Mempertunangkan Jemaat Dengan Dunia
12 January 2020

Orang yang mau hidup di hadapan Allah haruslah menjadikan Allah sebagai satu-satunya kebahagiaan. Menjadikan Allah kebahagiaan merupakan sesuatu yang sangat rumit, sebab seseorang harus mengalami perjumpaan dengan Allah. Untuk itu, ia membutuhkan ketekunan dalam menyediakan diri bertemu dengan Allah dalam doa pribadi. Dia harus berani membuang semua kesenangan atau segala sesuatu yang dapat menjadi kebahagiaan jiwanya. Dalam membangun kehidupan dimana Allah menjadi kebahagiaan, seseorang tidak boleh dipuaskan oleh apapun, selain oleh Allah. Dengan demikian, ia bisa tidak serakah sama sekali, dan dapat merasa puas dengan apa yang ada padanya. Demikian pula, ia bisa berbahagia dengan fasilitas apapun yang dimilikinya. Kesulitan-kesulitan hidup yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani tidak boleh dianggap sebagai masalah. Untuk itu, orang percaya harus bisa berprinsip, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8)

Orang yang menjadikan Allah sebagai kebahagiaannya akan sampai pada pengakuan tulus bahwa Allah adalah segalanya. Banyak orang sudah merasa menjadikan Allah sebagai segalanya tetapi sebenarnya belum bahkan tidak sama sekali. Mereka tidak mengerti bagaimana menjadikan Allah segalanya dalam hidup ini. Orang yang menjadikan Allah segalanya adalah orang yang hanya bisa dibahagiakan oleh Tuhan. Inilah kehidupan yang harus dimiliki semua orang percaya. Menjadikan Allah sebagai segalanya adalah keharusan atau kewajiban. Tanpa menjadikan Allah segalanya, seseorang tidak dapat hidup di hadapan Allah, sebab standar atau ukuran keintiman yang harus dimiliki umat Perjanjian Baru dengan Allah adalah hubungan sepasang kekasih. Jadi, kalau seseorang merasa sudah menjadikan Allah segalanya padahal kenyataannya belum, keadaan itu akan membahayakan dirinya.

Cinta antara pria dan wanita dapat mengikat dua insan dalam pengembaraan bersama yang penuh misteri. Ini adalah suatu realitas yang tidak dapat dimengerti. Penulis amsal yang bijaksana mengatakan,“Ada tigahal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis”(Ams. 30:18-19). Kecakapan Allah ternyata bukan hanya menciptakan alam semesta dengan hukum-hukumnya seperti hukum Archimedes. Hubungan antarpribadi juga merupakan bukti atau ekspresi dari keahlian Allah semesta alam. Demikian juga dengan jalannya kapal diatas air merupakan salah satu hukum dari sekian banyak hukum yang mengatur kehidupan.

Dalam Efesus 5:32 tertulis,“Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Dalam tulisan yang lain, Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus adalah hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor 11:2-3). Perjalanan hidup kita adalah perjalanan menemukan hubungan unik itu, mengalaminya, dan memilikinya untuk selama-lamanya. Orang yang tidak memiliki hubungan ini tidak akan pernah menjadi sekutu Allah atau tidak akan bersama dengan Allah selama-lamanya. Oleh sebab itu, apakah seseorang nantinya masuk surga atau masuk neraka ciri-cirinya sudah tampak. Allah tidak akan bersama orang yang tidak serius dengan diri-Nya, sejak masih hidup di bumi. Itulah sebabnya keselamatan—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula—harus sudah diperjuangkan sejak di bumi.

Hubungan eksklusif dengan Allah dialami oleh penulis Kitab Mazmur yang menyatakan perasaan itu dengan ungkapan kata-kata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habislenyap, gunung batuku dan bagian ku tetaplah Allah selama-lamanya”(Mzm. 73:26). Dari pernyataan ini, Pemazmur hendak mengatakan bahwa dirinya rela tidak memiliki apapun, asal jangan sampai iatidak memiliki Allah. Dalam hal ini, bagi Pemazmur, persekutuan dengan Allah itu lebih dari segalanya bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Cinta kasih dan kehormatan seperti ini layak dipersembahkan bagi Allah.

Tujuan seluruh kegiatan pelayanan kita adalah bagaimana mempertunangkan jemaat dengan Tuhan Yesus dan mempersiapkannya menjadi perawan suci bagi Allah (2Kor 11:2-3). Tujuan pelayanan ini bukan mempertunangkan jemaat Allah dengan dunia. Sangat menyedihkan! Tidak sedikit gereja dan seluruh kegiatan pelayanan sebenarnya bertendensi kepada penyesatan yang sangat mengerikan, yaitu mempertunangkan jemaat dengan dunia. Hal ini dilakukan oleh gereja-gereja yang mengajarkan teologi kemakmuran. Mereka sebenarnya berurusan dengan Allah hanya karena hendak menjadikan Allah sekadar alat untuk meraih dunia. Seharusnya, Allah adalah segalanya sehingga mereka tidak bersahabat dengan Allah untuk bisa meraih dunia, yang sama artinya menjadi sahabat dunia, tetapi berteman dengan dunia untuk bersahabat dan mengabdi kepada Allah.