Melayani Dari Hati Tuhan
28 December 2017

Harus dengan rendah hati kita kembali merumuskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan pelayanan itu? Untuk menemukan rumusannya kita harus terlebih dahulu memperkarakan: Apakah rencana Allah dalam dunia ini, bagaimana turut mewujudkan rencana tersebut, dan kualifikasi apakah yang harus dimiliki seorang pelayan Tuhan. Sesungguhnya, rencana Allah pada dasarnya adalah mempersiapkan suatu umat yang akan mengelola alam ciptaan-Nya di langit dan bumi yang baru. Hal ini merupakan pemenuhan maksud penciptaan alam semesta. Tuhan menciptakan langit dan bumi yang pertama dengan sempurna. Tuhan juga akan menciptakan langit dan bumi yang baru dengan sempurna, tempat di mana kita akan bersama dengan Tuhan selama-lamanya.

Pelayanan adalah proyeksi persiapan memerintah bersama dengan Kristus. Umat yang dipersiapkan adalah umat yang hendak dibentuk atau diproses menjadi seperti yang Tuhan kehendaki, yaitu manusia yang sempurna. Tentu, masing-masing individu di sini memiliki tempatnya masing-masing (Mat. 20:23). Sehingga sebenarnya sejak dilahirkan, setiap orang telah memiliki tempat yang dipersiapkan Allah baginya untuk mengabdi. Jadi, pelayanan adalah usaha untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya. Untuk ini Tuhan sudah memberikan Roh-Nya dan Firman sebagai penuntun. Roh dan Firman tersebut adalah kuasa atau hak (Yun. exousia) supaya menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu juga menuntun orang percaya bagaimana dapat melayani Bapa dengan benar.

Setiap orang Kristen harus ada di dalam pelayanan. Sebab, amanat agung Tuhan Yesus tidak hanya ditujukan kepada sekelompok orang saja. Respon terhadap tanggung jawab hidup itu, kita memiliki panggilan masing-masing di tempat di mana kita harus berada. Dalam hal ini, semua orang percaya adalah utusan Tuhan. Adapun panggilan menunjuk kepada fungsi orang percaya dalam pelayanan tersebut. Karena, setiap orang memiliki fungsi berbeda. Hal ini dinyatakan oleh Paulus mengenai satu tubuh tetapi banyak anggota (1Kor. 12:12-18). Orang percaya harus menemukan tempat di mana ia dapat berkarya bagi Tuhan sebagai responnya. Untuk menggenapi rencana-Nya, Tuhan menempatkan masing-masing individu pada tempat yang khusus. Itulah panggilan tersebut. Masing-masing orang percaya pasti memiliki panggilan yang khas, khusus, dan benar-benar spesifik. Dengan demikian, yang bertanggung jawab dalam pelayanan atau hidup dalam misi Bapa bukan hanya para rohaniwan.

Ketika Tuhan Yesus mengajak Matius pemungut cukai untuk mengikut Dia, Matius harus meninggalkan rumah cukainya (Mrk. 2:13-17), tetapi dalam Lukas 19:1-10, Zakheus yang menerima tawaran mengikut Yesus tidak harus meninggalkan rumah cukainya, ia tetap menjadi pemungut cukai. Tentu praktik-praktik fasik atau segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan dalam pekerjaannya harus ditanggalkan. Di sisi lain ketika orang gila di Gadara hendak mengikut Yesus menjadi seperti murid-murid yang lain, Tuhan Yesus melarangnya. Mengapa? Sebab setiap orang memiliki tempat yang berbeda (Luk. 8:39).

Itulah sebabnya suatu pekerjaan dikategorikan sebagai pekerjaan duniawi atau rohani bukan tergantung jenis pekerjaan tersebut tetapi motivasi dan tendensi pekerjaan itu diselenggarakan. Jadi, ladang Tuhan itu bukan hanya menyangkut pekerjaan-pekerjaan yang berada di lingkungan gereja tetapi segala sesuatu yang mendukung pelebaran Kerajaan Allah atau bernuansa misi Bapa adalah ladang Tuhan. Dengan demikian, setiap orang percaya dengan yakin melakukan pekerjaan masing-masing sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, dokter, kontraktor, suster, dan lain-lain untuk kemuliaan Allah. Adapun seorang yang disebut penginjil yang menjadi utusan Injil dapat dikategorikan sebagai panggilan khusus. Bagi kita yang mendapat beban pelayanan di gereja harus fokus di pelayanan ini dan mengembangkannya secara maksimal.

Jika setiap orang percaya memahami rencana Allah yang agung ini dan keterlibatannya dalam pelayanan, maka tidak pernah ada usaha manipulatif dalam pelayanan. Hal ini sama artinya tidak mungkin seseorang yang mengerti panggilannya untuk melayani Tuhan, menjual nama Tuhan itu sendiri. Hal menemukan panggilan khusus Allah dalam kehidupan ini harus benar-benar dipahami oleh semua orang percaya. Sehingga setiap orang percaya tanpa pamrih, dengan motivasi yang benar menemukan tempatnya untuk mengabdi kepada Tuhan, dan benar-benar melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Dengan demikian seseorang dapat melayani dari hati Tuhan.