Membuahkan Keselamatan
26 April 2019

Ada satu hal yang sangat prinsip yang perlu kita amati, yaitu bahwa menerima keselamatan bukanlah hanya seperti suatu momentum atau suatu peristiwa yang dapat digambarkan sebagai sebuah titik. Menerima keselamatan itu adalah suatu proses yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang, linear. Suatu proses panjang selama kita hidup. Jika seseorang menganggap bahwa keselamatan itu adalah suatu momentum atau suatu peristiwa sesaat bagai sebuah titik saja, maka ia tidak akan dapat bertumbuh dalam keselamatan, tidak bertumbuh dalam kedewasaan, dan tidak bertumbuh dalam kesempurnaan Kristiani. Ini berarti bahwa seseorang tersebut tidak akan pernah mencapai standar “dikenal oleh Tuhan” (Mat. 7:21-23).

Selama ini banyak orang merasa dirinya sudah diselamatkan dalam suatu momentum tertentu. Jika kita bertanya pada seseorang, kapan Anda diselamatkan? Jawaban yang sering kita dengar adalah ketika ada KKR atau ketika mendengar siaran rohani di radio, atau peristiwa lainnya. Mereka merasa sudah selamat pada saat maju ke altar, mengaku dosa dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi kenyataannya, banyak orang yang merasa sudah mengaku menerima Yesus dengan cara demikian akhirnya meninggalkan imannya. Bahkan ada yang di antara mereka menghina Tuhan Yesus yang pernah diakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Pengertian menerima keselamatan seperti itu sangatlah subyektif, yaitu dari apa yang dia rasakan, hal tersebut tidak berarti sudah menerima Yesus secara benar atau secara utuh. Harus dipahami bahwa menerima keselamatan memang sebuah momentum, tetapi juga merupakan sebuah proses. Ini bukan berarti kita tidak bisa mengatakan belum selamat. Kita sudah, sedang atau dalam proses keselamatan menuju pemulihan gambar dan rupa Allah. Keselamatan yang dimiliki seseorang dibuktikan dengan perjuangan mengerjakan keselamatan itu. Pada saat seseorang berhenti dari proses mengerjakan keselamatan berarti ia menyia-nyiakan keselamatan. Karena keselamatan itu bukan hanya terhindar dari api neraka dan diperkenan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia pada rancangan-Nya. Inilah proses tersebut. Kita harus memberi diri digarap oleh Tuhan Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Tuhan Yesuslah yang menjadi teladan atau prototipe hidup kita, seperti yang Bapa kehendaki. Dia telah buktikan ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib (Fil. 2:5-10). Ini memang terlihat seperti sebuah proyek yang mustahil.

Untuk masuk proyek kemustahilan ini seseorang harus memberikan respon. Dalam Matius 19:16-26, orang kaya itu tidak memberi respon yang baik. Ketika ia mendengar harus menjual segala hartanya, dan membagikannya kepada orang miskin. Alkitab menulis, ketika orang muda itu mendengar perkataan itu pergilah ia dengan sedih. Orang muda kaya ini tidak sanggup dan tidak mampu, sebab banyak hartanya. Oleh karena itu kebaikan sempurna yang bisa dicapai oleh seseorang adalah kemampuan untuk mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan, serta melakukannya. Hal ini tidak bisa dicapai tanpa barter dan tanpa perjuangan, bahkan juga tidak bisa dicapai tanpa pengorbanan. Orang muda kaya ini tidak mau menerima syarat yang harus dipenuhi sehingga ia tidak pernah memperoleh keselamatan dalam Yesus Kristus.

Hal ini berbeda dengan Zakheus. Dalam Lukas 19:1-10, Zakheus juga orang kaya. Ia juga punya jabatan sebagai kepala pemungut cukai, hartanya banyak. Tetapi ketika ia menyambut Tuhan Yesus tanpa diperintah Tuhan Yesus, tanpa dikomando, ia sudah membagikan separuh hartanya kepada orang miskin. Kalau ada orang yang pernah ia peras, ia kembalikan empat kali lipat. Ini buah dari respon. Kristalisasi dari wujud respon Zakheus. Jangan dianggap sebagai jasa, sehingga kita berpikir bahwa keselamatan itu adalah jasa manusia. Tidak. Itu hanya karena respon. Jikalau Zakheus ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh sejak itu, Zakheus akan menjadi orang yang memiliki standar yang luar biasa, yaitu standar hidup yang berkualitas.

Orang muda kaya dalam Matius 19:16-26 pada dasarnya memang tidak mau mencapai standar kebaikan Tuhan. Ia tidak masuk dalam proyek kemustahilan, ia tidak berani melompat, ia tidak berani membuat terobosan. Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum. Memang unta tidak akan bisa masuk ke lubang jarum jika tidak ditolong. Sebab lubang jarum itu adalah sebuah pintu sempit yang disisakan di tembok utama, kalau tembok utamanya ditutup untuk mencegah masuknya musuh. Untuk unta bisa masuk lubang jarum atau pintu sempit itu, unta harus jongkok. Saat unta jongkok, majikannya atau orang akan mendorongnya. Demikian juga seseorang kalau bersedia merendahkan hati dan mau jongkok -itu artinya ia memiliki respon- maka Tuhan akan menolong mengerjakan keselamatan dalam dirinya (energon). Respon seseorang akan membuahkan proses pertumbuhan terus menerus sampai ia bisa mencapai kebaikan yang dipersiapkan Allah sebelumnya.