Membaca Tanda Zaman
26 February 2017

Karena dosa, manusia mengalami ketragisan yang luar biasa. Manusia pertama tidak menduga bahwa akibat pelanggarannya sangat dahsyat: mati! Manusia telah terpisah dan kehilangan sumber kehidupan. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Karena dosa manusia bukan saja telah rusak dan bumi menjadi terkutuk, tetapi kesempatan untuk menjadi sekutu Tuhan telah lenyap. Inilah malapetaka terhebat dan peristiwa tertragis dalam sejarah kehidupan manusia.

Sekarang kesempatan telah diberikan oleh Sang Pencipta untuk kembali bersekutu dengan Dia. Apakah kesempatan ini kita mau raih atau tidak, tergantung setiap individu. Kehidupan ini menjadi hebat karena menjadi pertualangan sementara di mana kita diperkenan untuk kembali membangun hubungan dengan Sang Pencipta sebagai suatu persiapan untuk memasuki kehidupan kekal bersama Dia dalam Kerajaan-Nya. Apa artinya 1000 tahun jika pada akhirnya tidak ada kebahagiaan lagi? Jangankan seribu tahun, kalau seseorang pernah hidup dalam kelimpahan selama 40 tahun tetapi 5 tahun terakhir jatuh miskin, maka yang 40 tahun menjadi tidak ada artinya. Apalagi kalau itu sebuah kekekalan. Apa artinya sejuta tahun dalam kebahagiaan yang sempurna di bumi, tetapi di kekekalan terpisah dari Allah?

Karena kebodohan dan kedegilan hati manusia, banyak orang Kristen menolak bertobat dan belajar hidup dalam perkenanan Bapa. Mereka lebih menyibukkan diri dengan fasilitas, tetapi bukan pada maksud fasilitas itu diberikan. Mereka hidup hanya untuk kesenangan diri sendiri. Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata dalam Matius 6:25, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Demi makan dan minum orang tidak menghargai hidup ini, dan demi pakaian orang tidak menghargai tubuh yang sangat menakjubkan yang Tuhan berikan ini. Inilah orang-orang yang tidak berakal sehat menurut kebenaran Alkitab. Taraf hidupnya hanya lebih sedikit di atas hewan.

Setiap manusia menghadapi resiko kekekalan dalam hidupnya yang singkat ini, sebab manusia adalah makhluk kekal. Oleh sebab itu manusia yang tidak mempertimbangkan hal ini adalah manusia yang bodoh, tidak berakal. Kesukaran-kesukaran hidup yang terjadi dewasa ini sebenarnya hendak mengajak manusia untuk berpaling kepada Tuhan dan mencari yang bernilai abadi. Dunia yang kita huni ini bukanlah dunia yang menjanjikan. Kebakaran hutan, menipisnya lapisan ozon, gejala-gejala alam yang aneh dan menakutkan, makin berkurangnya sumber kekayaan alam, krisis-krisis hidup manusia (ekonomi, moral, politik, keamanan yang berkaitan dengan ancaman nuklir dan senjata perang pemusnah lain), dan berbagai ancaman-ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia seperti berbagai penyakit yang muncul tanpa ada terapinya dan lain sebagainya.

Berbahagialah orang percaya yang dapat membaca tanda zaman dan berpaling kepada Tuhan dan mencari Tuhan. Kita adalah kelompok yang sempat tertolong. Banyak kelompok yang tidak sempat tertolong lagi sebab pandangan hidup mereka tertuju kepada dunia ini semata-mata. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan Yesus akan datang sesegera mungkin, mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus datang barangkali 50-100 tahun lagi. Harus selalu diingat bahwa kedatangan Tuhan seperti pencuri yang tidak terduga. Hal ini sejajar dengan hari kematian setiap kita yang juga tidak terduga. Adalah bijaksana kalau kita tidak bersikap spekulatif, tetapi selalu berpikir bahwa kematian selalu di depan mata. Dalam hal ini sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat rentan.

Tuhan berkata: “Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:1-4). Pernyataan ini memberi petunjuk bahwa sebagaimana seseorang dapat mengenali cuaca dengan tanda-tanda yang ada, demikian pula seorang anak Tuhan harus dapat menemukan tanda-tanda zaman untuk mengerti saat-saat penting dunia. Tuhan sengaja menunjukkan tanda-tanda tersebut kian jelas, supaya anak-anak Tuhan dapat bersiap-siap. Dengan mengenali saat-saat penting tersebut kita dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu (Mat. 24:45-51). Dewasa ini terdapat hamba yang tidak melakukan yang patut dilakukan. Celakalah dia kalau Tuannya datang pada saat di mana ia harus bekerja, tetapi ternyata tidak melakukan tugasnya dengan baik. Tanda-tanda zaman yang kita dapat baca ini akan menggerakkan kita untuk melakukan tindakan yang penting atau berjaga-jaga. Kalau Tuhan belum datang beberapa puluh tahun ke depan, kita masing-masing juga harus menghadap Bapa. Siapkah saudara?