Keselamatan Harus Diresponi
22 February 2019

Dalam percakapan antara Tuhan dan Abraham mengenai rencana Tuhan membinasakan Sodom dan Gomora, Tuhan tidak menetapkan istri Lot binasa (Kej. 18:16-33). Bahkan malaikat yang diutus Tuhan menyelamatkan Lot dan keluarganya, serta mendesak Lot untuk mengajak kaumnya yang lain yang mau diselamatkan (Kej. 19). Dengan demikian tidak mungkin Tuhan menetapkan istri Lot untuk binasa dan tidak mungkin pula istri Lot dibuat Tuhan untuk tidak bisa menerima anugerah keselamatan, sementara anggota keluarga yang lain dibuat tidak bisa menolak anugerah-Nya. Tentu saja Tuhan mengasihi semua keluarga Lot dan merencanakan semuanya selamat dari bencana dan tentu saja termasuk istri Lot. Jadi, Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Kalau istri Lot gagal menerima usaha penyelamatan dari Allah, itu karena pilihan dan keputusannya sendiri.

Fakta ini penting bagi orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memunculkan fakta ini dalam pengajaran-Nya (Luk. 17:32). Mengapa Tuhan Yesus menyebut istri Lot dalam pengajaran-Nya? Kalau kita memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya (Luk. 17:22-37), Tuhan Yesus menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman yang tidak memedulikan keselamatan jiwanya: Mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Mereka sibuk sendiri dan tidak memedulikan keselamatan. Seperti zaman Lot, mereka tidak menyadari hujan belerang dan api akan menimpa mereka. Mereka menolak diungsikan. Walaupun Lot sudah memberitahu mereka akan datangnya penghukuman itu. Demikian pula dengan manusia hari ini, mereka menolak menerima keselamatan bukan karena dibuat tidak bisa menerima keselamatan atau anugerah, tetapi karena kehendaknya sendiri menolak anugerah Tuhan tersebut.

Kondisi manusia pada zaman Lot dan Nuh paralel dengan manusia menjelang kedatangan Tuhan Yesus nanti. Manusia mau menyelamatkan nyawa (psyke), mengumbar keinginan jiwanya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Lukas 17:31 dituliskan, “Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.” Tuhan memperingatkan beberapa kali: “Janganlah… jangan.” Larangan ini menunjukkan bahwa manusia bisa menerima anugerah atau menolaknya. Faktanya banyak manusia menolak, sehingga tidak bisa diselamatkan. Tidak bisa diselamatkan karena tidak menghargai kesempatan yang Tuhan berikan. Dalam hal ini keselamatan harus diresponi oleh setiap individu sebab seseorang memiliki peluang untuk menerima atau menolak. Kalau pada zaman Lot dan Nuh keselamatan berbicara mengenai keselamatan jasmani dari api dan air bah, tetapi pada zaman Perjanjian Baru keselamatan berorientasi pada keselamatan jiwa abadi, yaitu surga kekal atau neraka kekal.

Tuhan memilih bangsa Israel agar dapat keluar dari Mesir untuk ditempatkan di Kanaan, tanah perjanjian, tetapi ternyata sebagian besar mereka mati di padang gurun (1Kor. 10:5-6, 11-12). Kegagalan tersebut apakah disebabkan oleh pihak Tuhan (karena Tuhan tidak sanggup memindahkan bangsa itu ke Mesir) atau karena bangsa Israel sendiri yang keras kepala? Fakta ini penting bagi orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya Perjanjian Baru memunculkan fakta ini dalam pengajaran Tuhan Yesus. Dalam Ibrani 3:7-9 dikemukakan bahwa bangsa Israel mengeraskan hati tidak mau taat kepada Allah, walaupun selama 40 tahun mereka telah melihat perbuatan-perbuatan Tuhan. Dari tulisan ini nampak bahwa Tuhan sudah “berusaha” menunjukkan perbuatan besar-Nya agar mereka dengar-dengaran, tetapi ternyata mereka memutuskan tidak percaya.

Seharusnya dengan melihat perbuatan Tuhan, mereka bisa bertobat. Tetapi ternyata mereka keras kepala. Dalam kaitan dengan ini, tidak ditemukan penjelasan bahwa Tuhan mengeraskan hati mereka supaya tidak selamat. Kecuali setelah berulang-ulang Tuhan memberi kesempatan mereka untuk bertobat -tetapi mereka tidak bertobat- maka Tuhan bisa mengeraskan hati mereka. Kasus ini sangat berbeda dengan orang-orang yang hatinya dikeraskan oleh Tuhan, terutama bangsa-bangsa kafir atau orang-orang yang tidak layak menerima anugerah karena kejahatan mereka (Yos. 11:20; Kel. 4:21; 7:3; 9:12; 10:1,20,27; 11:10,14,17). Kalau dalam berbagai kesempatan Tuhan mengeraskan hati orang-orang tertentu, hal ini hendaknya tidak menjadi ukuran umum. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa hati seseorang harus dikeraskan. Seperti hati Firaun dikeraskan oleh Tuhan, sebab memang pada dasarnya Firaun tidak akan melepaskan bangsa Israel keluar dari Mesir (Kel. 3:19).