Menaruh Harapan
20 October 2019

Kegagalan orang percaya sebagai murid Yesus adalah ketika ia gagal hidup dalam penguasaan Tuhan dan kontrol Tuhan yang adalah Pemilik hidup ini. Ini berarti mereka tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan ini, yang sama dengan tidak hidup dalam pemerintahan Allah. Kalau seseorang hidup dalam pemerintahan Allah, berarti ia hidup dalam pengendalian Allah. Pengendalian ini bukanlah bermaksud untuk mengambil alih kebebasan yang Tuhan berikan kepada masing-masing manusia. Pengendalian di sini artinya adalah kesediaan setiap individu untuk mencari kehendak-Nya dan menuruti-Nya dengan rela dan sukacita sebagai kebutuhan, bukan sebagai perintah atau kewajiban. Inilah ciri utama seorang manusia yang hidup sebagai milik Tuhan. Orang percaya harus selalu mengingat bahwa dirinya telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Ini berarti orang percaya tidak berhak lagi atas dirinya sendiri. Untuk hidup dalam pemerintahan Allah, yaitu dengan hidup dalam kendali-Nya, bukan sesuatu yang mudah. Orang percaya akan merasakan betapa sulit dan sukarnya hidup dalam kendali Allah, terutama pada waktu gagal berkali-kali untuk hidup dalam kesucian. Hendaknya orang percaya tetap tekun dan tidak menyerah. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup dalam pengendalian-Nya secara penuh.

Banyak orang yang sadar akan banyaknya kegagalan yang telah dialaminya pada masa lalu, yaitu gagal untuk hidup dalam pengendalian Allah. Kegagalan tersebut nyata dalam bentuk berbagai perbuatan yang tidak dikehendaki oleh Allah; hidup dalam kehidupan yang tidak bersih. Banyak orang Kristen harus menuai akibat persemaian dan taburan masa lalunya. Hal ini bisa membuat orang tersebut putus asa. Harus diingat, bahwa dalam kesabaran Tuhan, orang percaya masih diberi kesempatan selama masih memiliki tekad untuk berubah. Untuk ini, ada beberapa saran yang dapat diberikan. Pertama, tetap giat untuk mencari kehendak Allah untuk dilakukan. Inilah sebenarnya yang dimaksud mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, yaitu hidup dalam pemerintahan Allah, bukan pemerintahannya sendiri. Kedua, menyadari dan menghayati bahwa seluruh kehidupan ini adalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan bagi kepentingan-Nya secara penuh. Ketiga, haus akan Allah untuk menikmati Dia sebagai pribadi yang hidup dan nyata. Bukan hanya menikmati berkat-berkat jasmani semata-semata, tetapi yang dinikmati adalah hadirat-Nya.

Di tengah-tengah keadaan putus asa atau setengah putus asa, orang percaya harus selalu bergantung kepada Allah yang menjadi andalan hidup ini. Orang percaya hidup di bawah bayang-bayang pemerintahan Allah yang menaunginya. Keyakinan terhadap pemerintahan Allah memberi kekuatan batin yang hebat dalam keadaan-keadaan sulit yang dihadapi orang percaya. Selanjutnya, ketergantungan kepada Allah memberi pengharapan dalam meniti perjalanan hidup di dunia ini, yaitu dapat semakin sempurna, dan harapan di balik kubur nanti yaitu kemuliaan bersama Kristus. Keyakinan bahwa ada pemerintahan di balik kekuatan manusia ini akan menjadikan hidup orang percaya digerakan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup yang menentukan segala sesuatu. Ini berarti bahwa Tuhanlah yang menaungi segala sesuatu. Kesadaran ini akan nyata dalam sikap hidup yang selalu merendahkan diri di hadapan-Nya untuk bergantung dan berharap sepenuh dalam segala sesuatu. Orang-orang yang bersikap seperti ini akan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Bagi orang-orang seperti ini, kehidupan ini tidak lengkap tanpa Tuhan. Segala kesanggupan, kemampuan, dan kecakapan tidak artinya tanpa Tuhan yang menaunginya dan menjadi sumber kesukaannya.

Kalau orang percaya menaruh pengharapan pada sumber lain, maka ini merupakan bentuk pengkhianatan yang mendatangkan kutuk. Orang-orang menaruh pengharapan pada sumber lain tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidupnya. Mereka terpisah dari pemerintahan Allah. Dalam hal ini, bisa dimengerti mengapa Allah menentang kehendak bangsa Israel yang meminta seorang raja, sebab Allah merekalah sebenarnya Raja mereka, yaitu Pribadi yang menjadi tumpuan semua rakyat Israel. Pengakuan Iman Rasuli: “Aku percaya kepada Allah Bapa, khalik langit dan bumi” harus merupakan pengakuan hidup setiap hari yang dapat dilihat setiap orang. Ini juga merupakan kesaksian. Ketika seseorang berkata, “aku percaya kepada Allah Bapa, khalik langit dan bumi” maka orang percaya itu telah memproklamirkan adanya Tuhan yang Mahakuasa yang menentukan segala sesuatu. Dalam hal ini, orang percaya menantang dunia, siapa yang lebih dapat diandalkan: kekuatan Tuhan atau kekuatan di luar Tuhan. Pengakuan bahwa seseorang percaya kepada Allah Bapa juga merupakan kesaksian bahwa orang percaya berada di pihak Tuhan dan memercayai Allah yang Mahakuat.