Memento Mori
24 March 2019

Jarang ada orang yang tidak menekuni apa yang dianggap penting dalam hidupnya. Kalau seseorang menganggap uang itu penting, maka ia bersungguh-sungguh bekerja atau mencari nafkah. Juga dengan pendidikan, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Kerajaan Surga? Apakah kita menganggap hal ini penting? Bila kita menganggap hal ini penting, pasti kita bersungguh-sungguh mencarinya, dan memang Tuhan menghendaki kita bersungguh-sungguh mencarinya (Mat. 6:33). Gereja harus menstimulasi, mendorong, dan merangsang jemaat untuk mengutamakan dan mengedepankan hal ini. Masalah-masalah hidup ini memang banyak dan berat, tetapi hal tersebut bukanlah masalah utama hidup ini. Kecuali kalau memang kehidupan ini atau kesadaran manusia hanya sampai batas kubur saja.

Ternyata setiap suku bangsa memiliki kesadaran akan adanya kehidupan di balik kubur atau setelah kematian. Seseorang yang menerima atau menolak hal ini, bagaimanapun akan tertumbuk pada kenyataan bahwa yang paling dibutuhkan adalah Tuhan. Dalam suratnya, Paulus berpesan kepada Timotius untuk menasihati orang kaya untuk tidak berharap kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan (1Tim. 6:17). Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, sebab ketika mamon tersebut tidak dapat menolong lagi, seseorang diterima oleh Tuhan di Kerajaan-Nya” (Luk. 16:9). Daud seorang yang bergaul dengan Tuhan, setelah mengarungi kehidupan panjang, akhirnya ia berkata: “Siapa ada padaku selain, Engkau, selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Menyadari hal ini, kita seharusnya melepaskan diri dari segala milik seperti yang Tuhan ajarkan (Luk. 14:33). Maksudnya adalah tidak terikat dengan dunia ini, yang membuat kita tidak siap memasuki kehidupan abadi. Ikatan dunia ini menyesatkan dan membinasakan, seperti yang dialami orang kaya dalam Markus 10:21-27. Ikatan dunia membuat seseorang tidak memilih Tuhan. Padahal akhirnya semua kekayaan dunia harus dilepaskan. Hanya Tuhan yang dibutuhkan.

Melepaskan segala sesuatu memang bukan hal yang mudah -bahkan nyaris dikatakan mustahil- tetapi sesuai dengan Firman-Nya, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kalau kita mau belajar, Tuhan akan mengajarkan kepada kita bagaimana kita terlepas dari ikatan dunia ini. Dan kita pun harus bersedia melepaskan ikatan itu. Hal ini bukan anugerah, tetapi langkah dari keputusan sadar kita. Jadi kalau hari ini kita mencari Tuhan, hal tersebut bukan karena sakit penyakit, mengalami problem ekonomi, keluarga, jodoh, dan lain sebagainya, tetapi sebagai persiapan untuk menyongsong hari esok di kekekalan.

Beratnya hidup ini pada akhirnya bukan pada masalah-masalah yang dihadapi oleh orang -seperti problem sakit penyakit, rumah tangga, ekonomi, jodoh, dan lain sebagainya- tetapi bagaimana kita harus memikul salib. Yaitu perjuangan untuk turut serta menggenapi rencana Tuhan dalam hidup ini. Untuk ini kita harus terlebih dahulu mengerti kebenaran Tuhan. Kebaktian harus menjadi saat penting di mana kita diajar untuk mengenal kebenaran Tuhan, mengenal diri sendiri, dan kehidupan ini. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menjalaninya sesuai dengan kehendak Allah dan memiliki Tuhan sebagai sekutu kita.

Seluruh gerak hidup di bumi ini bagaimanapun ada akhirnya, ibarat film pasti ada ending-nya. Sejatinya, ini benar-benar tragis. Anak-anak tidak lagi memandang wajah orang tua, mama papa, opa oma. Orang tua harus kehilangan anak-anak mereka, kita kehilangan sahabat yang bisa diajak berbagi rasa melalui tahun-tahun yang panjang. Suasana indah dan yang dirasa harmonis berakhir pada ujung yang disebut kematian. Pada umumnya orang tidak mau memikirkan hal ini. Sebab ini adalah sebuah pengalaman yang diidentifikasi sebagai “malapetaka”, musibah, atau apa pun namanya; yang pada intinya adalah “sesuatu yang menakutkan” yang sebisa mungkin dapat dijauhi. Tetapi ini adalah realitas yang pasti dialami, cepat atau lambat. Siap atau tidak siap. Merenungkan hal ini dan menyikapi realitas tersebut, apa yang harus kita lakukan? Ini penting. Setiap kita harus dipersiapkan.

Untuk itu mari kita perhatikan ucapan Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:1-3, di dalam ucapan tersebut ada pengharapan indah mengenai kehidupan yang akan datang yang harus menjadi kerinduan kita. Bahwa kebersamaan kita bukan hanya ada di dunia hari ini, yang penuh dengan cacat. Kehidupan yang diwarnai dengan sakit penyakit, kemiskinan, perang, pertikaian, pengkhianatan, dan berbagai penderitaan. Tetapi Tuhan akan membawa kita semua, seluruh keluarga, dan orang-orang yang kita kasihi ke tempat-Nya, di Rumah Bapa.