Mencari Perkenanan Tuhan
25 February 2019

Kesaksian hidup pelayanan Paulus dapat terlihat dari 1 Korintus 9:15 yang tertulis: “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada …! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga.” Paulus lebih suka mati daripada… Dilihat dari konteksnya titik-titik di sini bisa berarti “menerima uang jemaat” atau fasilitas dari jemaat. Ini adalah kemegahan atau kebanggaan Paulus dalam pelayanan, bukan untuk meninggikan diri. Pola hidup dan pelayanan Paulus ini seakan-akan tindakan yang “menggugat” atau protes terhadap keberadaan pola pelayanan rasul-rasul lain. Mereka bisa memberitakan Injil tanpa bekerja tangan seperti Paulus, pergi pelayanan dengan istri difasilitasi oleh jemaat, sementara Paulus tidak. Itulah sebabnya dalam pernyataannya berkenaan dengan pelayanan Paulus mengatakan: “Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:33-35).

Dalam hal tersebut di atas Paulus memiliki integritas yang tinggi. Ia tidak khawatir dan tidak takut ditolak oleh rasul-rasul lain dengan keberadaan yang secara tidak langsung bisa menggugat keberadaan mereka. Dalam kasus lain, Paulus sendiri -walaupun junior dibanding Petrus- tetapi ketika Petrus salah, Paulus berani menegurnya dengan tegas (Gal. 2:14). Dari hal ini jelas sekali, Paulus tidak takut ditolak oleh siapa pun, bahkan oleh rasul-rasul lainnya. Pandangan yang mengatakan bahwa Paulus berjuang melatih tubuh dan menguasainya agar tidak ditolak oleh manusia yang mendengar pemberitaan Injil adalah pandangan yang sangat keliru. Dalam Galatia 1:6-10 ketika Paulus berbicara mengenai Injil palsu, Paulus tegas mengatakan bahwa orang yang memberitakan Injil palsu patut dikutuk. Kemudian ia mengakhirinya dengan pernyataan: “… Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal. 1:10).

Memang dalam perikop 1 Korintus 9 terdapat penjelasan bahwa Paulus berusaha membawa diri sedemikian rupa kepada orang-orang yang dilayani agar pemberitaan Firman yang disampaikan bisa diterima, tetapi bukan berarti ia bersikap kompromi. Bagi Paulus yang penting dan utama adalah bekerja keras tanpa memedulikan hak-haknya, tidak peduli Taurat yang menyatakan bahwa seorang pekerja rohani patut mendapat kehidupan nafkah, bahkan juga tidak peduli dengan pola pelayanan rasul-rasul lainnya (1Kor. 9:8-14). Bagi Paulus yang diupayakan dengan sungguh-sungguh adalah bagaimana ia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (1Kor. 9:19-22). Kata memenangkan dalam teks aslinya adalah kerdaino (κερδαίνω). Dalam arti sempit kata berarti memperoleh keuntungan (gain), tetapi dalam arti luas secara metaphora berarti memenangkan atau merebut orang agar atau untuk dapat melarikan diri atau menghindar dari kejahatan (of gain arising from shunning or escaping from evil).

Pengertian memenangkan orang yang diulang berkali-kali dalam perikop ini tentu tidak hanya berarti membawa orang menjadi Kristen, tetapi bagaimana mereka memiliki kehidupan yang sepadan dengan Injil yang mereka telah terima, yaitu tidak hidup dalam kejahatan (Flp. 1:27). Sangatlah miskin kalau pengertian memenangkan jiwa hanya berarti membawa orang menjadi seorang beragama Kristen. Memenangkan orang berarti mengubah manusia dari kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah menjadi orang yang hidup dalam keselamatan Tuhan Yesus, yaitu dikembalikan ke rancangan semula atau menjadi serupa dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:28-29).

Tentu sebagai pemberita kebenaran Injil, Paulus sendiri haruslah menunjukkan bagaimana hidup sebagai orang yang telah memiliki keselamatan dalam Yesus Kristus. Tentu Paulus berjuang agar dirinya yang sudah membawa orang kepada kehidupan yang terhindar dari kejahatan, jangan sampai dirinya sendiri ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Paulus juga berjuang melatih tubuhnya dan menguasai seluruhnya. Hal ini memberi pelajaran bagi semua hamba Tuhan, bahwa prestasi pelayanan tidak menentukan kedewasaan rohani dan perkenanan di hadapan Tuhan.