Membela Tuhan
30 January 2019

Tidak bisa dibantah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen bahwa sangat sedikit orang Kristen yang benar-benar membela Tuhan. Sebenarnya Tuhan sama sekali tidak membutuhkan pembelaan dari siapa pun dalam bentuk bagaimanapun, sebab Tuhan sangat kuat; Ia Mahakuasa. Ia tidak perlu dibela. Usaha membela Tuhan seakan-akan Tuhan tidak dapat membela Diri-Nya sendiri adalah bentuk pelecehan terhadap Tuhan. Oleh sebab itu orang Kristen tidak perlu membentuk semacam lembaga keagamaan atau suatu organisasi masyarakat (ormas) yang bertujuan untuk membela Kekristenan, seakan-akan Tuhan tidak mampu membela umat-Nya.

Usaha membela Tuhan dalam bentuk membela Kekristenan dengan cara kasar dan cara yang tidak bermartabat, malah merendahkan martabat orang percaya sendiri dan mengecilkan kebesaran Tuhan. Hendaknya orang Kristen tidak mengatakan Allah Mahabesar tetapi perlakuan atau tindakan hidupnya tidak menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang besar. Dengan demikian, hal itu berarti suatu sikap yang tidak konsisten dan munafik. Jika orang Kristen berbuat demikian, maka menunjukkan kepalsuan kepada Allah yang tidak diagungkan.

Membela Tuhan dengan cara kasar tersebut antara lain melakukan kekerasan kepada obyek-obyek tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan bisa mengganggu kehidupan peribadatan orang Kristen. Tindakan kasar tersebut bisa merupakan tindakan anarki yang melanggar hukum dan kesantunan hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Bahkan tindakan kasar tersebut bisa berupa persekusi kepada kelompok tertentu yang berseberangan dengan iman orang Kristen. Hal ini bisa merusak tatanan hidup bersama dalam masyarakat modern yang beradab.

Sebenarnya Tuhan tidak perlu dibela. Tetapi kalau anak-anak Allah diberi kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Allah Bapa dan Tuhan Yesus, itu sebenarnya sebagai sikap mengasihi Elohim Yahweh yang menciptakan manusia dan secara khusus telah menebus orang percaya dari dosa dan kebinasaan. Dalam hal ini kesempatan membela Tuhan adalah bentuk ucapan syukur dan usaha membalas kebaikan Tuhan. Tentu saja Tuhan memberi kesempatan dan potensi anak-anak-Nya untuk menunjukkan kasih yang tulus kepada Diri-Nya. Allah Bapa dan Tuhan Yesus menikmati tindakan anak-anak-Nya yang ditujukan kepada Diri-Nya. Di sini masalahnya bukan seberapa besar tindakan yang dilakukan anak-anak Allah bagi Bapa dan Tuhannya, tetapi sikap hati umat Tuhan terhadap Sesembahannya.

Membela Tuhan harus dipahami sebagai kehormatan, sebab siapakah orang percaya yang adalah manusia biasa dengan segala keterbatasan. Allah Bapa dan Tuhan Yesus bukan saja memberikan peluang, tetapi juga kemampuan orang percaya untuk berbuat sesuatu yang maksimal bagi Sesembahannya. Selanjutnya, segala sesuatu yang dilakukan bagi Tuhan pasti diperhitungkan: ada upah di dunia yang akan datang. Dengan demikian, peluang dan potensi untuk membela Tuhan adalah kasih karunia supaya orang percaya dapat memiliki kekayaan abadi. Jadi, Tuhan memberikan kesempatan bagi orang percaya untuk membela Tuhan maksudnya agar Tuhan dapat memberikan berkat abadi di dalam Kerajaan Surga bagi kekasih-kekasih-Nya.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya atau bentuknya kita membela Tuhan? Pertama, orang percaya harus mengalami perubahan menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan hal ini, orang percaya dapat membuktikan kebenaran dari Injil kepada dunia. Harus digarisbawahi bahwa perubahan itu harus berstandar Tuhan Yesus, artinya memiliki kelakuan yang sangat luar biasa baiknya. Kelakuan yang luar biasa tersebut bisa dalam bentuk perbuatan baik kepada semua orang. Di sini orang percaya menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Selain itu, orang percaya memiliki kehidupan moral yang sangat tinggi, sehingga akan sulit ditemukan kesalahannya.

Dengan kebaikan yang sempurna maka orang akan berkata mengenai orang percaya: orang sebaik ini tidak mungkin Tuhannya salah dan agamanya keliru. Orang percaya tidak perlu membela Tuhan dengan pentungan dan pedang, atau dengan cara kasar. Bila hal ini dilakukan, malah menjadi kontra produktif sehingga orang percaya tidak menjadi berkat tetapi menjadi laknat bagi sesamanya. Hanya Allah yang tidak bermartabat yang membiarkan atau mengizinkan umat-Nya berjuang membela Diri-Nya dengan mendatangkan penderitaan bagi manusia lain. Dengan memiliki kelakuan yang luar biasa baiknya dalam kehidupan orang percaya, sejatinya merupakan upaya membela Tuhan secara benar.

Kedua,orang percaya dapat membela Tuhan dengan cara menolong orang lain untuk dapat memiliki keselamatan seperti dirinya. Keselamatan itu adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Dalam mengupayakan agar orang lain juga merima keselamatan, tentu disertai dengan berbagai pengorbanan. Pengorbanan yang paling besar dan paling berat adalah menunjukkan keteladan hidup seperti Yesus.