Kurang Berbekal
30 May 2017

Dewasa ini juga banyak pelayan Firman dan pemimpin gereja yang terlahir dari pendidikan di berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan berbagai profesi (pengusaha, artis, atlit, pejabat pemerintah, pegawai swasta, pengacara, dokter, pendidik, ibu rumah tangga, dukun dan lain sebagainya). Tentu hal ini bukan sesuatu yang salah. Tuhan bisa mengubah mereka dan menjadikan alat dalam tangan Tuhan secara luar biasa. Tetapi masalahnya, mereka belum diperlengkapi dengan pengetahuan Alkitab yang memadai dan di antaranya belum bertumbuh secara benar dalam karakter Kristus. Banyak pengalaman masa lalu mereka yang telah menggores secara mendalam. Kerusakan karakter mereka tidak cukup dalam waktu 4 tahun dibenahi di Sekolah Teologi. Idealnya, seharusnya dari Sekolah Minggu seseorang dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan. Kalau hanya 4 tahun dalam studi, belumlah memadai membenahi karakternya. Lagipula tidak banyak Sekolah Teologi yang menyediakan pembinaan karakter yang baik. Pada umumnya mereka lebih menekankan keilmuannya atau akademisinya, yaitu teologi, daripada pembentukan karakternya.

Pengalaman pertobatan dan kesaksian yang mereka alami, di dalamnya termasuk pengalaman panggilan untuk melayani, sudah dianggap cukup sebagai bekal. Mereka mengganggap bahwa pengalaman masa lalu sudah cukup memadai sebagai bekal untuk melayani pekerjan Tuhan, dari mengatur organisasi sampai berkhotbah. Memang urusan organisasi (baik organisasi gereja maupun sekuler atau perusahaan) bisa dilakukan oleh siapa saja, sebab bisa dipelajari di sekolah. Tetapi untuk menyampaikan Firman Tuhan, bukan sesuatu yang mudah. Mestinya juga tidak boleh sembarangan, sebab selain harus memahami isi Alkitab juga harus memiliki kualitas diri sebagai wakil Tuhan Yesus, yaitu kehidupan seperti Yesus. Pengalaman pertobatan bukan berarti seseorang sudah berubah mencapai standar kehidupan yang dikehendaki oleh Allah sebagai pelayan Firman dan pemimpin komunitas rohani.

Mereka percaya bahwa Tuhan menyertai dalam segala hal secara ajaib, tanpa memahami bahwa tanggung jawab untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan kesempurnaan di dalam Tuhan adalah tanggung jawab individu. Untuk bisa lebih mengenal Allah, sehingga memahami ajaran yang benar dari Injil dan bertumbuh dalam kesempurnaan, tidak bisa secara ajaib. Harus diperjuangkan secara bertahap dengan ketat. Ini adalah tatanan yang tidak bisa diubah. Mukjizat bisa terjadi setiap saat, tetapi mengenal Allah dengan benar dan bertumbuh dalam kesempurnaan dan kesucian harus melewati tahap-tahap ketat dalam perjalanan waktu oleh perjuangan yang sangat serius.

Tidak sedikit di antara mereka yang sudah puas diri dengan pengalaman “masa lalu” dengan Tuhan. Seakan-akan kesaksian pengalaman masa lalu mereka yang luar biasa, ajaib dan spektakuler sudah merupakan verifikasi bahwa dirinya adalah orang terpanggil dan akan selalu layak untuk menjadi pemimpin suatu komunitas Kristen, serta berkhotbah. Orang-orang seperti ini kalau tidak waspada, di perjalanan masih bisa dibelenggu oleh percintaan dunia dan kesenangan dihormati menjadi orang penting. Akhirnya lepas dari belenggu Tuhan, sehingga bisa menjadi alat dalam tangan kuasa musuh untuk mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Faktanya hari ini, banyak pengajaran yang tidak sesuai dengan Injil muncul dari mereka. Karena telah memiliki prestasi pelayanan yang hebat dengan segudang kesaksian mukjizat, maka penyimpangan tersebut tidak dikenal oleh jemaat.

Pola “berpikir lama” yang belum tuntas melahirkan doktrin-doktrin atau ajaran yang sebenarnya bertentangan dengan kebenaran Injil yang sejati. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya mereka tidak tahu. Mereka tidak bermaksud menipu atau menyesatkan, tetapi mereka tidak tahu kalau diri mereka sendiri sebenarnya juga salah. Harus diingat bahwa pengalaman pertobatan, panggilan atau pengalaman spektakuler dengan Tuhan bukanlah bekal yang cukup bagi seseorang untuk dapat menjadi seorang pengajar atau pembicara di mimbar. Seseorang harus terus belajar. Biasanya mereka mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama yang mudah diakomodir dengan semangat zaman dan mengisinya dengan pengertian tertentu seakan-akan sesuai dengan nafas Injil. Tentu saja karena kehabisan bahan khotbah, mereka membuat produk baru yaitu mendeklarasikan visi-visi yang diakuinya dari Tuhan. Jemaat dimobilitas untuk memenuhi dan memercayai visi-visi tersebut. Di sini terjadi penyesatan terselubung di dalam gereja, sehingga jemaat tidak dipersiapkan berjumpa dengan Tuhan.