Mengajarkan Kemakmuran Duniawi
04 December 2019

“Yesus yang lain” berbicara mengenai keselamatan dan menghubungkannya dengan berkat materi atau pemenuhan kebutuhan jasmani. -Keselamatan seakan-akan adalah jalan untuk membebaskan manusia, bukan saja dari api neraka, melainkan juga dari kesulitan hidup menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dalam dunia hari ini. Dalam hal ini, orientasi keselamatan yang seharusnya berpusat pada kebutuhan rohani—yaitu perubahan karakter menjadi seperti Kristus—diarahkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tentu saja hal ini diminati oleh manusia zaman ini yang memang telah tertawan oleh filosofi materialisme dan hedonisme. Banyak orang beragama karena berusaha dapat berurusan dengan Tuhan hanya demi pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Yesus dalam pemberitaan-Nya sama sekali tidak menekankan hal pemenuhan kebutuhan jasmani. Mukjizat dan berbagai tanda-tanda ajaib hanya tanda supaya orang Yahudi dapat memercayai Dia yang berasal dari atas, sehingga mendengarkan pengajaran-Nya (Yoh. 3:1-5). Mukjizat dan tanda-tanda ajaib bukanlah tujuan, melainkan sarana sementara (Mrk. 16:17-18).

“Yesus yang lain” menjanjikan kemakmuran duniawi dengan mengupayakan kesejahteraan manusia di bumi ini.“Yesus yang lain” mengesankan bahwa dirinya membuat hidup orang Kristen dapat menjadi nyaman di bumi oleh berkat jasmani. “Yesus yang lain” menawarkan keindahan dunia ini dapat diraih dengan kuasa Allah. Itulah sebabnya mereka yang terinfus ajaran “Yesus yang lain” yang mengajarkan bahwa kesulitan hidup selalu datangnya dari Iblis. Karena itu, mereka merasa membutuhkan kuasa Allah untuk menghadapi serangan kuasa gelap tersebut. Padahal, justru Allah Bapa sering mengizinkan kesukaran hidup demi kebaikan umat pilihan-Nya, yaitu agar mereka bertumbuh dewasa menjadi seperti Yesus, Anak Allah yang benar (Rm. 8:28-29).

“Yesus yang lain” dan pengikutnya tidak mengajarkan bahwa kenyamanan hidup bisa membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Allah sendiri. Padahal, kenyamanan hidup membuat seseorang tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Inilah ciri dari orang yang sedang terjerat oleh tipu daya kekayaan, yaitu ia tidak mencintai sesamanya dan tidak mengupayakan keselamatan jiwa orang lain. Hal ini dikemukakan oleh Injil dalam Markus 10:21-22, yaitu mengenai orang yang tidak mau melepaskan miliknya untuk orang lain, sehingga ia gagal menjadi pengikut Yesus. Keadaan seperti ini ada dalam diri orang yang telah tertawan oleh percintaan dunia ini. Dalam hal ini, Tuhan memperingatkan agar orang percaya menjaga diri dari kepentingan-kepentingan duniawi yang sama dengan percintaan dunia (Luk. 21:34). Percintaan dunia inilah yang sama artinya dengan tipu daya kekayaan yang telah menjerat banyak orang. Orang yang terikat dengan keindahan dunia dengan segala hiburannya sama dengan “menyembah Iblis.”

Yesus berkata bahwa di rumah Bapa-Nya banyak tempat tinggal, tetapi mereka yang telah mendengar ajaran “Yesus yang lain” tidak merindukan rumah Bapa, sebab mereka telah menjadikan dunia ini sebagai Firdausnya. Rumah Bapa menjadi tidak menarik karena ada rumah “bapa yang lain,” yaitu keindahan dunia ini. Inilah keinginan dan harapan manusia pada umumnya: memiliki sebuah Firdaus di bumi ini tanpa memikirkan Rumah Bapa yang mestinya adalah rumah orang percaya yang benar. Sementara mereka membangun Firdaus di bumi, mereka mengharapkan Tuhan mau mengerti atau menoleransi keadaan itu, serta tetap menyediakan surga nanti. Padahal Tuhan Yesus mengatakan, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga … Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:20-21), dan “tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24)

“Yesus yang lain” mengajarkan keselamatan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Dari pengajaran “Yesus yang lain” ini lahirlah teologi kemakmuran (prosperity theology) yang mengajarkan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus menekankan pemulihan kehidupan jasmani. Orang-orang Kristen yang disesatkan memiliki cara berpikir yang tidak berbeda dengan umat Perjanjian Lama pada umumnya, yaitu menggiring pemikiran dan fokus hidup pada perkara-perkara duniawi.Dalam Yohanes 10:10 Yesus berkata, “… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Ketika Yesus berbicara mengenai kelimpahan, Ia sama sekali tidak mengkaitkan hal itu dengan berkat jasmani. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk memberi hidup. Kata “hidup” dalam teks ini adalah zoe (Yun. ζωὴ), bukan bios. Kata bios lebih menunjuk pada hidup makhluk pada umumnya, tetapi zoe lebih menunjuk pada hidup yang berkualitas. Kata “kelimpahan” dalam teks ini bukan berarti banyak secara atau dalam arti materi, melainkan “tinggi dalam kualitas” (Ing. very high quality), yang bahasa aslinya adalah perisson (Yun.περισσὸν).