Melepaskan Segala Sesuatu Demi Perjumpaan
27 September 2017

Seseorang tidak akan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan kalau tidak melepaskan diri dari segala sesuatu. Kehendak Tuhan agar kita melepaskan diri dari segala sesuatu ditunjukkan oleh Firman Tuhan dengan banyak ungkapan. Seperti misalnya dalam Filipi 2:5-7, seperti Tuhan Yesus meninggalkan kemuliaan dan segala hak-Nya dengan pengosongan diri, demikian pula orang percaya yang mau mengikut Tuhan Yesus harus rela kehilangan segala haknya. Bagian lain yang sangat kuat adalah ketika Tuhan Yesus ditawari keindahan dunia (Luk. 4:5-8). Tuhan Yesus menolak, sebab manusia harus hanya menghargai atau memberi nilai tinggi terhadap Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan menyembah (proskuneo). Proskuneo artinya giving high value to something or someone (memberi nilai yang tinggi kepada sesuatu atau seseorang).

Ketika seseorang belum meninggalkan segala sesuatu, masih menghargai dunia, maka ia tidak dapat mengalami Tuhan sebagaimana semestinya. Hal ini yang membuat banyak orang Kristen hanya berfantasi. Tidak heran kalau mereka masih memberi diri terikat oleh dunia ini. Taraf hidup Kekristenannya hanya sampai pada kognitif atau sebagian kecil dari afektif. Saebagian kecil afektif artinya memiliki cinta kepada Tuhan yang sangat terbatas. Padahal cinta yang seharusnya diberikan kepada Tuhan adalah cinta yang melebihi nyawanya sendiri. Ironinya, banyak orang memiliki allah fantasi, tetapi mereka yang berfantasi terhadap objek allah yang tidak benar tersebut bisa menyerahkan nyawa mereka dengan segenap hati dan segenap hidup. Sebaliknya, orang Kristen yang merasa memiliki Allah yang benar tidak mengasihi-Nya dengan segenap hidup. Hal ini sungguh ironis sekali.

Kita yang harus mengarahkan hidup kita kepada Tuhan sepenuhnya atau tidak. Tuhan Yesus menolak menyembah Iblis, artinya bukan hanya tidak menundukkan badan kepada Iblis sebagai sikap menyembah, tetapi tidak tertarik kepada dunia ini atau tidak mengingini dunia ini. Inilah sikap tidak menyembah Iblis. Sebaliknya, kalau seandainya Yesus mengingini dunia karena tertarik kepadanya, maka berarti Yesus menyembah Iblis. Kalau hal ini terjadi, maka Yesus gagal menyelesaikan tugas penyelamatan atas dunia. Ini berarti Ia tidak pernah menjadi Kristus, artinya yang diurapi.

Tindakan Tuhan tersebut memberi pelajaran mahal kepada kita, agar kita tidak mengingini dunia ini. Kalau kita sudah menyatakan diri mengikut Yesus, berarti kita sedang berlari meninggalkan dunia yang akan dihanguskan oleh api dan belerang seperti Sodom dan Gomora. Memang Alkitab menyatakan bahwa bumi ini terpelihara dari air untuk api yang akan membinasakannya (2Ptr. 3:1-4). Kita harus berlari meninggalkan dunia seperti Lot meninggalkan Sodom dan Gomora, dan tidak menoleh ke belakang seperti istri Lot (Luk. 17:32). Orang yang masih terikat dengan percintaan dunia berarti menoleh ke belakang. Orang-orang Kristen seperti ini sebenarnya belum mengalami keselamatan yang sesungguhnya, sebab kalau mereka mencintai dunia berarti menyembah Iblis. Yesus fantasi memberi toleransi mencintai dunia.

Bila hal tersebut kita lakukan, maka kita dapat mengenal dengan benar keindahan Tuhan. Kita dapat menikmati keindahan dunia. Sehingga tidak sulit lagi mengenakan gaya hidup yang diajarkan oleh Tuhan, bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Tidak sulit untuk mengerti dan mengenakan gaya hidup anak-anak Allah seperti yang diperagakan oleh Paulus, bahwa asal ada makanan dan pakaian, cukup. Ini artinya tidak terikat dengan keindahan dunia serta berbagai keinginan yang dapat membelenggu. Harus diingat bahwa percintaan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Kita yang harus menentukan atau menetapkan diri sendiri, apakah mau menjadi sahabat Allah atau musuh-Nya.