Kognitif, Afektif, Dan Konatif
26 September 2017

Sering terjadi, seseorang memakai atau menggunakan barang palsu, tetapi ia tidak mengetahui pemalsuan tersebut. Hal ini terjadi sebab ia tidak pernah menggunakan barang yang asli. Hal ini juga bisa terjadi pada orang Kristen yang selama hidupnya hanya mengenal Yesus fantasi. Keindahan Tuhan yang dipahami dan dirasakan hanyalah fantasi. Hal ini juga terjadi atas semua mereka yang tidak mengenal Allah yang benar. Mereka bisa mengatakan bahwa kepercayaan yang mereka anut dan allah yang mereka sembah adalah allah yang benar. Padahal semua yang mereka yakini dan mereka rasakan serta mereka nikmati adalah palsu semata-mata. Fenomena ini bisa berlangsung ratusan, bahkan ribuan tahun. Dan Tuhan seperti membiarkannya, sebab mereka tidak mau membuka hati untuk diajar.

Hal ini juga terjadi atas orang-orang Kristen yang tidak mengikut Tuhan Yesus dengan benar, mereka merasa telah memiliki Yesus dan menikmati keindahan-Nya, padahal semua yang mereka alami hanyalah fantasi belaka. Tuhan seperti membiarkannya. Oleh sebab itu, kita perlu memeriksa hidup Kekristenan kita, apakah kita telah menemukan Yesus dengan benar atau hanya sebuah fantasi. Dalam hal ini kita harus mulai mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam usaha untuk bertemu dengan Tuhan. Kita tidak boleh hanya mempercakapkan Tuhan, di mana semua hanya sebatas nalar, pikiran, doktrin, kajian teologi, pengajaran yang didefinisikan, dan semua serba kognitif.

Memang kognitif adalah langkah awal. Kognitif adalah perilaku di mana individu mencapai tataran mengenal objek yang diperkenalkan atau dipelajari. Kognitifnya harus benar, tetapi verifikasi terhadap kognitif harus dilakukan, sebab objek yang dipahami adalah Pribadi yang hidup, di mana dengan-Nya kita harus berinteraksi. Pribadi tersebut adalah Pemimpin pemerintahan yang sekaligus menjadi hukum di mana kita harus menundukkan diri secara konsekuen dan konsisten di mana pun kita berada.

Selanjutnya orang percaya harus meningkat pada taraf sikap afektif, artinya perilaku di mana individu mempunyai kecenderungan untuk menyukai atau tidak menyukai objek yang dikenalnya. Ini sudah menyentuh aspek emosional. Dalam hal ini perasaan kita harus jelas terhadap Tuhan, apakah kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh atau tidak. Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus memperkarakan hal ini dengan Petrus: Apakah engkau mengasihi Aku? (Yoh. 21). Tuhan menanyakan hal ini kepada Petrus sampai tiga kali.

Setelah Petrus menjawab bahwa dirinya mengasihi Tuhan, maka Tuhan menyatakan suatu pernyataan: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.” (Yoh. 21:18-19). Dalam pernyataannya tersebut Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita, kalau seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, maka tidak ada lagi yang menjadi berharga dalam hidup ini, bahkan nyawanya sekalipun, selain Tuhan.

Setelah memiliki sikap afektif, maka sampai pada taraf sikap konatif, artinya kecenderungan berperilaku dalam situasi tertentu terhadap objek yang diyakini dan dirasakan. Konatif adalah perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu tindakan terhadap objek, dalam hal ini Tuhan Yesus. Jadi, konatif adalah perwujudan dari kognitif dan afektif. Dalam kehidupan orang percaya, hal ini terjadi atau berlangsung kalau mereka dengan sepenuh hati mengiring Yesus. Kita bisa mengerti mengapa Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kalau kita mau mengalami perubahan seperti yang diinginkan oleh Tuhan dalam mengiring Dia, kita harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33).