Konfirmasi Dari Allah
11 February 2020

Kalau Abraham dalam ketaatannya bisa menjadi sahabat Allah, kita dalam ketaatan seperti Yesus dapat menjadi anak-anak Allah (1Ptr. 13-17). Penurutan atau ketaatan yang orang percaya harus miliki haruslah sesuai dengan standar yang Yesus tunjukkan, yaitu hidup-Nya sendiri. Dialah standar hidup anak-anak Allah yang dikehendaki oleh Bapa. Allah tegas dan berintegritas sempurna. Allah tidak mengurangi standar tersebut, kapan pun, bagaimana pun, dan di mana pun. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa kalau kita sudah menjadi orang Kristen, secara otomatis sudah menjadi anak-anak Allah yang sah. Kalau selama ini dikesankan demikian oleh pihak gereja, kita harus sadar bahwa pengesahan sebagai anak-anak Allah harus dari pihak Allah. Hal ini sama dengan kata “percaya,” apakah percaya kita kepada Allah diterima atau dirasakan oleh Allah sebagai percaya yang benar? Hal ini sama pula dengan hal mengasihi Allah. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Allah, apakah Allah merasakan dan mengakui bahwa kita mengasihi Dia?

Maka, kita harus berurusan dengan Allah secara pribadi untuk mendapat konfirmasi dari Dia mengenai hal tersebut, yaitu apa penilaian Allah terhadap kita dan apa yang Allah rasakan mengenai kita terhadap diri-Nya. Kita tidak boleh dan memang tidak bisa bertanya kepada manusia; teolog dan pendeta mana pun. Masing-masing kita harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Hal ini harus kita pandang sebagai hal yang selalu paling mendesak dan penting. Segala sesuatu bisa diabaikan jika sudah mempersoalkan hal ini, sebab ini menyangkut nasib kekal kita. Kepastian mengenai hal ini tidak bisa diselesaikan dengan “percaya saja.” Percaya masih bersifat spekulatif, tetapi mengalami langsung dengan Allah adalah kepastian yang lebih dari sekadar percaya dengan nalar. Dalam hal ini, orang percaya tidak boleh membiasakan diri merasakan apa yang dipercayai mengenai relasinya dengan Allah, tetapi harus membiasakan diri merasakan apa yang dialami dengan Allah, sebab Allah hidup dan pasti nyata.

Sangat membahayakan kalau orang Kristen merasa bahwa yang dipercayai di dalam pikiran sudah berarti kebenaran hidup yang berkualitas, sejajar dengan pengalaman riil dengan Allah. Mereka merasa sudah berkenan kepada Allah karena memercayai Allah di dalam pikiran. Karena Allah sering seakan-akan tidak ada, mereka merasa bahwa Allah memang memberikan standar hidup demikian dalam berelasi dengan Allah. Tidak perlu ada pengalaman-pengalaman yang dinilai “mistik.” Cukup percaya saja, walau tidak ada konfirmasi dari Allah. Mereka merasa tidak perlu mendapat konfirmasi dari Allah, sebab yang penting mereka sudah percaya dan bisa memberi jawaban atau alasan mengenai keadaan hidup mereka tersebut. Ini adalah orang-orang Kristen yang berfantasi dengan Allah, tetapi tidak mengenal Allah dengan benar.

Biasanya, teolog menjawab segala pertanyaan dan persoalan mengenai Allah hanya di atas kertas dalam karya-karya ilmiah di lingkungan seminari atau sekolah tinggi teologi. Jawaban-jawaban tersebut dibagikan kepada jemaat pada hari-hari pertemuan bersama. Hal ini diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga pada umumnya gereja-gereja mengenakan pola seperti ini sebagai budaya permanen yang tidak pernah berubah. Tanpa disadari, terbangun rezim di dalam gereja yang sangat dipengaruhi oleh ajaran yang diolah di seminari atau sekolah-sekolah tinggi teologi. Padahal, sering kali para pengolahnya adalah orang-orang yang “berkarier” dalam dunia akademis yang tidak jarang kurang bersentuhan dengan kehidupan riil jemaat.

Tidak dapat disangkal kenyataan adanya dosen-dosen di lingkungan seminari atau sekolah tinggi teologi yang menjadi pengajar dan mengolah doktrin hanya karena “nafkah” dan “karier,” bukan karena dedikasi yang murni bagi Allah. Bagaimana tulisan dalam Alkitab yang ditulis dalam pergumulan hebat menghadapi kehidupan secara riil dapat dianalisa oleh pikiran orang-orang yang tidak mengalami kehidupan seperti penulis Alkitab? Kebenaran Alkitab tidak akan dapat dimengerti oleh pikiran yang masih duniawi dan terikat dengan mamon (Luk. 16:11).

Menjadi budaya dalam kehidupan orang Kristen, relasi dengan Allah dirumuskan dalam bahasa akademis dan disampaikan kepada jemaat pada hari kebaktian di tengah liturgi selama 25 sampai 45 menit. Kadang-kadang menggunakan bahasa akademis yang hanya dimengerti oleh segelintir orang. Jangankan jemaat, pembicara sendiri kemungkinan tidak pernah mengalami Tuhan secara riil, sebab mereka hanya mengolah Allah dalam pikiran atau menalar Allah di dalam karya-karya ilmiah di lingkungan seminari atau sekolah tinggi teologi. Bisa dibayangkan betapa berbahaya keadaan gereja hari ini. Tetapi dengan arogannya, banyak pembicara yang telah mencapai gelar tinggi di seminari atau sekolah tinggi teologi menyampaikan Firman dengan kesan bahwa dirinya mengenal Allah dengan baik. Mengenal Allah hanya melalui pendidikan formal sering kali hanya sebuah teori. Seseorang bisa memiliki pemahaman Alkitab dari perspektif historis, perpekstif linguistik, dan transmisi tekstual, tetapi kalau tidak hidup di hadirat Allah secara riil, maka sia-sia belaka.