Menentukan Keselamatan Diri Sendiri
23 February 2019

Dari sejarah panjang bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan, kita dapat memperoleh pelajaran bagaimana menghindarkan diri dari kegagalan. Bukan hanya kegagalan bisnis, bukan kegagalan berumah tangga, bukan kegagalan studi dan lain sebagainya, tetapi kegagalan diterima di “kemah abadi” atau di Kerajaan Surga. Ini adalah kegagalan yang paling mengerikan dalam kehidupan ini. Kalau gagal yang lain hanya berdampak sementara, tetapi kalau ditolak Tuhan, merupakan kegagalan fatal, abadi dan sangat dahsyat. Firman Tuhan ini kiranya dapat menghindarkan kita dari kegagalan tersebut.

Kegagalan sebagian bangsa Israel mencapai tanah Kanaan bukan karena kesalahan Tuhan. Bukan karena memang sebagian ditentukan Tuhan untuk dapat sampai tanah Kanaan dan yang lain dibiarkan gagal. Tuhan tidak memiliki kejahatan sama sekali, Ia bukan saja pasti tidak mengupayakan kecelakaan bagi umat pilihan-Nya, tetapi ia juga tidak akan membiarkan mereka celaka. Kalau ternyata pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai tanah Kanaan, hal itu disebabkan keputusan dan pilihan mereka sendiri.

Tuhan yang memilih Saul sebagai raja, tetapi ternyata Saul tidak menjadi raja yang baik. Ia tidak taat kepada Allah. Ia harus diturunkan dari takhtanya dan Daud menggantikan takhtanya. Apakah dalam hal ini Allah salah atau gagal memilih Saul? Kalau kita ikuti perjalanan kisah pemilihan Saul sebagai raja, Saul dipilih Tuhan sebagai raja dengan tanda yang jelas (1Sam. 9-10). Saul juga bukan orang yang jahat. Ia berprestasi dalam pemerintahannya (1Sam. 11). Tetapi ketidaktaatannya yang “kelihatannya kecil” telah menjatuhkannya dan membuat ia terbuang (1Sam. 13). Tentu Tuhan tidak merancang penolakan-Nya terhadap Saul, Saullah yang menentukan nasib takhtanya.

Demikian pula dalam kehidupan manusia pada umumnya, apakah seseorang pada akhirnya sampai Kerajaan Bapa atau di langit baru dan bumi yang baru atau tidak, bukanlah ditentukan oleh Tuhan tetapi pilihan dan keputusan manusia itu sendiri. Firman Tuhan jelas sekali berkata bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Ia menginginkan semua orang berbalik dan bertobat, tetapi kalau manusianya menolak bertobat, Tuhan tidak memaksa seseorang untuk berbalik dan bertobat. Hal ini sama dengan bahwa Tuhan tidak menghendaki Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang untuk dimakan, tetapi Tuhan tidak memaksa mereka untuk tidak memetiknya.

Tuhan juga tidak menghalangi ketika mereka memang berniat dengan kesadaran untuk memetiknya. Jadi, Tuhan tidak menentukan siapa yang akan binasa dan yang akan selamat. Manusia yang menentukan takdirnya sendiri. Nasib sebagian bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Kanaan -yang pada akhirnya membuat mereka tidak menginjak tanah Kanaan- disebabkan karena kesalahan mereka sendiri. Mereka sendiri yang menentukan takdirnya. Tuhan bukan tidak sanggup memimpin bangsa Israel sampai tanah Kanaan, Tuhan juga bukan bermaksud menewaskan mereka di padang gurun. Sesungguhnya Tuhan hendak memenuhi janji-Nya kepada Abraham -yaitu menempatkan keturunan Abraham agar dapat menduduki dan mendiami tanah yang Allah janjikan- tetapi karena pemberontakan mereka, maka mereka tidak sampai tanah Kanaan.

Tuhan memilih bangsa Israel agar dapat keluar dari Mesir untuk ditempatkan di Kanaan, Tanah Perjanjian, tetapi ternyata sebagian besar mereka mati di padang gurun (1Kor. 10:5-6, 11-12). Kegagalan tersebut apakah disebabkan oleh pihak Tuhan (karena Tuhan tidak sanggup memindahkan bangsa itu ke Mesir) atau karena bangsa Israel sendiri yang keras kepala? Dalam Ibrani 3:7-11 dikemukakan bahwa bangsa Israel mengeraskan hati tidak mau taat kepada Allah, walaupun selama 40 tahun mereka telah melihat perbuatan-perbuatan ajaib yang luar biasa dari Tuhan dan Tuhan dengan sangat penuh perhatian telah menuntun mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kegagalan mereka sampai tanah Kanaan sebab mereka keras kepala dan tidak tunduk kepada Tuhan.

Berkenaan dengan hal ini Tuhan berfirman bahwa semua itu menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini (1Kor. 10:11-12). Dalam hal ini jelas sekali, Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel tersebut -khususnya kegagalan sebagian bangsa Israel sampai tanah Kanaan- menjadi gambaran kehidupan orang percaya dalam mencapai Kerajaan Surga. Kalau ada sebagian orang Kristen keras kepala dan tidak tunduk kepada kehendak Tuhan seperti bangsa Israel, maka sudah pasti Tuhan tidak akan mengizinkan mereka masuk Kerajaan Surga.