Membangun Pengertian
23 January 2019

Dalam Efesus 5:15-17 Firman Tuhan mengatakan: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Ketika Firman Tuhan menasihati orang percaya untuk tidak bodoh, konteksnya mengenai penggunaan waktu. Seperti yang diketahui bahwa seseorang menjadi cakap atau pandai bukan dalam hitungan hari, tetapi melalui sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang. Demikianlah, seseorang tetap berkeadaan bodoh atau bijaksana tergantung masing-masing individu, yaitu bagaimana seseorang menggunakan waktu secara efisien. Dalam hal ini harus ditegaskan, bahwa untuk menjadi orang yang bijaksana -artinya mengerti kehendak Tuhan-, tidak bisa secara mendadak (instant), semua harus melalui perjalanan waktu dimana proses menjadi bijaksana dapat terjadi atau berlangsung.

Di dalam kehidupan ini, masing-masing orang memperoleh porsi waktu yang sama. Tuhan memberikan masing masing orang porsi waktu yang sama, yaitu setiap orang mendapat setiap hari memuat 24 jam, satu jam memuat 60 menit. Adapun nilai waktu yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung bagaimana setiap individu mengefisiensikan waktu tersebut, atau mengoptimalkan waktu yang tersedia untuk menemukan Tuhan dan mengubah karakternya. Dalam hal ini, nyatalah bahwa apakah waktu yang dimiliki seseorang menjadi berharga atau tidak, tergantung sikap seseorang terhadap waktu itu sendiri. Seseorang bisa menjadikan waktu hidupnya berharga, tetapi juga bisa membuat waktu hidupnya tidak berharga. Orang membuat waktu hidupnya menjadi tidak berharga karena menyia-nyiakannya, membawa diri kepada kebinasaan. Waktu adalah anugerah, orang yang tidak menghargai waktu berarti tidak menghargai anugerah. Keselamatan yang dimiliki seseorang diperagakan oleh sikapnya terhadap waktu.

Banyak orang yang membuat waktu hidupnya sia-sia untuk hal-hal yang tidak berdaya guna bagi kekekalannya. Mereka berjam-jam bisa terpaku oleh film-film seri yang tidak mendidik atau tidak memberi pelajaran rohani yang baik, berjam-jam hanyut dengan internet untuk hal-hal yang tidak membangun iman, atau media sosial, belum lagi terpaku dengan konten-konten internet, dan lain sebagainya. Hal ini sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang, baik di kota maupun di daerah-daerah pinggiran sampai ke desa-desa. Bahayanya adalah apa yang mereka dengar dan saksikan melalui gadget tersebut tidak memberi manfaat untuk kehidupan rohani mereka, tetapi malah merusak pola berpikir. Memang Tuhan dapat menggunakan media ini untuk mengajarkan kebenaran, orang percaya harus menggunakan media ini untuk mendapat dan menyampaikan Firman Tuhan. Tetapi faktanya, kuasa kegelapan juga telah menggunakan media ini untuk membinasakan banyak manusia.

Kalau seseorang sibuk dengan hobi tertentu, maka waktunya akan tersita oleh hobi tersebut. Banyak orang lebih menginvestasikan waktunya untuk kesenangan-kesenangan duniawi dan dagingnya, tetapi tidak digunakan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah membuang waktu dengan sia-sia. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun pengertian mengenai kebenaran dan mengadakan perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, telah dijadikan Iblis sebagai sarana membangun kebodohan, yaitu membangun pola pikir yang melawan kebenaran. Sehingga wajah batin banyak orang -di dalamnya termasuk orang Kristen- lebih mengarah kepada wajah dunia, daripada wajah yang Tuhan kehendaki tergambar dalam kehidupan orang percaya. Dunia dengan segala pengaruhnya membentuk wajah batin seseorang.

Wajah batin yang dikehendaki oleh Tuhan tergambar dalam kehidupan orang percaya adalah wajah Tuhan Yesus, artinya bahwa orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Hal ini bisa terealisir dalam kehidupan orang percaya kalau orang percaya membangun pengertian yang benar. Pengertian yang benar membangun kecerdasan rohani yang membuat seseorang memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah bukan hanya berarti mengerti moral atau etika yang baik dan melakukan tatanan moral atau etika tersebut. Kehendak Allah adalah segala sesuatu yang Allah kehendaki untuk dilakukan orang percaya. Segala sesuatu di sini bukan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan, tetapi juga sikap hati dan gerak perasaan orang percaya. Justru pada dasarnya Tuhan lebih memperhatikan apa yang tidak kelihatan atau yang tidak dipandang oleh manusia. Tuhan menguji batin setiap orang.

Mencermati penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bagaimana wajah batin seseorang tergantung kepada masing-masing individu membangunnya. Tuhan menyediakan fasilitasnya, di dalamnya termasuk waktu yang ada, tetapi bagaimana sikap seseorang terhadap waktu menentukan bagaimana wajah yang tergambar di dalam kehidupannya. Dalam hal ini bukan Tuhan yang menentukan secara sepihak, tetapi tanggung jawab masing-masing individu yang berperan atau menentukan. Itulah sebabnya sangat keliru kalau seseorang berpendirian bahwa Tuhan menentukan secara sepihak orang-orang tertentu untuk selamat, dan di lain pihak Tuhan membiarkan orang-orang tertentu tidak pernah mengalami keselamatan.