Menentukan Penyelesaiannya
26 November 2019

Apakah kita dapati seorang percaya yang menyelesaikan tugas kehidupan yang dijalani dengan sempurna? Seberapa seseorang mau sungguh-sungguh berjuang? Dalam hal ini, bukan Tuhan yang menentukan kemenangan atau kekalahan seseorang. Kehendak bebas individu-lah yang menentukan. Salah satu keistimewaan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah kehendak. Tidak ada makhluk hidup yang diberi kehendak seperti yang dimiliki manusia. Allah memberi manusia komponen untuk dapat membuat pilihan, yang pasti akan menentukan atau paling tidak memengaruhi keadaan mereka. Komponen itu adalah pikiran dan perasaan. Dari pikiran perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut, seseorang dapat mengambil keputusan atau pilihan. Inilah kehendak bebas. Jika manusia tidak memiliki pikiran dan perasaan, manusia tidak memerlukan kehendak bebas. Justru karena ada pikiran dan perasan tersebut, manusia dapat memiliki atau harus memiliki kehendak bebas.

Dengan memiliki kehendak bebas, manusia menentukan nasib dan keadaan dirinya sendiri. Dalam hal ini manusia bisa mengasihi Allah dengan segenap hati (secara proporsional) atau tidak mengasihi Tuhan secara proporsional—atau berarti belum mengasihi Tuhan secara pantas. Dalam kehendak bebas tersebut, manusia dengan pilihannya, menentukan apakah menyelesaikan tugas kehidupannya dengan sempurna atau tidak. Pilihan seperti di atas ini tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, tetapi ditentukan oleh motif dari dirinya sendiri: hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun pertimbangan yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau pancaindranya. Semua itu menentukan apakah seseorang dapat menyelesaikan tugas kehidupannya atau tidak. Oleh sebab itu, orang percaya harus berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam pikirannya. Untuk hal ini, betapa dibutuhkannya kebenaran Firman Tuhan untuk selalu memperbarui pikiran seseorang. Pikiran yang dibaharui akan meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan tugas kehidupan.

Fragmen yang terjadi di Taman Eden adalah gambaran kehidupan manusia, bukan hanya bagi manusia pertama, melainkan juga bagi semua manusia di segala tempat dan di sepanjang zaman: bahwa manusia dikendalikan oleh kehendak bebasnya atau free will dalam menentukan nasib atau keadaan dirinya. Tuhan sebagai hakim menegakkan hukum itu dengan segala risiko dan konsekuensinya, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan sendiri. Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah, dan Allah sendiri yang harus turun menyelamatkannya. Orang bertanggung jawab atas sesuatu yang disebabkan oleh keputusan dari tindakannya. Orang yang tidak menjadi penyebab dari suatu akibat tidak bertanggung jawab atas sesuatu. Dalam hal ini, keadaan manusia hari ini adalah hasil atau akibat dari keputusannya masa lalu. Tuhan tidak bisa dipersalahkan. Dalam hal tersebut, manusia ditantang untuk menundukkan diri kepada Tuhan—hidup di bawah kedaulatan Tuhan—atau hidup dalam kedaulatannya sendiri sehingga menjadi budak dosa. Dari hal kejatuhan manusia jelas ditunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menentukan “nasibnya” atau takdirnya.

Tuhan seperti menggelar sebuah gelanggang, bukan panggung sandiwara. Dalam gelanggang tersebut ada pihak-pihak yang terlibat, yaitu Allah sendiri, Iblis, para malaikat, dan manusia. Allah membiarkan semua berlangsung dengan fair. Tidak ada rekayasa atau sebuah pengaturan yang dipaksakan. Dalam gelanggang tersebut, Allah dalam kedaulatan-Nya menetapkan aturannya. Semua harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Allah, bahkan diri Allah sendiri. Aturan itu ada dalam diri Allah sebagai Hakim dan penyelenggara kehidupan ini. Masing-masing pihak memiliki kedaulatan atau independensi, baik manusia, malaikat, Iblis, maupun Allah sendiri. Dalam hal ini, Allah masuk ke dalam dimensi waktu dan pergumulan ciptaan-Nya. Dengan memandang kehidupan dari perspektif yang benar, seseorang bisa menempatkan diri sebagai makhluk ciptaan pada proporsi yang tepat di hadapan Allah, juga relasinya dengan kuasa jahat atau Iblis. Orang percaya juga bisa menempatkan Tuhan pada tempat yang benar. Selanjutnya, tanggung jawab hidup individu bisa tampil secara wajar. Dengan pemahaman dari perspektif yang benar tersebut, orang percaya dapat memperlakukan dan menyelenggarakan hidup ini dengan benar serta berusaha menyelesaikan tugas kehidupannya dengan sempurna.