Kondisi Yang Mendukung
12 October 2019

Sulit dibantah kenyataan bahwa penderitaan yang dialami oleh orang percaya dapat membuahkan kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ketika seseorang hidup dalam kenyamanan, mereka menjadi betah membangun dan menikmati kerajaannya sendiri. Tuhan mengizinkan orang percaya mengalami aniaya yang hebat pada abad pertama. Melalui penganiayaan yang hebat tersebut, mereka dipisahkan dari kenyamanan hidup di dunia. Melalui keadaan tersebut orang percaya dipaksa meninggalkan kesenangan dunia yang sama dengan kerajaan manusia. Dengan demikian, penganiayaan pada abad pertama kepada orang percaya merupakan berkat Tuhan bagi orang percaya agar mereka dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan mereka. Paulus mengatakan bahwa penderitaan adalah karunia. Dalam suratnya ia menulis, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29).

Orang percaya sekarang tidak mengalami aniaya seperti yang dialami orang percaya pada abad pertama. Sebenarnya, keadaan tenang dan aman ini justru sangat berbahaya bagi iman Kristen yang sejati. Dengan kondisi ini, dunia terbuka untuk dinikmati oleh orang Kristen sehingga banyak orang Kristen terjebak dengan pola hidup seperti anak-anak dunia, yaitu berusaha untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya kesenangan, keindahan, dan segala hiburan yang dapat disediakan oleh dunia. Keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan orang percaya pada gereja mula-mula di abad pertama. Mereka tidak memiliki peluang sama sekali untuk menikmati dunia. Kondisi hidup yang tidak aman dan tidak nyaman sangat kondusif untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidup mereka.

Kondisi dunia hari ini yang aman dan nyaman sangat rawan untuk kehidupan orang percaya. Dunia dengan segala keindahan dan hiburannya memberi peluang sebesar-besarnya untuk dimiliki dan dinikmati oleh orang Kristen. Kalau orang percaya abad mula-mula tidak memiliki pengharapan apa-apa untuk menikmati dunia, sehingga mereka lebih mengharapkan kedatangan Tuhan (Yun. Parousia) dan masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi orang Kristen hari ini dengan kesempatan menikmati dunia dengan segala keindahannya, sangat berpotensi dan memang cenderung membangun berbagai pengharapan untuk menikmati dunia hari ini. Dengan keadaan ini, banyak orang Kristen tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Mereka masih hidup dalam kerajaannya sendiri; atribut-atribut kekristenan hanya sekadar pergi ke gereja mengikuti kebaktian, liturgi, atau misa. Padahal mereka sudah menganggap sudah mengenakan kekristenan yang sejati dan merasa sudah mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ini sebuah penyesatan.

Seharusnya, walaupun walau dunia terbuka selebar-lebarnya bagi orang Kristen untuk memberikan segala kesenangan, tetapi orang percaya harus memilih untuk menaruh pengharapannya kepada Tuhan guna memperoleh kemuliaan bersama dengan Tuhan di langit baru dan bumi baru. Dengan demikian, orang percaya dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di bumi hari ini. Seharusnya orang percaya berprinsip bahwa tidak ada pengharapan apa pun yang dapat orang percaya peroleh dan miliki di bumi ini. Dengan demikian, orang percaya dapat memindahkan hati ke surga.

Orang percaya harus menerima kebenaran firman Tuhan bahwa orang percaya sudah mati dan hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-3). Kata “mati” dalam teks tersebut adalah apothnesko (Yun. ἀποθνῄσκω). Kata tersebut menunjukkan bahwa cara hidup orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus berbeda dengan cara hidup anak-anak dunia yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kata “mati” di sini menunjukkan bahwa keberadaan manusia lama orang percaya yang dulu masih hidup dalam pemerintahan kerajaan sendiri harus sama sekali ditinggalkan. Dalam 2 Korintus 5:14-15, firman Tuhan mengatakan bahwa “yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah terbit.” Ini jelas menunjukkan bahwa manusia lama harus ditiadakan sama sekali. Dalam Efesus 4:22, dikatakan bahwa manusia lama harus ditanggalkan. Kata “ditanggalkan” dalam teks aslinya adalah apotithemi (ἀποτίθημι), yang bisa berarti dilepaskan sama sekali atau dibuang. Seseorang yang masih hidup dengan cara hidup yang lama menutup pintu terhadap kehadiran Kerajaan Allah dalam hidupnya.

Kalau orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya, maka cara hidup yang dimiliki pasti sesuai dengan kesucian Allah. Sesuai dengan kesucian Allah, artinya segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Semua ini berlangsung sebagai persiapan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Itulah sebabnya, bagaimana pun tanda-tanda orang-orang yang akan dipermuliakan bersama dengan Kristus dan yang tidak, sudah sangat nampak sejak ia hidup di dunia ini. Kalau seseorang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah sementara hidup di dunia ini, maka ia tidak akan dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai anggota keluarga Kerajaan.