Kesempatan Yang Luar Biasa
30 January 2017

Satu hal yang menarik ternyata suku-suku bangsa di dunia memiliki keyakinan bahwa di balik kehidupan di dunia ini masih ada kesadaran. Ini sebuah konsep universal, walau konsep mereka tidak tepat betul, tetapi dari tradisi-tradisi mereka nampak keyakinan adanya kehidupan di balik kematian. Dengan demikian keyakinan adanya kekekalan adalah keyakinan yang bersifat universal. Manusia adalah makhluk yang dahsyat, kedahsyatan manusia bukan hanya terletak kepada kecerdasan dan segala kemampuan yang dimiliki, tetapi juga terletak kepada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang kekal. Inilah yang ditunjukkan oleh Alkitab dalam Kejadian 2:7, Tuhan menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia. Alkitab mencatat: ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Menjadi makhluk hidup bukan hanya dimengerti sebagai makhluk yang bisa bergerak, tetapi memiliki unsur kekekalan.

Hal ini yang seharusnya membuat kita menjadi takut hidup. Takut ini berangkat dari pertaruhan yang sangat mahal. Kalau orang main judi dengan taruhan kecil, maka permainan itu tidak beresiko, tetapi kalau taruhannya tinggi maka sebuah permainan yang sangat beresiko. Ini menakutkan. Tuhan mengajar kita untuk memiliki kegentaran terhadap kenyataan ini (Mat. 10:28). Hidup ini harus dipahami sebagai petualangan yang hebat. Suatu kesempatan yang luar biasa yang dianugerahkan oleh Penciptanya kepada masing-masing kita. Banyak orang tidak menghargai hidup ini sebab tidak menyadari betapa hebat kehidupan ini. Fasilitas kehidupan ini sendiri sebenarnya sangat mengagumkan. Fisik atau tubuh kita dengan semua ornamen, komponen dan metabolismenya sangatlah menakjubkan. Ini belum unsur rohani atau jiwa yang tidak kelihatan, termasuk di dalamnya kecerdasan dan perasaan yang kita miliki. Manusia diciptakan dengan keberadaan sepeti Penciptanya sendiri. Hal ini merupakan potensi atau kemampuan untuk dapat bersekutu dengan Tuhan. Menjadi partner yang berinteraksi dengan Tuhan.

Alam semesta dengan segala fasilitasnya juga sangat menakjubkan. Semua keagungan ini sebenarnya hanya merupakan sarana atau untuk terjadinya suatu perjumpaan antara manusia pribadi per pribadi dengan Tuhan semesta alam yang Mahaagung. Oleh sebab itu alam semesta dengan segala kekayaannya tidak boleh menjadi tujuan. Kuasa jahat yang hendak menarik manusia menjadi sekutunya telah menyesatkan banyak orang supaya alam semesta menjadi tujuan. Inilah yang dicoba Iblis terhadap Tuhan Yesus pada awal pelayanan-Nya. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk menyembahnya dengan memberi imbalan keindahan dunia. Jadi kalau seorang mengagumi dunia dan terpikat di dalamnya, maka sejatinya ia telah menyembah Iblis (Luk. 4:5-8).

Seandainya tidak ada manusia, maka tidak ada perjumpaan itu. Dan jika tidak ada perjumpaan itu, memang tidak ada kerugian atau juga tidak ada keuntungan. Tetapi kalau Sang Pencipta sudah menciptakan kita, maka terdapat suatu fakta adanya kerugian atau keuntungan. Kata lainnya: kehinaan atau kemuliaan, neraka kekal atau surga kekal. Inilah yang kemudian menjadikan kita sebagai makhluk yang beresiko tinggi. Hal ini harus disadari oleh manusia. Hidup ini bukan sekadar sebuah perjalanan sederhana yang singkat, setelah itu berlalu tanpa dampak atau akibat. Bila kita memiliki pemahaman seperti ini, maka kita telah sekelas tidak berbeda dengan hewan (1Kor. 15:32).

Kita tidak bisa berkata: Aku tidak mau. Siapa kita berani mengatakan demikian? Dalam Yesaya 15:9, Yesaya berbicara mengenai hal ini: Israel, you have no right to argue with your creator. You are merely a clay pot shaped by a potter. The clay doesn’t ask, “Why did you make me this way? Where are the handles? (Mengapa kamu ciptakan aku dengan cara demikian. Apakah keahlian-Mu?).

Sekarang, sebagai ciptaan, kita harus menemukan bahwa Tuhan memiliki keahlian yang tak terjelaskan. Sebagian keahlian Tuhan tersebut nampak dari hasil ciptaanNya ini (manusia, hewan dan alam semesta).Tetapi ingat itu hanya alat atau sarana. Kehebatan-Nya yang harus kita temukan adalah indahnya persekutuan dengan Sang Khalik. Itulah sebabnya dikatakan bahwa hidup ini adalah suatu petualangan yang hebat. Puncak kehebatan hidup ini adalah ketika kita diperkenan memiliki perjumpaan dengan Pribadi Mahaagung, yang berkenan menjadikan kita sekutu-Nya.