Mempersiapkan Kehidupan Hari Esok
29 November 2019

Sekarang ini, banyak orang Kristen yang tidak memikirkan masa depannya di dunia yang akan datang. Mereka tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini. Pada dasarnya ini adalah gaya hidup seperti hewan. Hewan adalah makhluk yang hidup hanya untuk hari ini. Paulus menggambarkan gaya hidup ini dan mengatakan, “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32). Mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, dan tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana mengikut Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa cara atau gaya hidup mereka sudah wajar, tidak menyalahi kehendak Allah. Padahal kehidupan orang percaya harus seperti Tuhan Yesus, yang bersedia tidak menikmati kesenangan dunia, bahkan meninggalkan kemuliaan bersama dengan Bapa. Firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 14:33). Memang ini adalah bagian tersulit yang sering kurang atau tidak diajarkan dengan benar kepada umat dewasa ini.

Banyak umat Kristen hanya mengenal ajaran bahwa Tuhan memberkati kalau mereka datang ke gereja dan memberi persembahan. Jemaat hanya diajar untuk menjadi orang baik, memiliki keluarga bahagia, mendapatkan menantu yang baik dan cucu yang sehat dan sukses, tubuh sehat, bisnis maju, dan terhormat di mata manusia. Mereka memiliki ukuran kebahagiaan yang sama dengan anak dunia. Pola pikir tersebut adalah pola pikir anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran Injil yang murni. Mereka adalah orang-orang yang masih membangun kerajaannya di muka bumi ini. Sebenarnya, mereka tidak menginginkan dengan sungguh-sungguh Kerajaan Surga. Kehidupan mereka di bumi sudah menjadi kerajaan yang nyaman dan membahagiakan. Padahal yang terpenting dan satu-satunya gaya hidup yang benar adalah belajar kehidupan Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam hidup ini agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia. Artinya, oleh kematian-Nya di kayu salib, Ia mengangkat akibat dosa yang dilakukan manusia dan memuridkan orang percaya untuk mengalami perubahan agar berkeadaan layak sebagai anak-anak Allah. Penyelesaian dosa manusia terjadi pada waktu Yesus mati di kayu salib dan bangkit. Selanjutnya, orang yang dipilih menjadi umat Allah harus belajar mengenakan karakter dan cara hidup Tuhan Yesus. Seperti Tuhan Yesus meninggalkan segala sesuatu, orang percaya juga harus berani berbuat demikian. Untuk hal ini, ada dua tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib; tahapan kedua dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya. Namun kalau orang percaya tidak bersedia belajar untuk memiliki kehidupan seperti Tuhan Yesus, ia menolak untuk diselamatkan. Ini berarti ia tidak memiliki hari esok. Orang seperti ini tidak mempersiapkan hari esoknya. Biasanya mereka hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia yang tidak memiliki keselamatan guna menjadi anak- anak Allah.

Kalau bukan demi masa depan manusia atau hari esok manusia di kekekalan, Tuhan Yesus tidak perlu mengurbankan diri dengan pengurbanan yang sangat mahal. Kalau tidak perlu kehidupan hari esok, cukuplah manusia dapat menikmati hidup di bumi dengan segala kesenangannya yang rata-rata 70 tahun, setelah itu dibuang ke dalam api kekal. Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan Yesus adalah demi kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan hari ini. Oleh sebab itu, keselamatan harus dilihat dari dimensi atau perspektif atau sudut pandang yang benar. Keselamatan diberikan untuk menggarap manusia hari ini di bumi demi persiapan kehidupan hari esok di langit baru dan bumi yang baru.

Gereja diadakan agar jemaat belajar kebenaran, yaitu mengenal siapa Bapa dan siapa Anak dan mengajarkan jalan Tuhan, serta memberi teladan. Hal ini dimaksudkan agar jemaat bisa berubah, menjadi anak-anak Allah yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela, tidak terikat dengan dunia, di mana dunia tidak dapat menentukan kebahagiaannya. Dunia tidak lagi dapat membahagiakan sebab hanya Tuhan dan Kerajaan-Nyalah yang menjadi kebahagiaan satu-satunya. Akhirnya, jemaat dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Kerinduannya adalah langit baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kehidupan yang ideal yang disediakan Allah bagi ciptaan-Nya. Bagi orang-orang seperti itu, kematian tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan, tetapi kesukaan,sebab kematian menjadi jembatan emas bertemu dengan Tuhan yang dicintainya di Kerajaan Bapa yang sangat indah, mulia, dan menakjubkan