tidak mengenal kebenaran dan tidak mengenal diri sendiri dengan baik. Orang-orang seperti inilah yang merasa diri sudah dikenal dan bahkan akrab dengan Tuhan Yesus, tetapi ternyata mereka ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).

Jika melihat keadaan ini, pihak yang paling harus bertanggung jawab adalah gereja; khususnya para pembicara atau pengajarnya. Gereja tidak boleh hanya mempersiapkan liturgi bagi jemaatnya dan pelayanan diakonia. Gereja harus mengajarkan kebenaran sesuai Injil, dimana setiap individu dalam gereja harus didorong untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Untuk ini, jemaat tidak boleh diarahkan untuk menikmati dunia dengan segala keindahannya, tetapi harus diarahkan kepada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus Kristus di Langit Baru dan Bumi Baru. Selain itu, menjadi kemutlakan setiap pelayan jemaat harus bisa menjadi model atau prototipe anak Allah yang benar, sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi seluruh jemaat.