Memilih Keselamatan Kekal
22 March 2019

Kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian ini. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak memedulikan realitas kematian tersebut. Demikian kenyataannya, bahwa banyak orang yang menggulirkan hari hidupnya tanpa kesadaran sama sekali, bahwa hari hidupnya tersebut bisa berhenti setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan memiliki kehidupan yang tidak ada ujungnya. Seakan-akan perjalanan hidup ini akan berlangsung tiada akhir. Seakan-akan kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya. Kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas adalah begitu banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, keinginan, masalah, dan lain sebagainya. Mereka sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal. Menyadari hal ini, maka setiap kita seharusnya sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi realitas kematian yang sudah pasti akan kita hadapi atau kita jalani.

Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sekarang. Dari sekarang! Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, setiap hari dan setiap saat ketika kita menyadari perbuatan kita yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sebenarnya inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu relasi yang terus dibangun dengan Tuhan. Tidak ada saat di mana kita tidak memiliki hubungan yang baik atau harmoni dengan Tuhan. Hubungan yang harmoni dengan Tuhan adalah kebutuhan yang lebih penting dari makan dan minum atau kebutuhan apa pun dalam hidup ini. Demi hubungan yang harmoni dengan Tuhan ini orang percaya harus bersedia mengorbankan apa pun. Orang percaya harus berani memilih demi keselamatan kekalnya dan ia juga harus rela kehilangan segala sesuatu.

Orang yang mengabaikan fakta ini adalah orang bodoh yang tidak berakal. Sesungguhnya, sejak hidup di dunia ini sudah nampak gejala seseorang akan beroleh kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Dari keputusan, pilihan, dan tindakan hidup seseorang nampak apakah ia menunjukkan dirinya akan pergi ke surga atau ke neraka (penjara abadi). Keabadian, baik di surga maupun neraka, menunjukkan realitas kehidupan dan kesadaran manusia yang tidak bertepi. Hidup tidak bertepi sama artinya hidup tidak terbatas. Hal ini mengandung rahasia kehidupan yang penting untuk dimengerti dan direnungkan, sekaligus sangat dahsyat. Mengapa penting? Sebab berangkat dari pemahaman ini, seseorang dapat menyelenggarakan hidupnya dengan lebih berhati-hati atau tidak ceroboh. Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti rahasia kehidupan ini. Jika seseorang tidak mengerti akan realitas keabadian, ini berarti bahwa ia berjalan atau hidup dalam kegelapan. Ujungnya sangat mengerikan.

Dalam hidup manusia hari ini, manusia berdosa diberi kesempatan bertobat dan berbalik kepada Tuhan kemudian mengalami perbaikan dan penyempurnaan yang tidak terbatas; atau sebaliknya, kalau manusia menolak bertobat maka ia menjadi rusak tidak terbatas. Bagi yang mau bertobat dan dimuridkan, mereka diproses kepada kebaikan yang tidak terbatas sebagaimana Kristus dalam kesempurnaan-Nya yang tidak terbatas. Sebaliknya, kalau seseorang menolak bertobat dan tidak mengalami proses pendewasaan maka ia dirusak oleh Iblis dalam kerusakan yang tidak terbatas pula, sebagaimana Iblis dengan kejahatannya yang tidak terbatas pula. Oleh sebab itu sebagai orang percaya kita harus berjuang untuk tidak memberi kesempatan atau celah bagi Iblis merusak hidup kita.

Pelayanan gereja harus hanya berorientasi pada kehidupan yang akan datang. Tanpa memperdebatkan pandangan teologi yang bisa ditarik ke sana kemari seperti karet yang elastis. Pengajaran Firman Tuhan harus membuka pikiran untuk dapat mengerti bagaimana menjalani hidup seperti yang Allah kehendaki. Selain itu, gereja harus memiliki contoh dari kehidupan seseorang yang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus. Dalam hal ini harus ada model-modelnya yang dapat dilihat dan diteladani di dalam gereja dan kehidupan setiap hari. Model-model tersebut dari pria dan wanita berusia lanjut, yang berusia menengah, pemuda dan remaja, serta anak-anak. Model-model inilah yang mengambil bagian dalam pelayanan gereja. Mereka dapat menjadi pola dengan mana jemaat membangun dirinya. Semua ini dilakukan agar tidak ada jemaat yang masuk ke dalam penjara abadi yang sangat mengerikan (neraka). Kalau sudah masuk penjara abadi, tidak ada yang dapat mengeluarkannya. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan, kita harus bekerja keras untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang untuk masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Surga.