Mengajarkan Keselamatan Yang Salah
03 December 2019

Hal yang paling prinsip untuk mengenal Yesus adalah bahwa Dia mengajarkan keselamatan yang benar. Pengajaran mengenai keselamatan ini sangatlah penting dalam kehidupan iman Kristen. Pengertian mengenai keselamatan merupakan jantung dari pengajaran iman Kristen. Kegagalan memahami doktrin ini berarti kegagalan memahami banyak kebenaran lain dalam Alkitab. Hal ini juga pasti berdampak pada sikap hidup orang percaya tersebut. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa kualitas hidup kekristenan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengertiannya terhadap doktrin keselamatan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh salah dalam memahami doktrin ini. Yesus menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga bukanlah keselamatan itu sendiri, melainkan sebenarnya adalah buah atau akibat dari keselamatan, yaitu jika seseorang mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar.

Banyak pembicara Kristen yang mengajarkan bahwa Yesus dalam pemberitaan Injil-Nya menekankan bahwa kalau seseorang percaya kepada diri-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan, ia pasti akan terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Yesus seakan-akan hanya memberitakan status-Nya, dan orang yang percaya terhadap status-Nya dijamin masuk surga. Itu tentu saja bukan Yesus yang orisinal, melainkan “Yesus yang lain.” Kalau keselamatan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, kekristenannya pasti hanya kulit, tidak menyentuh inti kekristenan yang benar. Pengertian keselamatan yang salah tidak membangun iman yang benar terhadap Yesus, sehingga tidak mengerti keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui karya salib-Nya. Kalau pengertian mengenai iman sudah salah, pengiringannya kepada Yesus juga pasti salah. Orang-orang yang tidak memahami keselamatan yang benar, mereka sejatinya mengikut “Yesus yang lain.”

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah yang semula atau tujuan awal manusia diciptakan. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki keserupaan dengan diri-Nya. Ini berarti fokus keselamatan haruslah bagaimana “menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah.” Jika demikian, orang yang berkehendak untuk selamat haruslah memberi diri digarap oleh Tuhan melalui Roh Kudus untuk menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Dengan demikian, inti keselamatan adalah perubahan karakter menuju kesempurnaan. Dalam Matius 5:48 Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Dalam Matius 5:20 dikatakan bahwa orang percaya harus memiliki kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku (Yun. dikaiosune) melebihi tokoh-tokoh agama manapun. Kesempurnaan dalam Matius 5:48 menunjuk pada kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Allah berfirman agar umat pilihan menjadi kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4).

Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah oleh segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Paulus menyatakan bahwa orang percaya harus serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29), sebab Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Dalam hal ini, kesempurnaan berorientasi pada diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah, yaitu segala sesuatu yang orang percaya lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu orang percaya harus mengalami transformasi—yaitu perubahan pikiran—sehingga dapat mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab setiap orang akan diperhadapkan kepada takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Jika suatu sikap atau tindakan tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah, itu bukanlah kesempurnaan, walaupun hal tersebut tampakbaik dan tidak melanggar norma umum manusia. “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa yang penting seseorang percaya kepada status-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.Hal itu dianggap sudah cukup menyelamatkan diri orang tersebut.Padahal, Yesus mengajarkan dan menghendaki agar orang percaya mengikuti jejak-Nya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan diri-Nya.