Melayani Adalah Suatu Kehormatan
26 December 2017

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kehormatan itu? Kata kehormatan sejajar dengan kata mulia. Kehormatan berarti dihargai, dijunjung tinggi, dipandang luhur. Dalam bahasa Yunani kata hormat adalah tima, kata ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan honour, value. Pengertian kehormatan bisa relatif, sebab perspektif masing-masing orang terhadap pengertian tinggi, luhur, mulia, dan agung berbeda-berbeda. Hal ini tergantung konsep hidup atau filosofinya mengenai hidup. Kehormatan sebenarnya tidak bisa relatif kalau kita menggunakan parameter sudut pandang Tuhan, sebab ukuran inilah yang mutlak dan absolut. Kehormatan seorang hamba menunjuk kepada keluhuran, kemuliaan dan keagungan seorang hamba, dalam kedudukan, pangkat, dan martabat. Masalahnya adalah apakah seorang hamba dapat dikatakan terhomat? Jawabnya adalah bisa, bila ukuran yang digunakan adalah perspektif Tuhan atau cara memandang Tuhan.

Dalam Alkitab, kita sering dapati bahwa perspektif atau cara Tuhan memandang paradoks dengan perspektif manusia, misalnya dalam Lukas 22:26-27: Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Dalam kesempatan lain, Tuhan Yesus berkata: Barangsiapa yang meninggikan diri ia akan direndahkan, tetapi barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Dalam hal ini, keangkuhan hidup adalah musuh besar seorang pelayan Tuhan. Inilah bahaya yang telah menjerumuskan banyak hamba Tuhan, yaitu pride atau harga diri. Untuk ini, seseorang harus benar-benar merasa tidak bernilai, kecuali di hadapan Tuhan. Untuk menjadi percaya yang benar tidak boleh mencari hormat (Yoh. 5:44). Tuhan Yesus menjadi prototype Pribadi yang patut disebut terhormat, yaitu ketika Ia menjadi hamba. Prinsip penghambaan Tuhan Yesus dirumuskan dalam Filipi 2:5-8: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Berita utama yang terdapat dalam ayat-ayat ini adalah kesediaan Tuhan Yesus “melepaskan hak”. Ini adalah rahasia bagaimana seseorang menjadi hamba yang memiliki kehormatan dalam perspektif Allah. Demi pekerjaan Bapa, yaitu penyelesaian tugas kemesiasan-Nya, Tuhan Yesus melepaskan segala hak-Nya. Melepaskan hak artinya “rela” tidak menikmati apa yang menjadi bagian atau haknya atau “rela” melepaskan apa yang menjadi miliknya demi kepentingan kerajaan Allah. Hak-hak tersebut antara lain hak untuk dihormati, dikasihi, diperlakukan adil, menikmati milik sendiri, dan lain sebagainya. Orang yang rela melepaskan hak adalah adalah orang yang melayani Tuhan. Sebenarnya setiap orang percaya harus sudah kehilangan hak. Sebab penebusan oleh Tuhan Yesus di satu aspek berarti dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, dan surga disediakan. Tetapi di aspek lain, penebusan oleh Tuhan Yesus berarti menandakan kita menjadi milik-Nya. Oleh karena kita menjadi milik-Nya, kita kehilangan kedaulatan hidup dan kehilangan segala hak. Oleh penebusan kita menjadi milik Tuhan sepenuhnya; kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Sebagai pengikut Kristus kita harus mengikuti jejak-Nya. Sebagaimana Ia melepaskan hak-Nya, maka kita pun harus melepaskan hak-hak kita demi Kerajaan Surga.

Melepaskan hak juga berarti tidak lagi berkuasa mengatur diri sendiri. Dalam kehidupan sebagai anak tebusan, hidup kita berada dalam pengaturan Tuhan yang membuat kita sungguh-sungguh dapat memuliakan Tuhan (Yoh. 21:18-19). Peragaan melepaskan hak ditunjukkan Tuhan dalam Yohanes 13:5, 12-14 melalui mencuci kaki murid-murid-Nya. Maksud tindakan Tuhan mencuci kaki murid-murid-Nya tersebut adalah agar kita melepaskan hak seperti Dia. Dengan demikian, Tuhan dapat mengisi diri kita dengan kepenuhan-Nya (Ef. 1:23;4:13). Sehingga sebagai akibatnya, Ia dapat tampil di gelanggang dunia memuliakan Bapa melalui hidup kita. Tuhan mengajar kita untuk dapat menyatakan kehidupan yang dikalimatkan oleh Paulus sebagai hidupku bukan aku lagi (Gal. 2:20). Kalau pelayanan didasarkan pada sikap hati ini, maka tidak akan pernah menjual nama Yesus.