Mempersiapkan Kematian
30 June 2017

Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus dilakukan sejak dini. Selalu sekarang. Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, setiap hari dan setiap saat ketika kita menyadari perbuatan salah kita. Sebenarnya inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu hubungan yang terus dibangun dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa diabaikan dan dianggap tidak penting, apa pun harus bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian tidak boleh ditunda. Hal ini harus dianggap selalu paling penting dan darurat, sehingga kita selalu mengutamakan hal mempersiapkan diri menyongsong kematian kita. Kita harus selalu berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita. Besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut hari ini, berarti kesempatan yang sangat berharga untuk membenahi diri. Hendaknya kita tidak memberikan waktu berlalu tanpa ada pembenahan terus menerus. Hal ini dilakukan agar kita menjadi lebih berkenan di hadapan Tuhan.

Bila kita membiasakan diri memiliki sikap hidup seperti ini, maka barulah kita memahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Matius 6:33 ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus berkenaan dengan panggilan Tuhan atas orang percaya di bumi ini untuk hanya mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-20). Mengumpulkan harta di surga sama dengan usaha agar hati nurani kita menjadi hati nurani yang benar, yaitu memiliki pengertian-pengertian dari sudut pandang Tuhan atau versi Tuhan (Mat. 6:22-23). Hati nurani inilah harta yang tidak pernah bisa diambil oleh siapa pun. Harta dunia bisa dirusak oleh ngengat dan karat, pencuri bisa mencuri serta membongkarnya, tetapi harta berupa hati nurani yang sesuai dengan Allah ini tidak bisa diambil oleh siapa pun. Dengan hati nurani inilah seseorang dapat mengabdi hanya kepada Tuhan. Dengan demikian kita hanya mengabdi kepada Tuhan saja (Mat. 6:24).

Banyak orang yang hati nuraninya tidak diasah oleh kebenaran sehingga ia tidak tahu bahwa sebenarnya di dalam kehidupannya ia masih mengabdi kepada dua tuan. Kalau jujur, kita (sebagai pelayan-pelayan jemaat) juga tidak menyadari, ternyata kita masih mengabdi kepada dua tuan. Setelah kita diasah oleh kebenaran Firman Tuhan, kita baru menyadarinya. Sebelumnya, kita merasa bahwa kita sudah benar-benar “full time” hidup buat Tuhan, ternyata belum. Nurani kitalah yang akan menerangi diri kita untuk melihat seberapa kita murni bagi Tuhan. Di level seperti Paulus tersebut, barulah kita bisa berkata bahwa kita melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni (Kis. 23:1; 24:16).

Maksud melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni adalah bahwa dalam hidup ini, khususnya dalam pelayanan, kita tidak memiliki agenda kita sendiri. Semua yang kita kerjakan adalah kehendak dan rencana Tuhan. Yang bisa mengerti bahwa dirinya memiliki agenda sendiri atau tidak adalah seorang yang hati nuraninya telah diterangi oleh Tuhan. Banyak orang merasa bahwa ia telah hidup untuk Tuhan sepenuh hati dan sepenuh waktu, padahal belum, bahkan tidak sama sekali. Ia tidak bisa melihat agenda sendiri yang bersembunyi di kedalaman hatinya. Orang yang hati nuraninya belum dewasa, selain tidak peka terhadap diri sendiri, ia juga tidak jujur terhadap diri sendiri.

Seharusnya orang yang sudah menjadi anak Allah hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah, itulah sebabnya Doa Bapa Kami berbunyi: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Mat. 6:10). Jadi, kalau seseorang tidak memiliki gaya hidup mendahulukan Kerajaan Surga, berarti ia hidup dalam kerajaan kuasa kegelapan. Hendaknya kita tidak berpikir kalau hari ini kita tidak melakukan suatu pelanggaran moral, juga telah mengambil bagian dalam pelayanan bahkan menjadi seorang pendeta, bukan berarti kita pasti sudah hidup dalam pemerintahan Allah. Belum tentu! Hidup dalam pemerintahan Allah terselenggara ketika seseorang memalingkan diri dari kepentingan diri dan segala hawa nafsu dan kesenangan kemudian hidup hanya untuk kesenangan Tuhan semata-mata. Berjuang terus untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup ini dan melakukan dengan sungguh-sungguh serta melayani Tuhan tanpa batas. Inilah harga mahal hidup sebagai anak-anak Kerajaan yang harus sangat berbeda dengan dunia ini. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung secara permanen dan tidak akan berubah, jika hati nuraninya sudah diubah menjadi hati nurani Ilahi.