Mengenakan Taurat Yang Disempurnakan
19 February 2018

Dalam Roma 3:9 Paulus mengatakan: Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa. Apa maksud pernyataan Paulus dalam ayat ini? Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, kalau bangsa Yahudi, termasuk Paulus sendiri, membuktikan atau membuat kebenaran Allah semakin muncul, itu bukan karena dianggap sebagai kelebihan, sebab semua manusia sama di hadapan Tuhan. Semua manusia tidak benar (Rm. 3:10-22). Semua manusia berkeadaan tidak benar jika dibanding dengan kesucian Allah, karena semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kehilangan kemuliaan Allah artinya manusia telah terkunci dalam keadaan tidak mampu mencapai kesucian Allah. Namun demikian, walaupun manusia telah tidak berkeadaan seperti kesucian Tuhan, tetapi Tuhan tidak langsung menghakimi dan menghukumnya. Ada penebusan oleh Tuhan Yesus yang menghindarkan manusia dari kefatalan hukuman Allah (Rm. 3:24-25).

Tuhan Yesus sebagai jalan pendamaian, artinya membuka akses manusia untuk berdamai dengan Allah, dan dapat diproses untuk bisa hidup dalam keadaan seperti kesucian Allah. Dengan demikian Allah menunjukkan kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya dengan penebusan yang diberikan melalui korban Tuhan Yesus (Rm. 3:26). Untuk itu tidak ada dasar orang percaya untuk sombong atau bermegah (Rm. 3:27). Selanjutnya, orang percaya harus meresponi anugerah Allah, yaitu untuk bertumbuh guna mencapai perkenanan Tuhan, sebab semua orang harus menghadap takhta pengadilan Allah. Dalam pengadilan tersebut masing-masing individu harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan.

Sejak adanya korban Tuhan Yesus, maka manusia tidak lagi terikat oleh hukum (hukum Taurat). Tidak lagi bisa dinyatakan bahwa seakan-akan hanya orang Yahudi yang dapat dibenarkan karena memiliki hukum Taurat. Semua orang, baik orang Yahudi dan non Yahudi, memiliki kedudukan yang sama. Semua mereka harus mulai masuk ke dalam pembenaran oleh iman. Dalam hal ini manusia harus mulai berurusan dengan Allah yang benar secara langsung.

Pembenaran oleh iman bukan berarti dengan sendirinya orang Kristen bisa menjadi benar atau dianggap benar oleh korban Kristus. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya seorang yang mengaku beriman harus hidup seperti Abraham, yaitu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Kalau orang Kristen belum hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah berarti belum beriman. Kalau orang Kristen salah memahami kata iman, seakan-akan iman hanyalah persetujuan pikiran atau aktivitas nalar, maka Kekristenannya adalah palsu. Biasanya orang Kristen seperti ini tidak berjuang untuk mencapai target atau goal sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa ketidakbenaran manusia menunjukkan atau membuat berlimpah kebenaran Allah. Dalam hal tersebut Allah menunjukkan kebenaran-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus, sehingga manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah dapat melihat dan menemukan kemuliaan Allah yang tergambar pada kehidupan Yesus. Dengan kehadiran Yesus yang menampilkan kebenaran Allah, menunjukkan betapa jauh keadaan manusia dari rancangan Allah semula. Manusia harus menyadari keadaannya yang jauh dari kesucian Allah dan selanjutnya harus bergerak untuk mencapai kesucian Allah dengan anugerah “kuasa” (Yun. exousia) yang Allah berikan (Yoh. 1:12-13).

Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan bermaksud meniadakan Taurat (Rm. 3:31). Orang percaya dipanggil untuk melakukan Taurat yang telah disempurnakan oleh Tuhan Yesus, yang pada dasarnya menunjuk pada kesucian Allah sendiri. Misalnya membunuh itu menghabisi nyawa orang, demikian standar Taurat. Tetapi Taurat yang disempurnakan mengajarkan bahwa membenci sudah merupakan tindakan membunuh. Hal ini menunjuk kesucian Tuhan yang sempurna.

Memang tidak seorang pun dapat dibenarkan melakukan hukum Taurat. Keselamatan dimulai dari karya salib. Setelah seseorang menerima karya salib, maka ia harus belajar mengenakan Taurat yang disempurnakan, yaitu Tuhan sendiri sebagai hukumnya. Dalam hal ini, perjuangan untuk mencapai kesucian Allah merupakan panggilan bagi setiap orang percaya yang harus ditunaikan. Dengan demikian Allah menghendaki agar hukum Taurat tetap eksis, sampai langit dan bumi ini lenyap. Tentu hukum Taurat yang telah disempurnakan oleh Yesus. Di dalam hukum Taurat yang telah disempurnakan oleh Yesus tersebut nampak cermin kesucian Allah yang sempurna.