Meneguhkan Hukum
25 February 2018

Dalam Roma 3:28 ditegaskan kembali oleh Paulus: Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Dari tulisan ini Paulus mengingatkan bahwa hukum Taurat tidak membuat orang dibenarkan, selain tidak ada yang bisa melakukan hukum Taurat dengan sempurna, hukum Taurat yang dikenal oleh bangsa Israel belumlah berstandar kesucian Allah. Belum berstandar kesucian Allah artinya belum membawa manusia kepada keadaan memiliki kemuliaan Allah. Hal ini artinya belum sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus; belum segambar dan serupa dengan Allah. Bagi umat Perjanjian Baru, standar kesucian Allah inilah yang mutlak harus dialami dan dimiliki.

Dengan dibenarkan oleh iman, maka orang percaya diarahkan untuk memiliki standar kesucian seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya iman yang dimaksud adalah iman yang mengacu atau berpola pada iman Abraham (Rm. 4:1-3; 9-23). Iman Abraham bukanlah sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman bukan hanya aktivitas pikiran, tetapi penurutan terhadap kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan, dilakukan Abraham dengan segenap hati. Hidup Abraham disita sepenuhnya oleh kehidupan hanya untuk menuruti kehendak Allah. Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, kita dimungkinkan untuk memiliki penurutan terhadap kehendak Allah secara sempurna seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Dengan pembenaran oleh iman, maka tidak ada eksklusivitas umat pilihan. Bangsa Israel tidak lagi boleh merasa eksklusif. Karena pembenaran bukan didasarkan pada melakukan hukum Taurat, tetapi oleh iman. Paulus menegaskan ini dengan tulisannya: Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman (Rm. 3:29-30). Memasuki zaman Perjanjian Baru, umat pilihan adalah semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Umat pilihan tidak lagi didasarkan pada darah daging keturunan Abraham secara jasmani, tetapi berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kemudian Paulus mengakhiri Roma 3 dengan kalimat: Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Rm. 3:31). Kata “meneguhkan” dalam teks aslinya adalah histemi (ἵστημι), yang artinya membuat kokoh atau menempatkan dan membuat permanen tetap. Dari pernyataan Paulus tersebut, secara tidak langsung Paulus hendak mengemukakan bahwa kalau seseorang sudah dibenarkan oleh korban Kristus bukan berarti boleh hidup tanpa hukum (hukum Taurat); sesukanya sendiri. Orang percaya lepas dari hukum Taurat, masuk kepada hukum yang disempurnakan yaitu kehendak Allah sendiri yang sempurna, yaitu pikiran dan perasaan-Nya.

Justru setelah seseorang menerima penebusan oleh darah Yesus, maka harus memperhatikan hukum yang pernah Allah berikan kepada umat pilihan secara jasmani yaitu bangsa Israel. Hukum yang diberikan kepada bangsa Israel merupakan cermin dari kekudusan Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Kedatangan Tuhan Yesus sendiri terkait dengan Taurat adalah untuk menyempurnakannya (Rm. 3:17).

Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan, tetapi menggenapi Taurat. Kata meniadakan dalam teks aslinya kataluo (καταλύω) yang artinya juga menghancurkan atau memusnahkan. Sedangkan kata menggenapi dari bahasa Yunani pleroo (πληρόω), artinya memenuhi. Orang percaya dari suku bangsa manapun setelah menerima penebusan oleh darah Yesus harus mengenakan hukum Taurat yang disempurnakan. Hukum Taurat yang disempurnakan adalah cerminan kekudusan Allah yang sempurna. Jadi, orang Yahudi yang percaya Yesus beralih dari hukum Taurat yang belum disempurnakan beralih kepada hukum Taurat yang disempurnakan, yaitu Tuhan sendiri. Dari Taurat adalah hukumku, berubah menjadi Tuhan adalah hukumku. Inilah yang dimaksud dengan melakukan kehendak Bapa.

Kenyataan yang dapat dilihat hari ini, seringkali justru pihak gereja yang menyesatkan jemaat, yaitu ketika jemaat dinyatakan sudah berkenan di hadapan Tuhan, dinyatakan sudah menjadi anak Allah yang sah bahkan diyakinkan bahwa mereka sudah menjadi umat pemenang yang boleh memastikan diri masuk surga. Padahal, keberadaan mereka belum seperti yang dikehendaki dan direncanakan oleh Allah. Harus diingat bahwa tidak semua orang yang berseru kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan akan masuk surga, tetapi yang melakukan kehendak Bapa. Jadi masalahnya adalah: sudahkah kita melakukan kehendak Bapa?