Konsep Yang Salah
18 October 2019

Dalam Injil, terdapat beberapa peristiwa dimana Yesus hendak diangkat menjadi raja oleh orang-orang Yahudi, yaitu pada waktu Tuhan Yesus secara ajaib memberi makan 5000 orang (Yoh. 6:15). Berikutnya, pada waktu Tuhan Yesus masuk Yerusalem. Orang-orang Yahudi ini mengharapkan Tuhan Yesus dapat tampil sebagai pemimpin mereka melawan bangsa Romawi. Orang-orang Yahudi tidak tahu bahwa Kerajaan yang akan dibangun oleh Tuhan Yesus adalah Kerajaan yang bukan datang dari dunia ini (Yoh. 18:36). Kenaikan Tuhan Yesus membuktikan dan menunjukkan bahwa sesungguhnya Kerajaan dan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri bukan dari dunia ini (Yoh. 17:14). Suatu hari nanti, Tuhan Yesus akan datang kembali membawa orang percaya ke tempat yang telah disediakan Tuhan dan Tuhan pasti membangun Kerajaan-Nya di langit baru dan bumi yang baru (Yoh. 14:1-3).

Kalau melihat kehidupan orang-orang Kristen hari ini, nampaklah banyak di antara mereka yang memiliki sikap dan pandangan yang sama seperti murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang Kristen yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi tidak mengenal kebenaran Allah secara memadai, bahkan banyak memiliki konsep yang salah. Dalam dunia pendidikan, murid-murid yang terbelakang dengan IQ rendah disebut sebagai retarded, atau bahkan sampai dipandang sebagai idiot. Kesalahan banyak orang Kristen sekarang sama dengan kesalahan murid-murid Yesus pada waktu itu, yaitu menuntut pemulihan atas segala aspek hidupnya secara jasmani sesuai dengan selera manusia. Mereka mencari Tuhan hanya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, yaitu hanya menekankan pada pemulihan ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, jodoh, keturunan, dan hal-hal lainnya. Biasanya yang diingini manusia adalah apa yang dapat dinikmati oleh fisik dan jiwa yang sudah kehilangan kemuliaan Allah. Inilah cara hidup yang diwariskan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi berikutnya. Padahal cara hidup mereka bukan standar cara hidup anggota keluarga Kerajaan Allah.

Seharusnya hal pemenuhan kebutuhan jasmani tidak menjadi masalah utama ketika orang percaya berurusan dengan Tuhan. Tuhan sudah menyediakan berkat jasmani untuk setiap orang, asal bertanggung jawab dalam hidup ini, yaitu bekerja keras, menjaga kesehatan, dan berhati-hati atau tidak ceroboh dalam setiap tindakan atau langkah hidup ini. Tuhan menghendaki agar orang percaya memberi perhatian kepada apa yang menjadi visi Tuhan, yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia. Untuk ini, orang percaya harus dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Dia, yaitu bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang baik, yang standarnya adalah kehidupan Yesus. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh menuntut dan mengharapkan hidup di dunia ini dapat menikmati kesenangan seperti model anak-anak dunia. Terkait dengan hal ini, kitab Roma mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17). Kesehatan, ekonomi, rumah tangga, dan lain sebagainya bisa dipulihkan oleh Tuhan, tetapi hendaknya orang tidak hanya mempersoalkan pemenuhan kebutuhan jasmani.

Hidup di dunia harus dipahami dan diterima hanya sebagai masa persiapan menyambut kehidupan yang sebenarnya, yang Tuhan rancang di langit baru dan bumi yang baru. Itulah kehidupan yang “penuh pengharapan” sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh firman Tuhan (1Ptr. 1:3-4). Hendaknya orang percaya tidak berpikir bahwa kekristenan akan memberi kontribusi, bantuan, atau keuntungan atas hidup hari ini bagi kehidupan jasmani dengan harapan hidup dapat dijalani lebih mudah. Justru menjadi percaya berarti memasuki proses agar layak menjadi anak-anak Allah yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.

Hidup seseorang yang disentuh oleh Injil dan berusaha mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah akan merasakan beratnya hidup ini. Sebab mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah bukan sesuatu yang mudah, tetapi harus melakukan perjuangan. Di dalam mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, orang percaya dituntut untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah dalam segala hal. Selanjutnya, orang percaya juga harus menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Orang percaya harus memikul kuk atau salib, yaitu menjadi saksi dengan menampilkan kehidupan Yesus. Menampilkan kehidupan Yesus berarti orang percaya harus memiliki perilaku seperti Yesus. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung kalau orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.