Menghitung Hari Sisa
01 March 2019

Satu hal yang harus disadari sepenuhnya, bahwa semua manusia ada dalam perjalanan waktu. Perjalanan waktu ini adalah perjalanan yang sangat ketat dan absolut atau mutlak. Ketat artinya detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, dan hari ke hari, berlangsung dengan tetap teratur, tetap dan tidak berubah. Satu hari masih tetap 24 jam, satu jam masih tetap 60 menit, satu menit masih 60 detik, dan seterusnya. Absolut atau mutlak artinya perjalanan waktu ini tidak ada yang dapat menghentikannya, semua orang harus tunduk pada tatanan waktu ini. Fakta ini sesungguhnya merupakan realitas yang sangat dahsyat dan seharusnya menggetarkan jiwa. Orang yang tidak tergetar oleh realitas ini pasti tidak mengerti kebenaran dan tidak mempersiapkan diri menyongsong hari kematiannya atau menyongsong hari kedatangan Tuhan Yesus.

Sementara ada dalam perjalanan waktu, setiap kita telah memiliki porsi waktu yang sudah terbatas. Porsi waktu atau umur manusia yang diberikan oleh Tuhan berkisar pada 25.500 sampai 29.000 hari sesuai dengan Firman Tuhan (Mzm. 90:10). Setiap hari, satu per satu hari hidup kita gugur dan tidak dapat kembali lagi, seperti daun kering yang jatuh ke tanah dan membusuk. Perlu kita renungkan, setiap hari ketika kita menutup mata untuk tidur pada malam hari, itu berarti satu hari telah dilewati. Kita telah kehilangan satu hari dari hari-hari yang masih sisa. Kita perlu menghitung dan merenungkan sisa hari yang masih tertinggal. Biasanya usia manusia berkisar 70 sampai 80 tahun. Kalau seseorang hari ini usianya 40 tahun, sisa waktunya sekitar 10.900 sampai 14.500 hari. Kalau seseorang hari ini usianya 50 tahun sisa harinya 7.300 sampai 10.900 hari. Kalau seseorang hari ini usianya 60 tahun, sisa waktunya sekitar 3.650 sampai 7.300 hari. Kalau usia seseorang 70 tahun, maka sudah tidak lagi memiliki hari. Tetapi andai usianya sampai 80 tahun, maka ia memiliki sisa hari 3.650 hari.

Perhitungan ini adalah perhitungan normal bagi mereka yang bisa mencapai usia tersebut. Kenyataan yang bisa terjadi dan bisa setiap orang alami, belum usia 50 tahun banyak orang sudah meninggal, bahkan tidak sedikit orang muda, remaja, dan anak-anak meninggal di usia dini. Dengan hal ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim bahwa sisa harinya masih panjang. Menghayati hal ini, seharusnya hati kita merasakan kegentaran, sebab fakta ini adalah fakta yang sangat dahsyat. Karena fakta ini, maka manusia mengalami proses penuaan yang menuju kepada kematian. Gejala dan tanda-tandanya adalah ketika rambut mulai memutih, gigi mulai tanggal, kulit mulai keriput, daya tahan tubuh semakin rentan, kekuatan fisik semakin lemah dan tubuh semakin rapuh, kecantikan dan penampilan menarik lainnya semakin memudar. Gejala ini seperti sebuah alarm jam untuk membangunkan kita agar bersiap menghadapi hari kematian. Gejala-gejala tersebut merupakan lonceng kematian yang semakin hari semakin keras suaranya.

Setelah kematian, manusia akan menghadapi penghakiman untuk menentukan nasib kekalnya. Penghakiman adalah realitas yang sangat dahsyat, sebab penghakiman tidak berbelas kasihan sama sekali. Bagi orang yang tidak mempersiapkan diri menyongsong hari penghakiman, hari itu merupakan hari yang paling menakutkan dan menegangkan, lebih dari segala ketegangan yang pernah dialami. Sebaliknya, bagi orang yang mempersiapkan diri menghadapi hari penghakiman, hari itu merupakan hari sukacita sebab ia bukan saja yakin, tetapi tahu bahwa ia telah mempersiapkan diri untuk menghadap Hakim yang agung. Sukacitanya melebihi segala sukcita yang pernah dialami selama hidup.

Menyadari fakta penghakiman yang dahsyat ini, mulai sekarang kita harus mempersiapkan diri menghadap takhta pengadilan Allah. Dalam tulisannya, Paulus mengatakan: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:9-10). Pertanyaan prinsip yang harus kita kenakan kepada diri sendiri ialah: Apakah kita sudah berusaha sungguh-sungguh untuk berkenan kepada Allah? Sebab tanpa usaha yang sungguh-sungguh seseorang tidak mungkin berkenan kepada Allah. Dan orang-orang yang tidak berkenan pasti ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23). Ironinya, banyak orang lebih mempersoalkan menghadapi hidup hari ini, di dunia ini yang hanya sementara. Betapa bodohnya. Tetapi ini adalah irama hidup standar yang dimiliki hampir semua orang di sekitar kita.