Menemukan Kemuliaan Allah
27 March 2019

Sebenarnya banyak orang yang telah tercengkeram oleh kuku-kuku kuat kuasa kegelapan, sehingga kehidupannya dikuasai oleh kuasa jahat. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam kekuasaan kuasa kegelapan. Apalagi kalau mereka rajin ke gereja, ikut mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan diangkat sebagai aktivis gereja, maka mereka mudah sekali tertipu oleh dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang telah yakin dan merasa sebagai hamba Tuhan yang benar, padahal belum tentu telah diakui sebagai hamba-Nya. Pengakuan sebagai hamba Tuhan harus berangkat dari Allah, bukan dari manusia yang dalam hal ini diwakili oleh sinode. Seseorang bisa disahkan sebagai pendeta atau pejabat sinode dan dengan lantang mengakui dirinya sebagai hamba Allah, tetapi bagaimana pengakuan dari Allah? Dalam hal ini setiap pendeta harus sungguh-sungguh memperkarakannya.

Banyak pendeta yang bisa mengusir setan dan mengadakan mukjizat, merasa dirinya sudah dapat bebas dari cengkeraman kuasa kegelapan. Mereka bisa mengusir setan yang secara fisik atau secara kasat mata menguasai seseorang, tetapi mereka tidak menyadari adanya belenggu dalam jiwanya sendiri. Biasanya belenggu itu menyangkut masalah uang, kekuatan libido, dan kehormatan dalam gereja. Tidak heran jika ada pendeta-pendeta hebat di mata manusia ternyata masih dalam ikatan dosa yang memalukan. Barangkali secara moral umum mereka tidak terlibat dalam perzinaan, penggelapan uang, dan pertikaian fisik dengan pendeta lain, tetapi sebenarnya mereka mengingini perkara-perkara tersebut (harta dan takhta). Dengan sangat halus, cerdik, dan terselubung mereka mengingininya, sebagai sesuatu yang dirasakan dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang nantinya akan ditolak oleh Tuhan Yesus.

Banyak hamba Tuhan dan orang Kristen tidak sadar bahwa ia telah menjual dirinya kepada kuasa kegelapan. Bilamana hal ini bisa terjadi? Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengingini segala sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki untuk diingini. Barangkali yang diingini bukan sesuatu yang salah di mata manusia dan tidak melanggar moral umum. Tetapi kalau hal itu tidak dikehendaki oleh Tuhan untuk diingini, maka hal tersebut juga berarti sebuah pelanggaran. Harus diingat, ketika kita menerima penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti segenap hidup kita -termasuk pikiran, perasaan, dan kehendak- telah dimiliki oleh Tuhan. Kita tidak berhak mengingini sesuatu yang tidak dikehendaki atau tidak diingini oleh Tuhan.

Dengan mengingini sesuatu, maka jiwa dan hati seseorang terarah kepada apa yang diingini tersebut. Bila yang diinginkan tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan, maka berarti ia menolak melayani Tuhan. Menolak melayani Tuhan artinya tidak melayani keinginan-Nya atau selera Tuhan. Ini adalah sikap pemberontakan kepada Tuhan. Orang yang memberontak kepada Tuhan berarti menghamba kepada Iblis. Jadi, apa yang diingini seseorang itulah yang memberi arah kepada siapa seseorang memberi diri untuk dikuasai atau dibelenggu.

Manusia harus diciptakan sepenuhnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan dimulai dari pemurnian hasrat atau keinginan. Kegiatan gereja seharusnya merupakan pembinaan atau arahan agar jemaat tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan sebagai Pencipta dan pemilik kehidupan ini. Dengan cara bagaimanakah seseorang tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan? Yaitu bila seseorang berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Jemaat Tuhan harus belajar untuk tidak mengingini apa yang Tuhan kehendaki untuk tidak diingini umat-Nya.

Perjalanan hidup ini adalah sebuah perjalanan hidup untuk mengingini apa yang Tuhan ingini dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Perjalanan hidup seperti ini adalah perjalanan hidup seseorang yang telah mati bagi dirinya sendiri, tetapi hidup untuk kemuliaan Tuhan (2Kor. 5:14-15). Dari hal ini seseorang menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Oleh sebab itu kesempatan untuk menemukan kemuliaan yang hilang hendaknya tidak disia-siakan. Barangkali ini adalah kesempatan terakhir (the last chance) kita.