Keselamatan Untuk Semua Orang
23 May 2019

Tuhan memilih Israel keluar dari Mesir untuk ditempatkan di Kanaan, tanah perjanjian. Tetapi, ternyata sebagian besar mereka mati di padang gurun (1Kor. 10:5-6,11-12). Kegagalan tersebut apakah disebabkan oleh pihak Tuhan -karena Tuhan tidak sanggup memindahkan bangsa itu ke Mesir- atau karena bangsa Israel sendiri yang keras kepala? Dalam Ibrani 3:7-9 dikemukakan bahwa bangsa Israel mengeraskan hati, tidak mau taat kepada Allah, walaupun selama 40 tahun mereka telah melihat perbuatan-perbuatan Tuhan. Dari tulisan ini nampak bahwa Tuhan sudah “berusaha” menunjukkan perbuatan besar-Nya agar mereka dengar-dengaran, tetapi ternyata mereka memutuskan tidak percaya. Jadi, kalau sebagian besar bangsa tersebut tidak diperkenankan masuk tanah Kanaan, sebab mereka tidak dengar-dengaran atau keras kepala serta tidak mau bertobat.

Seharusnya dengan melihat perbuatan Tuhan yang besar, mereka bisa bertobat. Tetapi mereka keras kepala. Berkaitan dengan hal ini, tidak ditemukan penjelasan bila Tuhan mengeraskan hati mereka supaya tidak selamat. Kecuali dikatakan bahwa berulang-ulang kali Tuhan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat tetapi mereka tidak bertobat, maka Tuhan mengeraskan hati mereka. Kasus ini sangat berbeda dengan orang-orang yang hatinya dikeraskan oleh Tuhan, terutama mereka, bangsa-bangsa kafir atau orang-orang yang tidak layak menerima anugerah karena kejahatan mereka (Yoh. 11:20,30; Kel. 4:21; 7:3; 9:12; 10:1,20,27; 11:10,14,17). Kalau dalam berbagai kesempatan Tuhan mengeraskan hati orang-orang tertentu, hal ini hendaknya tidak menjadi ukuran umum, sebab Tuhan pasti memiliki alasan mengapa hati mereka harus dikeraskan.

Dalam suratnya Paulus mengatakan bahwa semua yang tertulis di Alkitab Perjanjian Lama menjadi contoh bagi kita. Menjadi contoh artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang mengaku Kristen, bahkan merasa sebagai orang percaya, bisa mengalami hal yang sama. Dalam tulisannya ini Paulus hendak menganalogikan kegagalan sebagian bangsa Israel dengan perjalanan hidup orang percaya. Perhatikan kalimat: “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita” (1Kor. 10:6). Ditegaskan kembali di ayat 11: “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Walaupun sebagian mereka adalah umat pilihan karena nenek moyang, tetapi karena mereka menolak Injil, maka mereka berstatus sebagai seteru (musuh) Allah. Bagaimana ini bisa terjadi? Ya, walaupun Allah memilih mereka sebagai umat pilihan anak keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, maka mereka pun ditolak Allah. Di satu pihak Allah memilih, tetapi lain pihak mereka menolak untuk dipilih menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, maka mereka binasa.

Fakta bahwa Tuhan mengerat orang-orang pilihan-Nya, diteguhkan dalam Roma 11:17-24. Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa kalau cabang asli -yaitu bangsa Israel bisa dipotong- demikian pula dengan batang cangkokan, yaitu orang Kristen dari berbagai suku bangsa. Di ayat 22 tertulis: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.” Dalam ayat ini Paulus bukan hanya menunjukkan kemurahan hati Allah, tetapi juga kekerasan-Nya. Ini berarti kita harus memperhatikan sifat Allah yang oleh karenanya terbangun sebuah tatanan. Dengan mengenal Dia, maka kita dapat bersikap secara benar atau patut. Jadi, pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas sikap kita terhadap Dia. Hal ini mengindikasikan bahwa keselamatan juga tergantung respon individu.

Dalam Matius 23:37 tertulis, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Dari pernyataan Tuhan Yesus ini jelas sekali bahwa Tuhan sudah berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu tetapi mereka “tidak mau,” bukan karena Tuhan yang mengeraskan hati mereka atau membuat mereka tidak bisa menolak anugerah. Dalam hal ini, tidak mungkin Tuhan “bersandiwara,” sementara Ia menyelamatkan bangsa Israel tetapi diam-diam di sisi lain Ia mengeraskan hati mereka agar tidak bisa menerima anugerah. Fakta yang tidak bisa dibantah adalah bangsa itu bisa menolak anugerah-Nya. Dalam hal ini tidak bermaksud melecehkan kemahakuasaan Allah atau kedaulatan-Nya. Dengan hormat kita mengakui bahwa dalam kemahakuasaan-Nya, Ia berdaulat memberi manusia kehendak untuk menentukan keadaannya atau merespon tindakan Penciptanya.