Kerja Keras Merespon Anugerah
24 April 2019

Anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus sudah sangat cukup, tidak perlu ditambah dengan apa pun lagi, sebab manusia dengan kemampuannya sendiri sudah pasti tidak akan dapat menyelamatkan dirinya. Karena hanya oleh anugerah penebusan Tuhan Yesus di kayu saliblah, maka manusia dapat diselamatkan; tetapi harus diingat bahwa tanpa menyambut (respon) anugerah keselamatan yang ditawarkan, maka tidak akan ada keselamatan dalam hidup seseorang. Bagaimanapun dan sekecil apa pun, selalu dibutuhkan adanya respon manusia yang menunjukkan kesediaan, kerelaan, dan kesadaran dari individu tersebut untuk menerima anugerah Tuhan.

Respon yang bagaimanakah yang menyelamatkan? Pertanyaan ini sama artinya dengan percaya yang bagaimanakah yang dapat menyelamatkan? Kerja keras bisa dikatakan relatif dan bisa juga dikatakan subyektif. Ini tergantung dari persepsi masing-masing individu berdasarkan apa yang diajarkan kepadanya dan yang dilihatnya dari orang lain. Ada orang yang merasa sudah bekerja keras dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang. Tetapi yang lain merasa baru bekerja keras bila melakukan pekerjaan yang sama dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Untuk ini seseorang harus belajar apa yang diajarkan Alkitab, bagaimana seharusnya merespon anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus sediakan demi mencapai maksud keselamatan diberikan.

Selama belum mencapai goal yang Tuhan targetkan -yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula- orang percaya harus terus berusaha untuk mengerti apa artinya kerja keras dalam merespon keselamatan yang Tuhan kehendaki. Terkait dengan hal ini ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan: Pertama,sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia dituntut untuk memiliki moral dan tindakan-tindakan yang mulia seperti Allah sendiri. Tuhan Yesus, Allah Anak yang menjadi manusia adalah satu-satunya sebagai prototipenya. Pemulihan gambar Allah yang rusak merupakan upaya mengembalikan manusia sebagai manusia Allah. Hal ini sama dengan usaha untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang atau kurang atas diri manusia.

Kedua,sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia patut memberikan seluruh kehidupan-Nya bagi Sang khalik, sebab Dia adalah Sang Pemilik yang menciptakan (Yoh. 1:10-11; 1Kor 6:19-20). Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Dia, sebab justru penciptaan manusia yang segambar dengan Allah dimaksudkan agar manusia harus mengabdi kepada Tuhan dengan ibadah dan bakti yang benar. Kemampuan hebat yang manusia miliki bukan untuk dirinya sendiri, tetapi bagi Dia yang memberikannya. Dalam hal ini manusia bukanlah makhluk yang gratis, artinya manusia bukan makhluk yang diciptakan tanpa tanggung jawab. Tetapi manusia memiliki tanggung jawab, yaitu mengabdi kepada Penciptanya.

Ketiga,sebagai mahluk yang segambar dengan Allah, manusia harus hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Manusia segambar dan serupa dengan diri Allah dimaksudkan agar manusia dapat mengimbangi Tuhan dan dapat menjadi teman interaksi-Nya. Itulah sebabnya menjadi kemutlakan agar manusia selalu hidup dalam kekudusan standar Allah sendiri. Inilah panggilan orang percaya yang harus dipenuhi. Banyak ayat Alkitab yang mengemukakan mengenai hal ini. Dalam 2 Korintus 6:17 tertulis: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Ayat ini jelas menunjukkan adanya tanggung jawab orang percaya untuk hidup dalam kesucian.

Di bagian lain dalam Alkitab tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1Ptr. 1:16-17). Allah Bapa menghendaki agar orang percaya yang adalah anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti kekudusan-Nya. Itulah sebabnya kita harus hidup dalam takut dan gentar artinya berhati-hati dalam seluruh sikap hidup kita, sebab sesungguhnya inilah maksud penebusan oleh darah Yesus itu (1Ptr. 1:18).

Dengan demikian menjadi kemutlakan orang percaya untuk berkapasitas dalam kesucian seperti Tuhan sendiri. Kalau manusia tidak berkualitas dalam kesucian seperti Tuhan, maka manusia tidak bisainteraksidengan Tuhan. Manusia diciptakan dengan kualitas istimewa karena memang dirancang untuk menjadi “sahabat Allah” atau teman berinteraksi-Nya. Jadi, kalau manusia tidak hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, maka ia mengkhianati Tuhan sebagai Penciptanya. Kalau orang tidak mengerti target ini, maka ia tidak akan pernah bekerja keras dalam merespon anugerah-Nya. Untuk mencapai goal tersebut, orang percaya harus merespon keselamatan Allah yang diberikan dalam Yesus Kristus. Respon itu harus serius, kerja keras dengan mempertaruhkan segenap hidup. Respon ini tidak bisa dikerjakan setengah-setengah. Orang percaya tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.